alexametrics
26.2 C
Madura
Saturday, July 2, 2022

Pohon Cemara Roboh Akibat Abrasi

SUMENEP – Puluhan pohon cemara di Pulau Gili Labak mati akibat abrasi. Pohon dengan nama latin genus casuarina itu roboh akibat abrasi yang kian besar.

Sedikitnya 17 batang pohon cemara tercabut dari tanah. Sebagian pohon cemara mengering dan sebagian lagi masih hijau.

Fadil, warga Pulau Gili Labak, Kecamatan Talango, Sumenep, mengatakan, abrasi hampir mencapai gubuk-gubuk yang digunakan nelayan untuk menyimpan jaring. ”Padahal, dulu jarak gubuk ke bibir pantai, jauh. Sekarang sudah dekat,” katanya.

Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kecamatan Saronggi Maskur mengatakan, abrasi semakin meluas karena naiknya permukaan laut. Abrasi juga disebabkan penebangan pohon sehingga tidak ada penahan angin dari laut.

Baca Juga :  Tebang Pohon Kelapa, Tiang Listrik Roboh

”Ombak itu terbawa angin. Kalau tidak ada pohon, angin lebih cepat berembus ke daratan. Jadi, pemangkasan pohon di pinggir pantai itu tidak dibenarkan,” ungkapnya.

Sayangnya, sampai saat ini Pemkab Sumenep belum memiliki program untuk menangani masalah abrasi. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep Syahrial mengaku tidak memiliki program untuk menangani abrasi.

”Kami memang tidak memiliki program khusus untuk menangani abrasi. Kemungkinan dinas lain ada,” katanya Minggu (30/9).

Dia menyarankan, abrasi di Pulau Gili Labak ditangani pemerintah desa menggunakan dana desa atau anggaran dana desa (DD/ADD). Selain itu, masyarakat berperan dalam meminimalkan membesarnya abrasi dengan cara menanam pohon bakau.

”Kalau semua ditangani pemkab, repot juga. Dana pemkab terbatas. Jadi, lebih baik kalau kondisinya memang sudah darurat gunakan saja dana desa untuk mengatasi permasalahan ini,” pungkasnya.

Baca Juga :  Kepala Dinas Kesehatan Mengaku Masih Cari Penyebab

SUMENEP – Puluhan pohon cemara di Pulau Gili Labak mati akibat abrasi. Pohon dengan nama latin genus casuarina itu roboh akibat abrasi yang kian besar.

Sedikitnya 17 batang pohon cemara tercabut dari tanah. Sebagian pohon cemara mengering dan sebagian lagi masih hijau.

Fadil, warga Pulau Gili Labak, Kecamatan Talango, Sumenep, mengatakan, abrasi hampir mencapai gubuk-gubuk yang digunakan nelayan untuk menyimpan jaring. ”Padahal, dulu jarak gubuk ke bibir pantai, jauh. Sekarang sudah dekat,” katanya.


Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kecamatan Saronggi Maskur mengatakan, abrasi semakin meluas karena naiknya permukaan laut. Abrasi juga disebabkan penebangan pohon sehingga tidak ada penahan angin dari laut.

Baca Juga :  Kepala Dinas Kesehatan Mengaku Masih Cari Penyebab

”Ombak itu terbawa angin. Kalau tidak ada pohon, angin lebih cepat berembus ke daratan. Jadi, pemangkasan pohon di pinggir pantai itu tidak dibenarkan,” ungkapnya.

Sayangnya, sampai saat ini Pemkab Sumenep belum memiliki program untuk menangani masalah abrasi. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep Syahrial mengaku tidak memiliki program untuk menangani abrasi.

”Kami memang tidak memiliki program khusus untuk menangani abrasi. Kemungkinan dinas lain ada,” katanya Minggu (30/9).

Dia menyarankan, abrasi di Pulau Gili Labak ditangani pemerintah desa menggunakan dana desa atau anggaran dana desa (DD/ADD). Selain itu, masyarakat berperan dalam meminimalkan membesarnya abrasi dengan cara menanam pohon bakau.

”Kalau semua ditangani pemkab, repot juga. Dana pemkab terbatas. Jadi, lebih baik kalau kondisinya memang sudah darurat gunakan saja dana desa untuk mengatasi permasalahan ini,” pungkasnya.

Baca Juga :  Proyek Puskesmas Torjun Ambruk
- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/