alexametrics
27.2 C
Madura
Thursday, June 30, 2022

Warga Pagerungan Besar Keluhkan Penerangan

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Aliran listrik masih menjadi permasalahan warga. Tak hanya di Desa Sepanjang, masyarakat Desa Pagerungan Besar juga mengeluhkan hal serupa. Bertahun-tahun penduduk Pulau Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, menikmati listrik dari PT Kangean Energy Indonesia (KEI).

Saat ini, penerangan dari perusahaan minyak dan gas bumi (migas) itu dikeluhkan. Sebab, daya yang disediakan oleh perusahaan tidak bisa memenuhi kebutuhan listrik penduduk Pagerungan Besar. Perusahaan tidak mampu menyalurkan listrik ke seluruh masyarakat secara bersamaan.

Ahmad Fauzi, warga Desa Pagerungan Besar, mengungkapkan, warga harus menikmati listrik secara bergantian. Dia mengakui, aliran listrik memang sudah ada dari KEI. Tapi, subsidi dari perusahaan tidak berbanding lurus dengan jumlah penduduk pengguna listrik.

Baca Juga :  Butuh 4.800 Bilik Suara Pilgub Jatim di Sumenep

Warga yang menggunakan listrik kian meningkat. Tetapi, daya listrik tidak ditambah. ”Yang terjadi di lapangan, penggunaan listrik diberlakukan sistem bergantian. Karena kalau pemakaian diberlakukan secara serentak, satu desa akan mati total,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Listrik masuk ke Desa Pagerungan Besar sekitar 1994 setelah perusahaan diresmikan. Jumlah penduduk semakin lama kian meningkat. Akibatnya, penggunaan listrik secara bergantian dimulai sekitar 2007 hingga sekarang.

”Awal perusahaan masuk ke desa memang subsidi listrik dapat digunakan secara serentak. Tapi, dalam beberapa tahun terakhir sudah tidak bisa karena jumlah penduduk yang mengonsumsi listrik semakin banyak,” keluhnya.

Dia berharap ada bantuan dari pemerintah daerah untuk penyediaan pembangkit listrik. Dengan demikian, warga bisa menikmati listrik sesuai kebutuhan tanpa harus menunggu atau bergiliran. Listrik yang disediakan PT KEI masih berbayar. Tetapi, keuangan dikelola oleh badan usaha kelistrikan desa.

Baca Juga :  Dua Tiang Tumbang Sebabkan Listrik Padam

”Pemerintah desa mengeluarkan kebijakan per rumah dijatah lebih kurang 2 ampere per bulan. Biaya per ampere lebih kurang Rp 6.500,” imbuhnya. Pendapatan tersebut menjadi pemasukan desa.

Manajer PT PLN (Persero) ULP Kepulauan Kangayan Muhammad Daan Agung Lazuardi tidak menampik listrik di Desa Pagerungan Besar dari PT KEI. Pulau tersebut tidak masuk pada pembangunan pembangkit listrik dari PLN. Sebab, yang diutamakan desa kepulauan yang belum ada listrik sama sekali.

”Pagerungan Besar tidak masuk pada 23 pulau yang dilakukan pembangunan pembangkit listrik,” terangnya. (mi)

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Aliran listrik masih menjadi permasalahan warga. Tak hanya di Desa Sepanjang, masyarakat Desa Pagerungan Besar juga mengeluhkan hal serupa. Bertahun-tahun penduduk Pulau Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, menikmati listrik dari PT Kangean Energy Indonesia (KEI).

Saat ini, penerangan dari perusahaan minyak dan gas bumi (migas) itu dikeluhkan. Sebab, daya yang disediakan oleh perusahaan tidak bisa memenuhi kebutuhan listrik penduduk Pagerungan Besar. Perusahaan tidak mampu menyalurkan listrik ke seluruh masyarakat secara bersamaan.

Ahmad Fauzi, warga Desa Pagerungan Besar, mengungkapkan, warga harus menikmati listrik secara bergantian. Dia mengakui, aliran listrik memang sudah ada dari KEI. Tapi, subsidi dari perusahaan tidak berbanding lurus dengan jumlah penduduk pengguna listrik.

Baca Juga :  Nelayan Mengeluh Perairan Kepulauan Minim Pengawasan

Warga yang menggunakan listrik kian meningkat. Tetapi, daya listrik tidak ditambah. ”Yang terjadi di lapangan, penggunaan listrik diberlakukan sistem bergantian. Karena kalau pemakaian diberlakukan secara serentak, satu desa akan mati total,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Listrik masuk ke Desa Pagerungan Besar sekitar 1994 setelah perusahaan diresmikan. Jumlah penduduk semakin lama kian meningkat. Akibatnya, penggunaan listrik secara bergantian dimulai sekitar 2007 hingga sekarang.

”Awal perusahaan masuk ke desa memang subsidi listrik dapat digunakan secara serentak. Tapi, dalam beberapa tahun terakhir sudah tidak bisa karena jumlah penduduk yang mengonsumsi listrik semakin banyak,” keluhnya.

Dia berharap ada bantuan dari pemerintah daerah untuk penyediaan pembangkit listrik. Dengan demikian, warga bisa menikmati listrik sesuai kebutuhan tanpa harus menunggu atau bergiliran. Listrik yang disediakan PT KEI masih berbayar. Tetapi, keuangan dikelola oleh badan usaha kelistrikan desa.

Baca Juga :  Ditanya Kapan Bantu Materil Bangunan, Ini Penjelasan BPBD Sumenep

”Pemerintah desa mengeluarkan kebijakan per rumah dijatah lebih kurang 2 ampere per bulan. Biaya per ampere lebih kurang Rp 6.500,” imbuhnya. Pendapatan tersebut menjadi pemasukan desa.

Manajer PT PLN (Persero) ULP Kepulauan Kangayan Muhammad Daan Agung Lazuardi tidak menampik listrik di Desa Pagerungan Besar dari PT KEI. Pulau tersebut tidak masuk pada pembangunan pembangkit listrik dari PLN. Sebab, yang diutamakan desa kepulauan yang belum ada listrik sama sekali.

”Pagerungan Besar tidak masuk pada 23 pulau yang dilakukan pembangunan pembangkit listrik,” terangnya. (mi)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Puisi Madura Hasmidi

Surat Buat Guruku

Artikel Terbaru

/