alexametrics
26.1 C
Madura
Wednesday, July 6, 2022

Pohon Cemara Roboh Akibat Abrasi

SUMENEP – Puluhan pohon cemara di Pulau Gili Labak mati akibat abrasi. Pohon dengan nama latin genus casuarina itu roboh akibat abrasi yang kian besar.

Sedikitnya 17 batang pohon cemara tercabut dari tanah. Sebagian pohon cemara mengering dan sebagian lagi masih terlihat hijau.

Fadil, warga Pulau Gili Labak, Kecamatan Talango, Sumenep mengatakan, abrasi hampir mencapai gubuk-gubuk yang digunakan nelayan untuk menyimpan jaring. ”Padahal, dulu jarak gubuk ke bibir pantai, jauh. Sekarang sudah dekat,” katanya.

Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kecamatan Saronggi Maskur mengatakan, abrasi semakin meluas disebabkan naiknya permukaan laut. Abrasi juga disebabkan penebangan pohon sehingga tidak ada penahan angin dari laut.

Baca Juga :  Tabrak Truk, Pengendara Sepeda Motor Tewas

”Ombak itu terbawa angin. Kalau tidak ada pohon, angin lebih cepat berembus ke daratan. Jadi, pemangkasan pohon di pinggir pantai itu tidak dibenarkan,” ungkapnya.

Sayangnya, sampai saat ini Pemkab Sumenep belum memiliki program untuk menangani masalah abrasi ini. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep Syahrial mengaku tidak memiliki program untuk penanganan abrasi.

”Kami memang tidak memiliki program khusus untuk menangani abrasi. Kemungkinan dinas lain ada,” katanya Minggu (30/9).

Dia menyarankan penanganan abrasi di Pulau Gili Labak ditangani pemerintah desa menggunakan dana desa atau anggaran dana desa (DD/ADD). Selain itu, masyarakat berperan dalam meminimalkan membesarnya abrasi dengan cara menanam pohon bakau.

”Kalau semua ditangani pemkab, repot juga. Dana pemkab terbatas. Jadi lebih baik kalau kondisinya memang sudah darurat gunakan saja dana desa untuk mengatasi permasalahan ini,” pungkasnya.

Baca Juga :  Antisipasi Pungli di Pelabuhan Jelang Lebaran

SUMENEP – Puluhan pohon cemara di Pulau Gili Labak mati akibat abrasi. Pohon dengan nama latin genus casuarina itu roboh akibat abrasi yang kian besar.

Sedikitnya 17 batang pohon cemara tercabut dari tanah. Sebagian pohon cemara mengering dan sebagian lagi masih terlihat hijau.

Fadil, warga Pulau Gili Labak, Kecamatan Talango, Sumenep mengatakan, abrasi hampir mencapai gubuk-gubuk yang digunakan nelayan untuk menyimpan jaring. ”Padahal, dulu jarak gubuk ke bibir pantai, jauh. Sekarang sudah dekat,” katanya.


Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kecamatan Saronggi Maskur mengatakan, abrasi semakin meluas disebabkan naiknya permukaan laut. Abrasi juga disebabkan penebangan pohon sehingga tidak ada penahan angin dari laut.

Baca Juga :  Sekkab Ingatkan Honorer Tak Terlibat Kriminal

”Ombak itu terbawa angin. Kalau tidak ada pohon, angin lebih cepat berembus ke daratan. Jadi, pemangkasan pohon di pinggir pantai itu tidak dibenarkan,” ungkapnya.

Sayangnya, sampai saat ini Pemkab Sumenep belum memiliki program untuk menangani masalah abrasi ini. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep Syahrial mengaku tidak memiliki program untuk penanganan abrasi.

”Kami memang tidak memiliki program khusus untuk menangani abrasi. Kemungkinan dinas lain ada,” katanya Minggu (30/9).

Dia menyarankan penanganan abrasi di Pulau Gili Labak ditangani pemerintah desa menggunakan dana desa atau anggaran dana desa (DD/ADD). Selain itu, masyarakat berperan dalam meminimalkan membesarnya abrasi dengan cara menanam pohon bakau.

”Kalau semua ditangani pemkab, repot juga. Dana pemkab terbatas. Jadi lebih baik kalau kondisinya memang sudah darurat gunakan saja dana desa untuk mengatasi permasalahan ini,” pungkasnya.

Baca Juga :  SMA-SMK Tak Dapat DAK Banyak Sekolah Butuh Sarpras

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/