Minggu, 05 Dec 2021
Radar Madura
Home / Esai
icon featured
Esai
Bindara Suluk;

Membuka Tirai yang Membelenggu

Oleh IKROM F.*

03 Oktober 2021, 19: 08: 08 WIB | editor : Abdul Basri

Membuka Tirai yang Membelenggu

Share this      

Kami adalah santri

Pesantrenku alam raya

Kiaiku hati nurani

Baca juga: Pesantren dan Kekayaan Intelektual

Kitab kajianku tutur panjang para wali

—M. Faizi

SEMULA, santri datang dalam suasana dan situasi masyarakat yang awam pada agama. Mereka yang kemarin belum utuh akan pelajaran keagamaan Islam dan tidak perlu tuk memahaminya secara mendalam, karena ada seorang yang memiliki keistimewaan tentang Islam, baik hal itu bersifat mendasar serta mendalam. Pendek kata, masyarakat nyaris sepenuhnya pasrah akan sentuhan naluri dari santri.

Sentuhan-sentuhan pada tanah lahir mereka kelak, kini tidak lagi berupa sketsa seremonial; selalu datang dengan membawa khotbah di atas mimbar guna menyampaikan risalah sirah nabi. Selalu datang melalui diskusi panel tuk mencerdaskan para pemuda yang belum genap menuntaskan pendidikannya. Selalu datang akan rutinitas-rutinitas riyadhah yang telah dipelajarinya di pesantren agar menjadi sosok pemimpin umat di bawah alas tikar.

Tetapi, ada perubahan yang belum tersentuh. Ia penting atau tidak, perubahan itu seperti tidak meninggalkan bekas. Semacam drama, yang gelak tawa hanya sebagai lading prioritas semata daripada biji-biji cerita itu. Meski panggung pertunjukan atau teater merupakan synthetic art, hasil dari seni luluhan karena berbagai unsur kehidupan. Budaya teater yang menggunakan media manusia sebagai alat utama dalam pemeran-an, secara teoristis, cenderung berpadu ke arah aktor, ”an actor is the one who use his body, his voice and sensibility to become someone else”. Ini yang disebut Pramana sebagai suatu meditasi atas penggeraknya.

Ketika ingin menafsirkan dan memahami teater atas usaha aktor di dalam menciptakan sebuah filsafat melalui seni berperan, umumnya seniman memerlukan kritikus agar karyanya ”berbicara” pada masyarakat. Walau ini kadang tidak selalu. Sebab, rumusan seni yang mutlak dan objektif itu tidak ada. Terlalu distorsi jika kita menganggap seniman dan masyarakat, berbicara seni, mempunyai definisi yang sama. Yang ada justru sebaliknya.

Hal ini yang bisa dirasakan di saat melihat lakon Suluk Santri. Lakon yang mengandung spirit kemanusiaan dengan hal ihwal kesederhanaan, kini menemukan ”rumah kembali” atas konsep awalnya yang hanya menceritakan ulang kehidupan santri, direkonstruksi sedemikian rupa ke arah kemanusiaan.

Bahwa, manusia tak hanya aktor di balik teks naskah Tuhan. Namun, ia dipaksa dengan lembut untuk bagaimana benar-benar bisa melepaskan topeng yang dipakai serta terbelenggu itu. Kata seniman Tn Sumartana, ”setiap penolakkan selalu melahirkan sesuatu yang baru”.

Syahdan, bentuk penolakan suluk santri, semuanya berbentuk piramida. Ia ingin menegaskan kembali suatu hal bahwa ”semesta ada ketika kita bisa berdiri tegak”. Begitulah kira-kira interpretasi pada salah satu adegan sejajar itu.

Sejajar di sini tak selalu tertuju pada makna kebersamaan. Bersama berdiri atas nama hamba sahaya, yang melulu dikecam kejahiliahan dan tebaran ancaman simulakra. Artinya, merangkul setiap tangan di tengah-tengah impitan hedonisme dan egoisme, muncul sebagai cerminan bagi manusia, selain statusnya sebagai makhluk sosial, juga ingin mengingatkan—bisa dikatakan introspeksi—diri yang sejatinya jauh dari kata sempurna.

Tak ayal, kesempurnaan akan hilang di saat muncul laku egoisme. Kelahiran parasit yang berada dalam rohani manusia. Meski secara sadar ia tak bisa dilihat, cuma semacam benalu. Ego yang menjelma watak dengan lantang memandang satu sisi, sembari meniscayakan sisi yang lain: menutupi rasa malu (muru’ah) yang dicita-citakan agama supaya bisa berjalan sistematis dan lebih menyentuh perasaan. Jika berhasil menemukan jati diri di atas kecantikan egoisme, perlahan bangunan itu sama-samar menghilang. Tertunduk sambil memahami; kita bukanlah siapa-siapa.

Hal seperti ini agaknya semacam kisah agama. Oidipus Sang Raja, salah satu naskah realisme Yunani yang diangkat atas upacara keagamaan sebagai bentuk penghormatan para dewa. Barangkali juga Menunggu Godot (1948), teater absurd karya Beckett ini ditampilkan ulang oleh teater Garasi, atau Bengkel Teater milik Rendra, menampilkan sebuah drama yang penuh dengan sugesti manusia satire. Terdapat simbolisasi betapa sulitnya manusia mengambil sikap pasti tentang segala suatu dalam hidup ini. Intinya cuma menunggu, yang pada akhirnya laku itu timbul persoalan, karena situasi menekan, sebab tiada kejelasan, pun mungkin juga, sudah putus asa ketika yang dinantikannya tidak kunjung tiba.

Kritik sosial itu terwujud. Sebagaimana pesan tersiar dalam suluk. Kami adalah santri// pesantrenku alam raya// kiaiku hati nurani// dan kitab kajianku tutur panjang para wali//. Kalimat yang diambil dari akar huruf hijaiyah. Narasi-narasi yang tersusun dengan sistematis atas adegan kontras itu, ia, ingin sekali menggambarkan manusia sederhana. Bahwa, sederhana dalam kondisi dan situasi apa pun, mesti akan melukiskan kesejahteraan. Kata sejahtera, yang manusia selalu berkompetisi untuk menggapainya. Seperti sajak Nuril S. Zaini;

Telah datang

Muhammad

Sang utusan

Untuk membatalkanku

Jadi binatang.

Maka inilah puncak kemanusiaan sejati. Apa yang telah lalu dilakukan dan dapat menanggalkan setiap kejadian dengan berpikir, pasti manusia akan menemukan arah di mana ia harus berjarak, berhenti serta kembali. Hari ini, esok, bahkan nanti. 

*)Santri PP Annuqayah Lubangsa

(mr/*/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia