alexametrics
29.4 C
Madura
Friday, August 12, 2022

Delapan Tahun Baru Tuntas Perbaiki Sekolah Rusak

SUMENEP – Dana alokasi khusus (DAK) bidang pendidikan di Sumenep tahun ini mencapai Rp 22,5 miliar untuk sekolah. Perinciannya, DAK tingkat sekolah dasar (SD) Rp 16 miliar dan untuk tingkat SMP Rp 6,5 miliar.

Total SMP di Bumi Sumekar sebanyak 173 lembaga. Terdiri dari 43 SMP negeri dan 130 SMP swasta. Penerima dana perbaikan gedung jenjang SMP tahun ini berjumlah 47 lembaga. Sebanyak 33 gedung sekolah mengalami kerusakan berat.

Jumlah SD 645 lembaga, baik negeri dan swasta. Perinciannya, 580 lembaga negeri dan 65 lembaga swasta. Tapi, kondisi gedung sekolah yang rusak tidak sampai 40 persen dari jumlah sekolah keseluruhan.

Kabid Pembinaan SMP Disdik Sumenep Moh. Iksan mengatakan, DAK Rp 6,5 miliar yang diluncurkan tahun ini untuk memperbaiki sekolah rusak. ”Dana yang dibutuhkan lebih dari itu. Hanya, dana yang disediakan oleh pemerintah pusat hanya angka tersebut,” terangnya, Selasa (1/5).

Iksan menambahkan, lokasi sekolah rusak hampir di seluruh kecamatan. Namun, paling banyak di wilayah kepulauan. Pihaknya ingin menginstruksikan supaya konstruksi bangunan diganti dengan bahan yang lebih kuat supaya bangunan kukuh dan awet.

Baca Juga :  Pelabuhan Kalianget–Talango, Kecipratan Berkah Asta Sayyid Yusuf

”Seperti kusennya menggunakan aluminium. Supaya keawetan konstruksi bangunan sekolah tersebut lebih terjamin,” tegasnya.

Tahun ini anggaran Rp 18 miliar sudah disiapkan pemerintah pusat. Tahun 2019 membutuhkan Rp 27 miliar. Kemudian, 2020 agak ringan karena menggunakan konstruksi awet. ”Prediksi kami membutuhkan waktu 7–8 tahun lagi. Karena satu dibangun, satunya rusak. Jadi tidak selesai-selesai,” ujarnya.

Maka dari itu, untuk bisa tuntas pada tahun yang ditentukan, standar kualitas bangunan harus tinggi. Selain itu juga dikerjakan oleh orang-orang yang jujur dan  mengerti konstruksi. ”Nantinya bisa mengesampingkan yang namanya kecurangan,” tegasnya.

Anggaran yang dibutuhkan dalam rehabilitasi gedung rusak untuk tingkat SMP kira-kra Rp 21,2 miliar. Dengan asumsi perhitungan SMPN daratan dan kepulauan yang rusak berjumlah 21 lembaga. Masing-masing lembaga membutuhkan dana Rp 600 juta. Jumlah keseluruhan Rp 12,6 miliar. Sedangkan SMP swasta 42 lembaga masing-masing Rp 200 juta. Jumlah total Rp 8,6 miliar.

Baca Juga :  Jaga Semangat Siswa Kepulauan, Disdik Apresiasi Peran Guru

Kabid Pembinaan SD Disdik Sumenep Fajarisman mengatakan, jumlah sekolah dasar negeri 580 lembaga dan 65 sekolah swasta. Dari jumlah 645 lembaga itu tidak sampai 40 persen yang kondisi gedungnya rusak. ”Tahun ini ada rehab ringan, sedang, dan berat. Ada beberapa kecamatan sudah bagus semua,” ucapnya.

”Seperti Kecamatan Talango, Kalianget, Saronggi, dan Manding. Meskipun tahun ini ada sebagian sekolah ada perbaikan,” imbuhnya.

Fajar menegaskan, sekolah yang mengalami rusak berat tidak banyak. Sekitar 30 lembaga. Puluhan sekolah itu tersebar di pulau. Prediksi penyelesaian sekolah sesuai rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD), tahun pelajaran 2019–2020 sudah tuntas. Artinya, tidak ada perbaikan rusak berat lagi.

”Kalau perbaikan rehab sedang dan ringan ada. Semuanya sudah tertangani dengan baik yang rusak berat. Prediksi dana yang dibutuhkan supaya sekolah mengalami kerusakan tuntas sekitar Rp 50 miliar,” pungkasnya.

SUMENEP – Dana alokasi khusus (DAK) bidang pendidikan di Sumenep tahun ini mencapai Rp 22,5 miliar untuk sekolah. Perinciannya, DAK tingkat sekolah dasar (SD) Rp 16 miliar dan untuk tingkat SMP Rp 6,5 miliar.

Total SMP di Bumi Sumekar sebanyak 173 lembaga. Terdiri dari 43 SMP negeri dan 130 SMP swasta. Penerima dana perbaikan gedung jenjang SMP tahun ini berjumlah 47 lembaga. Sebanyak 33 gedung sekolah mengalami kerusakan berat.

Jumlah SD 645 lembaga, baik negeri dan swasta. Perinciannya, 580 lembaga negeri dan 65 lembaga swasta. Tapi, kondisi gedung sekolah yang rusak tidak sampai 40 persen dari jumlah sekolah keseluruhan.


Kabid Pembinaan SMP Disdik Sumenep Moh. Iksan mengatakan, DAK Rp 6,5 miliar yang diluncurkan tahun ini untuk memperbaiki sekolah rusak. ”Dana yang dibutuhkan lebih dari itu. Hanya, dana yang disediakan oleh pemerintah pusat hanya angka tersebut,” terangnya, Selasa (1/5).

Iksan menambahkan, lokasi sekolah rusak hampir di seluruh kecamatan. Namun, paling banyak di wilayah kepulauan. Pihaknya ingin menginstruksikan supaya konstruksi bangunan diganti dengan bahan yang lebih kuat supaya bangunan kukuh dan awet.

Baca Juga :  Garam Madura Banyak Premium

”Seperti kusennya menggunakan aluminium. Supaya keawetan konstruksi bangunan sekolah tersebut lebih terjamin,” tegasnya.

Tahun ini anggaran Rp 18 miliar sudah disiapkan pemerintah pusat. Tahun 2019 membutuhkan Rp 27 miliar. Kemudian, 2020 agak ringan karena menggunakan konstruksi awet. ”Prediksi kami membutuhkan waktu 7–8 tahun lagi. Karena satu dibangun, satunya rusak. Jadi tidak selesai-selesai,” ujarnya.

Maka dari itu, untuk bisa tuntas pada tahun yang ditentukan, standar kualitas bangunan harus tinggi. Selain itu juga dikerjakan oleh orang-orang yang jujur dan  mengerti konstruksi. ”Nantinya bisa mengesampingkan yang namanya kecurangan,” tegasnya.

Anggaran yang dibutuhkan dalam rehabilitasi gedung rusak untuk tingkat SMP kira-kra Rp 21,2 miliar. Dengan asumsi perhitungan SMPN daratan dan kepulauan yang rusak berjumlah 21 lembaga. Masing-masing lembaga membutuhkan dana Rp 600 juta. Jumlah keseluruhan Rp 12,6 miliar. Sedangkan SMP swasta 42 lembaga masing-masing Rp 200 juta. Jumlah total Rp 8,6 miliar.

Baca Juga :  SMP/MTs Belum Seratus Persen UNBK

Kabid Pembinaan SD Disdik Sumenep Fajarisman mengatakan, jumlah sekolah dasar negeri 580 lembaga dan 65 sekolah swasta. Dari jumlah 645 lembaga itu tidak sampai 40 persen yang kondisi gedungnya rusak. ”Tahun ini ada rehab ringan, sedang, dan berat. Ada beberapa kecamatan sudah bagus semua,” ucapnya.

”Seperti Kecamatan Talango, Kalianget, Saronggi, dan Manding. Meskipun tahun ini ada sebagian sekolah ada perbaikan,” imbuhnya.

Fajar menegaskan, sekolah yang mengalami rusak berat tidak banyak. Sekitar 30 lembaga. Puluhan sekolah itu tersebar di pulau. Prediksi penyelesaian sekolah sesuai rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD), tahun pelajaran 2019–2020 sudah tuntas. Artinya, tidak ada perbaikan rusak berat lagi.

”Kalau perbaikan rehab sedang dan ringan ada. Semuanya sudah tertangani dengan baik yang rusak berat. Prediksi dana yang dibutuhkan supaya sekolah mengalami kerusakan tuntas sekitar Rp 50 miliar,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/