alexametrics
21.1 C
Madura
Wednesday, July 6, 2022

Empat Bulan 14 Balita Sumenep Gizi Buruk

SUMENEP – Sumenep belum bebas gizi buruk. Selama enam tahun terakhir terdapat 163 kasus bayi di bawah lima tahun (balita) menjadi penderita. Tahun ini sejak Januari hingga April saja dinas kesehatan (dinkes) mencatat ada 14 kasus.

Data Bidang Kesejahteraan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Sumenep menyebutkan, pada 2013 dan 2014 masing-masing terdapat 40 kasus. Kemudian, pada 2015 ada 23 kasus, 31 kasus terjadi pada 2016. Sedangkan selama 2017 terdapat 15 kasus. Namun, ratusan kasus tersebut belum termasuk data penderita di atas lima tahun.

Di Kecamatan Gapura saja setidaknya ada enam penderita. Dua di antaranya merupakan balita. Mereka adalah Moh. Khoirul Mufid Fahmi, kelahiran September 2013. Warga Kampung Palegin, Desa Grujugan. Balita lainnya adalah Abd. Jalil, 17 bulan, warga Desa Longos dengan berat 5 kilogram. Juga Asyari, 18 bulan, warga Grujugan dengan berat 7 kilogram.

Di Desa Longos juga ada dua bersaudara yang sama-sama menderita gizi buruk. Mereka adalah Suparyanto, 25, dan Iwan, 21. Penderita gizi buruk di atas lima tahun juga ditemukan di Desa Andulang. Yakni, Asrur Rofiqi, 11 tahun, dengan berat 13 kilogram.

Sumiyati, 70, nenek Suparyanto dan Iwan mengatakan, masalah kesehatan kedua cucunya merupakan bawaan sejak lahir. Pada saat bayi ketika dikasih minum usai makan muntah-muntah. Berbagai macam pengobatan dilakukan. Akan tetapi, kondisinya belum ada perubahan.

”Orang tuanya yang perempuan sudah meninggal. Kalau ayahnya, Nahrawi, terkadang ke sini menjenguk,” ucapnya. Perempuan yang sehari-hari berdagang itu menambahkan, segala aktivitas dilakukan di atas lincak. Mulai makan, mandi, serta buang air kecil dan besar.

Baca Juga :  Disapu Angin dan Dihantam Ombak, Perahu Nelayan Pasongsongan Karam

Sebelum berjualan, perempuan 70 tahun itu membereskan kedua cucunya terlebih dahulu. Setelah itu hanya dipantau. ”Sudah dibawa berobat ke puskesmas dan rumah sakit. Kalau dari puskesmas ke sini hanya dulu. Baru-baru ini ada. Cuma tanya-tanya saja,” jelasnya.

Kabid Kesmas Dinkes Sumenep Kusmawati mengatakan, pihaknya sudah melakukan upaya menangani penderita gizi buruk. Misalnya, mendatangi langsung ke lapangan. Menurutnya, Moh. Khoirul Mufid Fahmi penderita gizi buruk ada kelainan di otak serta gangguan pada jantung.

Selain itu,pihaknya memberikan pelayanan seperti mengantarkan ke rumah sakit.Bahkan sempat dirujuk ke Surabaya.Selama dirujuk ke Kota Pahlawan,pihaknya memberikan bantuan susu.Menurut dokter yang menangani, meksipun dioperasi bisa sembuh ataumeninggal dunia. ”Karena fifty-fifty, akhirnya dibawa pulang setelah rawat inap,” terangnya Jumat (1/6).

Istri ketua DPRD Sumenep Herman Dali Kusuma itu menambahkan, kelainan di otak Fahmi memang gangguan sejak lahir. Sehingga sulit untuk diobati. Namun, kata dia, seandainya murni mengidap penyakit gizi buruk mungkin bisa disembuhkan. ”Insyaallah seandainya tidak ada penyakit penyerta (komplikasi) cepat sehat orangnya,” ujarnya.

Penderita gizi buruk di Kecamatan Gapura, lanjut dia, komplikasi down syndrome. Ada kelainan pada organ lain si penderita. Dengan demikian, pihaknya tidak bisa memberikan pelayanan maksimal untuk proses penyembuhan. ”Meskipun diobati tidak akan bisa. Penderita yang ada kelainan ini misalnya kaki kaku tidak bisa digerakkan,” paparnya.

Baca Juga :  DPRD Sampaikan Hasil Reses Ketiga

Pihaknya tidak hanya keliling melihat penderita gizi buruk ke lokasi. Mereka juga dipantau petugas puskesmas. Selain dikasih susu, juga diberi bantuan sosial. Bagian Kesmas hanya menangani penderita gizi buruk lima tahun ke bawah. ”Maksimal umur tujuh tahun. Jika umurnya sudah lebih, bukan bidang saya. Tapi ada di bidang lain,” jelasnya.

Meskin banyak penderita gizi buruk, Kusmawati menyatakan tidak ada anggaran khusus meskipun ada pendampingan untuk mereka. Bahkan untuk anggaran bantuan susu saja juga tidak ada.

”Tapi di masing-masing puskesmas ada anggaran bantuan operasional kesehatan (BOK).Anggaran itu untuk balita yang ada masalah,” jelasnya.

Anggaran BOK tiap puskesmas tidak menentu. Tergantung dari banyaknya kasus dan ada tidaknya kasus. Jika memang ada kasus, anggaran itu digunakan untuk gizi buruk. Kalau tidak ada kasus, digunakan untuk pemberian tambahan makanan lainnya secara umum.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sumenep Abrari mengatakan, bukan alasan tidak ada anggaran dinkes untuk menangani gizi buruk. Menangani mereka karena faktor kemanusiaan. ”Urusan kemanusiaan didahulukan. Apalagi ini terkait gizi buruk,” katanya.

SUMENEP – Sumenep belum bebas gizi buruk. Selama enam tahun terakhir terdapat 163 kasus bayi di bawah lima tahun (balita) menjadi penderita. Tahun ini sejak Januari hingga April saja dinas kesehatan (dinkes) mencatat ada 14 kasus.

Data Bidang Kesejahteraan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Sumenep menyebutkan, pada 2013 dan 2014 masing-masing terdapat 40 kasus. Kemudian, pada 2015 ada 23 kasus, 31 kasus terjadi pada 2016. Sedangkan selama 2017 terdapat 15 kasus. Namun, ratusan kasus tersebut belum termasuk data penderita di atas lima tahun.

Di Kecamatan Gapura saja setidaknya ada enam penderita. Dua di antaranya merupakan balita. Mereka adalah Moh. Khoirul Mufid Fahmi, kelahiran September 2013. Warga Kampung Palegin, Desa Grujugan. Balita lainnya adalah Abd. Jalil, 17 bulan, warga Desa Longos dengan berat 5 kilogram. Juga Asyari, 18 bulan, warga Grujugan dengan berat 7 kilogram.


Di Desa Longos juga ada dua bersaudara yang sama-sama menderita gizi buruk. Mereka adalah Suparyanto, 25, dan Iwan, 21. Penderita gizi buruk di atas lima tahun juga ditemukan di Desa Andulang. Yakni, Asrur Rofiqi, 11 tahun, dengan berat 13 kilogram.

Sumiyati, 70, nenek Suparyanto dan Iwan mengatakan, masalah kesehatan kedua cucunya merupakan bawaan sejak lahir. Pada saat bayi ketika dikasih minum usai makan muntah-muntah. Berbagai macam pengobatan dilakukan. Akan tetapi, kondisinya belum ada perubahan.

”Orang tuanya yang perempuan sudah meninggal. Kalau ayahnya, Nahrawi, terkadang ke sini menjenguk,” ucapnya. Perempuan yang sehari-hari berdagang itu menambahkan, segala aktivitas dilakukan di atas lincak. Mulai makan, mandi, serta buang air kecil dan besar.

Baca Juga :  Pembangunan RS Kangean Digerojok Rp 4,8 Miliar

Sebelum berjualan, perempuan 70 tahun itu membereskan kedua cucunya terlebih dahulu. Setelah itu hanya dipantau. ”Sudah dibawa berobat ke puskesmas dan rumah sakit. Kalau dari puskesmas ke sini hanya dulu. Baru-baru ini ada. Cuma tanya-tanya saja,” jelasnya.

Kabid Kesmas Dinkes Sumenep Kusmawati mengatakan, pihaknya sudah melakukan upaya menangani penderita gizi buruk. Misalnya, mendatangi langsung ke lapangan. Menurutnya, Moh. Khoirul Mufid Fahmi penderita gizi buruk ada kelainan di otak serta gangguan pada jantung.

Selain itu,pihaknya memberikan pelayanan seperti mengantarkan ke rumah sakit.Bahkan sempat dirujuk ke Surabaya.Selama dirujuk ke Kota Pahlawan,pihaknya memberikan bantuan susu.Menurut dokter yang menangani, meksipun dioperasi bisa sembuh ataumeninggal dunia. ”Karena fifty-fifty, akhirnya dibawa pulang setelah rawat inap,” terangnya Jumat (1/6).

Istri ketua DPRD Sumenep Herman Dali Kusuma itu menambahkan, kelainan di otak Fahmi memang gangguan sejak lahir. Sehingga sulit untuk diobati. Namun, kata dia, seandainya murni mengidap penyakit gizi buruk mungkin bisa disembuhkan. ”Insyaallah seandainya tidak ada penyakit penyerta (komplikasi) cepat sehat orangnya,” ujarnya.

Penderita gizi buruk di Kecamatan Gapura, lanjut dia, komplikasi down syndrome. Ada kelainan pada organ lain si penderita. Dengan demikian, pihaknya tidak bisa memberikan pelayanan maksimal untuk proses penyembuhan. ”Meskipun diobati tidak akan bisa. Penderita yang ada kelainan ini misalnya kaki kaku tidak bisa digerakkan,” paparnya.

Baca Juga :  Warga Pulau Raas Disuruh Kejar ke Pulau Sapudi

Pihaknya tidak hanya keliling melihat penderita gizi buruk ke lokasi. Mereka juga dipantau petugas puskesmas. Selain dikasih susu, juga diberi bantuan sosial. Bagian Kesmas hanya menangani penderita gizi buruk lima tahun ke bawah. ”Maksimal umur tujuh tahun. Jika umurnya sudah lebih, bukan bidang saya. Tapi ada di bidang lain,” jelasnya.

Meskin banyak penderita gizi buruk, Kusmawati menyatakan tidak ada anggaran khusus meskipun ada pendampingan untuk mereka. Bahkan untuk anggaran bantuan susu saja juga tidak ada.

”Tapi di masing-masing puskesmas ada anggaran bantuan operasional kesehatan (BOK).Anggaran itu untuk balita yang ada masalah,” jelasnya.

Anggaran BOK tiap puskesmas tidak menentu. Tergantung dari banyaknya kasus dan ada tidaknya kasus. Jika memang ada kasus, anggaran itu digunakan untuk gizi buruk. Kalau tidak ada kasus, digunakan untuk pemberian tambahan makanan lainnya secara umum.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sumenep Abrari mengatakan, bukan alasan tidak ada anggaran dinkes untuk menangani gizi buruk. Menangani mereka karena faktor kemanusiaan. ”Urusan kemanusiaan didahulukan. Apalagi ini terkait gizi buruk,” katanya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/