alexametrics
21.4 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Berkunjung ke Pesantren, Ini Temuan Wagub Jatim tentang Covid-19

SUMENEP – Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berusaha menekan sebaran Covid-19. Salah satunya, mendengar dan melakukan pendekatan dengan pengasuh pondok pesantren.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak berkunjung ke beberapa pondok pesantren di Sumenep, Senin (2/8). Kunjungan itu merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memutus rantai persebaran Covid-19 dan mempercepat vaksinasi.

Kunjungan pertama yang dilakukan di Pondok Pesantren Darur Rahmah Pangarangan, Kecamatan Kota Sumenep. Di pesantren ini, Wagub Emil mendapat gambaran umum terkait kondisi di lapangan.

Menurut Emil, pondok pesantren dan tokoh agama mayoritas sudah sangat mendukung upaya pemerintah untuk menerapkan prokes dan mempercepat vaksinasi. 

Emil sempat berbincang dengan salah satu santri di Ponpes Darur Rahmah. Santri itu mengaku, 50 persen percaya dokter. Namun, dia lebih percaya kepada kiai. ”Kiai ini kan sudah divaksin, tetapi tetap saja orang tua santri takut anaknya divaksin,” tambahnya.

Emil mengungkapkan, Pemprov Jawa Timur senantiasa berusaha mendapat gambaran di lapangan sekaligus mencari masukan dari beberapa tokoh. ”Kami menemukan hal yang berbeda-beda dari satu titik ke titik yang lain,” ungkap Emil.

Baca Juga :  Buka Opsi Sewa Helikopter Distribusi Logistik

Wagub Emil mengakui, kepatuhan prokes dan vaksinasi masyarakat memang masih perlu diperbaiki. Tapi dia memastikan, kondisi di lapangan tidak seekstrem informasi yang berkembang, yang menyatakan bahwa kebanyakan tokoh diasumsikan tidak mendukung prokes dan vaksinasi.

Dari kunjungan itu, Emil mendapatkan informasi bahwa pengasuh pondok pesantren maupun pengajarnya sudah divaksin. Kendala terbesar ada pada masyarakat sendiri yang tidak mengizinkan anaknya untuk divaksin.

Kunjungan berikutnya ke Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Kepanjin, Kecamatan Kota Sumenep. Wagub Emil menyebut perlunya strategi komunikasi yang jelas dan tepercaya guna meningkatkan kepercayaan masyarakat.

Dia menegaskan, hoaks kalau divaksin bisa meninggal. Ini menjadi tantangan bersama agar masyarakat mendapat informasi yang baik dan benar untuk mendorong minat vaksinasi. 

”Kita tidak mungkin untuk memaksa orang yang takut. Alangkah lebih baik kalau kita memberikan penjelasan yang lebih bisa dipercaya,” jelas mantan pengurus PCI NU Jepang ini.

Baca Juga :  Pengembangan Taman Kowel Buram

Memberikan penjelasan ini merupakan upaya mendasar yang harus dilakukan. Sosialisasi ini akan membantu kepala desa mengatasi kesulitan dalam memberi penjelasan kepada warganya.

Dari Mathali’ul Anwar, Wagub melanjutkan ke Pondok Pesantren Ash-Shofwah Al-Malikiyyah. Di pesantren ini Wagub Emil mendapat masukan terkait pemulasaraan jenazah.

”Ada yang mendasar lagi, yaitu terkait adanya anggapan bahwa kalau meninggal karena Covid-19 itu tidak disalatkan, sehingga penting adanya perwakilan keluarga yang menggunakan APD untuk menyaksikan pemulasaraan jenazah,” jelasnya.

Emil menambahkan, fungsi fasilitas kesehatan terdekat perlu dimaksimalkan untuk membantu mendeteksi keluhan masyarakat agar sadar dulu terhadap kondisi kesehatan masing-masing. Selain itu, agar masyarakat memahami apakah ada potensi komorbid atau tidak.

Upaya ini akan mengurangi ketakutan masyarakat untuk memeriksakan kesehatan dirinya sekaligus menjadi pintu masuk bagi tenaga kesehatan tingkat desa.

”Kita harus mengapresiasi upaya dari tokoh-tokoh agama yang sudah berusaha memberikan teladan, tetapi kita juga harus melakukan berbagai hal untuk meng-counter hoaks,” ungkapnya. (*/luq)

- Advertisement -

SUMENEP – Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berusaha menekan sebaran Covid-19. Salah satunya, mendengar dan melakukan pendekatan dengan pengasuh pondok pesantren.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak berkunjung ke beberapa pondok pesantren di Sumenep, Senin (2/8). Kunjungan itu merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memutus rantai persebaran Covid-19 dan mempercepat vaksinasi.

Kunjungan pertama yang dilakukan di Pondok Pesantren Darur Rahmah Pangarangan, Kecamatan Kota Sumenep. Di pesantren ini, Wagub Emil mendapat gambaran umum terkait kondisi di lapangan.


Menurut Emil, pondok pesantren dan tokoh agama mayoritas sudah sangat mendukung upaya pemerintah untuk menerapkan prokes dan mempercepat vaksinasi. 

Emil sempat berbincang dengan salah satu santri di Ponpes Darur Rahmah. Santri itu mengaku, 50 persen percaya dokter. Namun, dia lebih percaya kepada kiai. ”Kiai ini kan sudah divaksin, tetapi tetap saja orang tua santri takut anaknya divaksin,” tambahnya.

Emil mengungkapkan, Pemprov Jawa Timur senantiasa berusaha mendapat gambaran di lapangan sekaligus mencari masukan dari beberapa tokoh. ”Kami menemukan hal yang berbeda-beda dari satu titik ke titik yang lain,” ungkap Emil.

Baca Juga :  Disiplin 3M Sama Pentingnya dengan Vaksin

Wagub Emil mengakui, kepatuhan prokes dan vaksinasi masyarakat memang masih perlu diperbaiki. Tapi dia memastikan, kondisi di lapangan tidak seekstrem informasi yang berkembang, yang menyatakan bahwa kebanyakan tokoh diasumsikan tidak mendukung prokes dan vaksinasi.

Dari kunjungan itu, Emil mendapatkan informasi bahwa pengasuh pondok pesantren maupun pengajarnya sudah divaksin. Kendala terbesar ada pada masyarakat sendiri yang tidak mengizinkan anaknya untuk divaksin.

Kunjungan berikutnya ke Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Kepanjin, Kecamatan Kota Sumenep. Wagub Emil menyebut perlunya strategi komunikasi yang jelas dan tepercaya guna meningkatkan kepercayaan masyarakat.

Dia menegaskan, hoaks kalau divaksin bisa meninggal. Ini menjadi tantangan bersama agar masyarakat mendapat informasi yang baik dan benar untuk mendorong minat vaksinasi. 

”Kita tidak mungkin untuk memaksa orang yang takut. Alangkah lebih baik kalau kita memberikan penjelasan yang lebih bisa dipercaya,” jelas mantan pengurus PCI NU Jepang ini.

Baca Juga :  Pengembangan Taman Kowel Buram

Memberikan penjelasan ini merupakan upaya mendasar yang harus dilakukan. Sosialisasi ini akan membantu kepala desa mengatasi kesulitan dalam memberi penjelasan kepada warganya.

Dari Mathali’ul Anwar, Wagub melanjutkan ke Pondok Pesantren Ash-Shofwah Al-Malikiyyah. Di pesantren ini Wagub Emil mendapat masukan terkait pemulasaraan jenazah.

”Ada yang mendasar lagi, yaitu terkait adanya anggapan bahwa kalau meninggal karena Covid-19 itu tidak disalatkan, sehingga penting adanya perwakilan keluarga yang menggunakan APD untuk menyaksikan pemulasaraan jenazah,” jelasnya.

Emil menambahkan, fungsi fasilitas kesehatan terdekat perlu dimaksimalkan untuk membantu mendeteksi keluhan masyarakat agar sadar dulu terhadap kondisi kesehatan masing-masing. Selain itu, agar masyarakat memahami apakah ada potensi komorbid atau tidak.

Upaya ini akan mengurangi ketakutan masyarakat untuk memeriksakan kesehatan dirinya sekaligus menjadi pintu masuk bagi tenaga kesehatan tingkat desa.

”Kita harus mengapresiasi upaya dari tokoh-tokoh agama yang sudah berusaha memberikan teladan, tetapi kita juga harus melakukan berbagai hal untuk meng-counter hoaks,” ungkapnya. (*/luq)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/