Selasa, 26 Oct 2021
Radar Madura
Home / Resensi
icon featured
Resensi

Belajar Sederhana dengan Keunikan Berbahasa

03 Oktober 2021, 19: 10: 39 WIB | editor : Abdul Basri

Belajar Sederhana dengan Keunikan Berbahasa

Share this      

KERAP kali di saat dunia lagi gentar, kejutan-kejutan menarik itu terus menjamu kita dengan kehadiran buku-buku yang dilahirkan oleh tangan-tangan sepi. Adanya pandemi ini, tingkat kepenulisan bagi kaum penulis dijadikan ajang bisa menargetkan sebuah tulisannya; baik itu sebuah manuskrip karya sastra ataupun manuskrip karya ilmiah. Karena dengan kiprah kepenulisan, kita bisa memahami kekentaraan tanpa ada kerisauan yang menjadikan semua takut dan tak ingin melakukan aktivitas.

Bagi kaum penulis, tugas lahir batinnya adalah membaca dan menulis. Karena dengan tugas itu seorang penulis bisa memberi jalan kedua setelah realitas yang ada, bagi semua orang. Benar apa yang telah disampaikan oleh Tia Setiadi dalam kata pengantar kurator buku ini; salah satu godaan besar seorang penyair adalah dorongan untuk menjadi nabi, keinginan untuk menyampaikan ajaran (hlm 5). Jadi dengan itu akan tergambar bahwa kehidupan apa pun jika berada di tangan seorang penulis akan jadi wajah baru bagi kita di tengah semaraknya virus korona yang melanda.

Kini Joko Pinurbo atau kerap dipanggil Jokpin, menghadirkan serampai bunga puisi yang bertajuk Sepotong Hati di Angkringan. Dari segi komposisi teks, kumpulan puisi Joko Pinurbo ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama Sepotong Hati di Angkringan dan Ibadah Mandi menempati bagian kedua. Selain itu, ada dua puluh dua ilustrasi karya Alfin Rizal juga dalam manuskrip buku puisi ini.

Baca juga: Agitasi: Religius dan Romantik

Di bagian pertama, saya garis bawahi bahwa bagi seorang Joko Pinurbo menulis sebuah puisi tidaklah serumit mengurus rumah tangga. Tapi, menulis baginya selayaknya orang-orang berdialog dalam kesehariannya. Dan itu sangat jelas terhidang pandang pada salah satu puisinya berjudul Pintu Ayah (hlm 10). Suara Masa Depan (hlm 13), dan Wawancara Tengah Malam (hlm 35). Dengan kesederhanaan ungkapan, gaya bahasa dan retorika kepenulisannya, Joko Pinurbo bisa menjanjikan sebuah terobosan baru atas kiprah kepenulisan.

Selain itu, setelah meneruskan membaca manuskrip puisi ini, dan sampai pada halaman sembilan belas, saya dibuat kesal dengan puisi yang berjudul Bakso Sedap; melihat secara dhahir saja, puisi ini sudah membuat saya mati bahagia. Dengan cara bijak, tidak semua penulis bisa menghadirkan sebuah puisi seperti ini. Selain Joko Pinurbo menulis secara tematik, ia bisa juga mengemas tulisannya dengan sebaik mungkin. //yang paling sedap dari bakso langgananku bukanlah bakso atau kuahnya, melainkan suara ting-ting-nya. Suara ting-ting-ting yang dilahirkan oleh sendok dan mangkok. Seenak-enaknya bakso dan kuahnya, paling pol hanya akan berumur 10 menit, sedangkan suara ting-ting-nya bisa menggema lama ke mana-mana: ke ceruk mimpiku, ke hati ibuku, ke rongga nasibku, dan tentu saja, ke relung cinta-Mu.//

Bagian kedua, penulis menghadirkan sebuah tema besar mengenai sejarah korona yang menyebabkan banyak orang buntu akan aktivitas dalam kesehariannya. Tetapi adanya protokol untuk saling renggang akan sesama orang, tidak menampik kemungkinan bahwa kita harus menyendiri dan pasrah menanti semarak virus ini berakhir. Bagi jiwa yang memiliki akal kreatif tidak ada kata tidak bisa untuk mensyukuri hidup di dunia ini. Salah satunya daya kreatif itu terletak dalam diri Joko Pinurbo yang menghadirkan sebuah puisi-puisi mengenai kejadian yang sekarang. Salah satu puisi yang bertajuk Ibadah Mandi (hlm 59); yang mana penulis kali ini begitu terasa mempunyai jati diri tidak menyulitkan memahami sedalam-dalam menegai puisi, terhadap pembaca yang banyak mintanya. Karena dengan pengolahan secara baik dan total, sesederhana apa pun tema yang kita angkat akan tersendirinya menjadi kepuitikan bagi sesosok karya.

Selain karya bertajuk Bakso Sedap yang membuat saya mati bahagia membacanya, ada pula yang begitu membuat tersenyum girang mengulangi pembacaan terhadap puisi karya Joko Pinurbo. Puisi ini berjudul Protokol Kewarasan (hlm. 74). Puisi ini seakan menjadi sejarah yang sangat langka pada masanya, dan isinya sebuah peraturan. Tapi, kematangan bagi Joko Pinurbo mengenai mengolah hal yang dialami banyak orang begitu pas dalam protokol ini. //1. Menutup wajah dengan wajah yang lebih tulen// 2. Menjaga jarak dengan kenangan// 3. Mencuci hati dengan harum hati//.

Joko Pinurbo menghadirkan sebuah puisi sebagai upaya untuk mengenang dan memaknai tragedi besar dalam dunia (hlm. 80). Titik benarnya terhadap warga Jogja, karena dari awal sampai akhir suasana yang dialami saya begitu terasa bermain ke Jogja melalui puisi-puisi ini. Begitu tuntas menulis dunia yang akrab dengan kita, dengan cara yang bersahaja tapi unik dan segar (hlm. 6). Raedu bilang, sebuah karya jika telah rampung, maka akan terlihat kecacatannya. Maka, saya anggap manuskrip puisi Joko Pinurbo ini adalah sebuah karya yang menimpali gagasannya tersebut. 

FA LILLAH

Santri PPA Lubangsa Selatan

(mr/*/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia