alexametrics
27.2 C
Madura
Thursday, June 30, 2022

Profesi Bukan Halangan untuk Menulis

SUMENEP – Profesi bukan halangan untuk menulis. Apalagi jika profesi tersebut dekat dengan dunia pendidikan seperti guru. Sebab, menulis dan membaca merupakan aktivitas keseharian tenaga pendidik. Minggu (4/3), Rumah Literasi Sumenep dan Forum Guru Penulis menggelar pelatihan menulis.

Pematerinya ialah Juwairiyah Mawardy. Perempuan kelahiran 25 Juni 1976 itu telah melahirkan banyak karya. Sajak, cerpen, dan esainya sudah dimuat di berbagai media dan buku. Dia merupakan salah seorang di antara 21 penulis yang karyanya dimuat dalam buku berjudul Tora; Setangkes Carpan Madura, terbitan Jawa Pos Radar Madura (JPRM), yang diluncurkan bulan ini.

Dalam kesempatan ini, Juwairiyah berbagi beberapa tips bagaimana cara menjadi seorang penulis di tengah aktivitas kesehariannya. Menurut dia, di setiap waktu sengganggnya, dia selalu menyempatkan diri untuk menulis. Selain menulis, Juwairiyah bisa menjalani perannya sebagai seorang ibu rumah tangga, istri, dan guru.

Baca Juga :  Peserta Antusias Ikuti Pelatihan Guru Menulis

Juwairiyah mengingatkan, aktivitas menulis tidak boleh meninggalkan kewajibannya. Bekerja, menjadi ibu, menjadi istri, harus dilakukan secara seimbang. Seorang penulis harus pintar membagi waktu. ”Sisakan waktu untuk menulis, tapi jangan dipaksa. Kalau bisa, libatkan keluarga juga. Saya selalu meminta pendapat kepada suami saya,” tuturnya.

Juwairiyah mengaku dirinya adalah perempuan keras kepala dalam hal menulis. Bagi dia, menulis adalah hal yang tidak mungkin bisa ditinggalkan meskipun dilarang. ”Selama ini saya selalu mendapat dukungan yang saya perlukan. Tapi kalaupun ada yang melarang, saya akan tetap menulis,” kata dia di depan para peserta.

Ketua Rumah Literasi Sumenep Lilik Rosida Irmawati menjelaskan, kegiatan itu adalah salah satu cara mereka untuk mengembangkan literasi di kalangan para guru. Saat ini sudah lebih dari 20 guru yang tergabung dalam Forum Guru Penulis di bawah naungan Rumah Literasi Sumenep.

Baca Juga :  Peserta Belajar Menulis Artikel di Media Massa

Dengan forum tersebut, para guru bisa saling bertukar informasi, saling memberikan masukan kepada sesama anggota mengenai tulisan dan mengadakan kajian. ”Kami mengadakan pelatihan seperti ini rutin setiap dua bulan sekali. Tujuanya, memberikan motivasi kepada para guru untuk menulis, membaca juga pastinya. Karena menulis tanpa membaca sama dengan hambar,” ucapnya.

 

 

 

 

SUMENEP – Profesi bukan halangan untuk menulis. Apalagi jika profesi tersebut dekat dengan dunia pendidikan seperti guru. Sebab, menulis dan membaca merupakan aktivitas keseharian tenaga pendidik. Minggu (4/3), Rumah Literasi Sumenep dan Forum Guru Penulis menggelar pelatihan menulis.

Pematerinya ialah Juwairiyah Mawardy. Perempuan kelahiran 25 Juni 1976 itu telah melahirkan banyak karya. Sajak, cerpen, dan esainya sudah dimuat di berbagai media dan buku. Dia merupakan salah seorang di antara 21 penulis yang karyanya dimuat dalam buku berjudul Tora; Setangkes Carpan Madura, terbitan Jawa Pos Radar Madura (JPRM), yang diluncurkan bulan ini.

Dalam kesempatan ini, Juwairiyah berbagi beberapa tips bagaimana cara menjadi seorang penulis di tengah aktivitas kesehariannya. Menurut dia, di setiap waktu sengganggnya, dia selalu menyempatkan diri untuk menulis. Selain menulis, Juwairiyah bisa menjalani perannya sebagai seorang ibu rumah tangga, istri, dan guru.

Baca Juga :  Ratusan Wisman Kunjungi Wisata Sumenep

Juwairiyah mengingatkan, aktivitas menulis tidak boleh meninggalkan kewajibannya. Bekerja, menjadi ibu, menjadi istri, harus dilakukan secara seimbang. Seorang penulis harus pintar membagi waktu. ”Sisakan waktu untuk menulis, tapi jangan dipaksa. Kalau bisa, libatkan keluarga juga. Saya selalu meminta pendapat kepada suami saya,” tuturnya.

Juwairiyah mengaku dirinya adalah perempuan keras kepala dalam hal menulis. Bagi dia, menulis adalah hal yang tidak mungkin bisa ditinggalkan meskipun dilarang. ”Selama ini saya selalu mendapat dukungan yang saya perlukan. Tapi kalaupun ada yang melarang, saya akan tetap menulis,” kata dia di depan para peserta.

Ketua Rumah Literasi Sumenep Lilik Rosida Irmawati menjelaskan, kegiatan itu adalah salah satu cara mereka untuk mengembangkan literasi di kalangan para guru. Saat ini sudah lebih dari 20 guru yang tergabung dalam Forum Guru Penulis di bawah naungan Rumah Literasi Sumenep.

Baca Juga :  Melecutkan Budaya Menulis dan Meneliti Guru

Dengan forum tersebut, para guru bisa saling bertukar informasi, saling memberikan masukan kepada sesama anggota mengenai tulisan dan mengadakan kajian. ”Kami mengadakan pelatihan seperti ini rutin setiap dua bulan sekali. Tujuanya, memberikan motivasi kepada para guru untuk menulis, membaca juga pastinya. Karena menulis tanpa membaca sama dengan hambar,” ucapnya.

 

 

 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/