Penulis : Akhmad Siddiq
Penerbit : Cantrik Pustaka
Tahun : April, 2023
Tebal : 192 halaman
ISBN : 978-623-139-044-2
BUKU Kristen Madura: Agama, Identitas, dan Pergulatan Sosial berupaya mengungkapkan sejarah Kristen di Madura dari dulu sampai sekarang. Karya Akhmad Siddiq ini juga menjabarkan sempadan antara umat Islam dengan umat Kristen di Pulau Madura. Karya yang diangkat dari disertasi tersebut menyinggung bahwa penduduk Madura hampir 100 persen menganut agama Islam, sedangkan 1 persennya pemeluk Kristen. Orang Madura begitu kental dengan keislamannya sehingga Kristen tidak berkembang secara signifikan di pulau tersebut.
Orang luar menganggap Pulau Garam sebagai tanah santri karena banyak pondok pesantren di Madura. Bangkalan juga dianggap sebagai kabupaten zikir dan selawat. Masyarakat Madura pun terkenal dengan totalitasnya terhadap ormas agama, khususnya Nahdlatul Ulama. Alasan itulah yang mendasari asumsi islamis masyarakat luar terhadap Madura.
Kebanyakan masyarakat Madura tidak tahu apa-apa tentang Kristen. Bahkan, sebagian ikut-ikutan mengolok-olok orang Kristen. Sebagian lagi menganggap gereja hanya pajangan. Saat penulis membicarakan Kristen dengan seorang santri, mereka menjawab dengan lugas, ”Mana ada orang Kristen di Madura?” Di Madura penganut Kristen tidak begitu menampakkan eksistensinya, barangkali untuk menghindari bentrok dengan mayoritas.
Golongan santri biasanya sukar menyikapi perbedaan keyakinan karena latar belakang pendidikan mereka. Menurut Siddiq, santri kerap menerima doktrin dari guru/ustad bahwa orang Kristen atau penganut agama di luar Islam merupakan kaum kafir. Murid juga sering mendapat wejangan bahwa mengganggu masyarakat nonmuslim akan diganjar pahala.
Berbeda dengan pelajar nonpesantren. Mereka lebih gampang menyikapi perbedaan keyakinan. Nonsantri memiliki paradigma yang lebih tertata. Apalagi sekolah umum memiliki lebih sedikit pelajaran agama. Hal ini membuat mereka lebih rasional dalam menyikapi perbedaan walaupun masih banyak murid atau guru yang tak bersikap normal terhadap perbedaan tersebut.
Islam dan Kristen berasal dari rumpun yang sama, yaitu agama Ibrahim. Alih-alih menjadi penghubung, akar yang sama malah memisahkan keduanya. Meski berasal dari leluhur yang sama, dari dulu hingga kini keduanya sering kali berselisih.
Penganut Kristen Madura generasi saat ini mewarisi tradisi keyakinan pendahulu mereka. Rata-rata, pastor atau pemimpin umat Kristen masih memiliki kekerabatan di daerah satu dengan daerah lainnya. Hal inilah yang membuat mereka masih berdiri solid hingga sekarang. Setidaknya, saat ini ada 24 gereja yang berdiri di Madura setelah melewati berbagai tantangan resistansi dari mayoritas, seperti izin mendirikan rumah ibadah. Kini situasinya lebih kondusif seiring penerimaan penduduk muslim atas adanya gereja.
Dalam aspek budaya, masyarakat muslim Madura meyakini Islam sebagai identitas kultur mereka. Oleh karena itu, mereka sering merasa agama lain sebagai ancaman di ruang publik dan ideologi. Dalam prolog buku ini, Leonard Chrysostomos Epafras mencatat bahwa nilai-nilai Islam diserap ke dalam aktivitas budaya masyarakat Madura. Nilai-nilai tersebut kemudian dipentaskan sebagai penanda identitas etnis. Dari sinilah muncul anggapan bahwa penganut Kristen bukan Madura tulen. Akibatnya, sebagian umat Kristen memilih tinggal di luar Madura agar pertumbuhan iman mereka tidak mengalami iritasi.
Konversi dari Islam ke Kristen merupakan persoalan urgen di Madura. Anda bisa tidak disapa tetangga karena dianggap murtad. Masyarakat muslim lebih memaklumi orang Kristen sejak orok ketimbang umat Islam yang berkonversi ke agama Masehi tersebut. Ada banyak hal yang harus dibayar jika ingin menjadi umat Kristen, seperti retaknya ikatan kekeluargaan, persahabatan, dan relasi lainnya. Keluar dari Islam bersinonim dengan sikap menantang.
Di aspek lain, misalnya dalam perniagaan, perbedaan agama jarang disorot. Orang Madura cenderung menerima perbedaan keyakinan jika hal itu menyangkut tujuan pribadi seperti hubungan patron-klien dagang. Di sini biasanya, orang Kristen merupakan pemilik modal, sedangkan orang Islam menjadi pekerjanya. Saat musim panen, masyarakat muslim tidak punya pilihan kecuali harus menjual tembakau kepada para pemodal Kristen dan Tionghoa.
Siddiq mengaku kerap menerima penolakan saat hendak mewawancarai beberapa narasumber. Para narasumber nonmuslim takut membuka suara tentang agama mereka. Sebagian menerima tawaran wawancara dengan sukarela, sedangkan yang lain menolak dengan alibi yang lumrah.
Adanya Alkitab berbahasa Madura adalah bentuk keinginan masyarakat Kristen Pulau Garam untuk memperbanyak jemaat. Keinginan ini didasari kebutuhan dan usulan masyarakat Kristen Madura sendiri. Proyek pengalihbahasaan Alkitab diselenggarakan Lembaga Alkitab Indonesia yang dipungkasi oleh Hasabiah Waluyo, seorang Katolik Pamekasan. Kitab suci yang terbit pada 1994 itu juga melibatkan jemaat Kristen dan Katolik Madura.
Secara historis, eksisnya gereja dan Vihara Avalokistesvara di Pamekasan menunjukkan bukti bahwa masyarakat Madura tidak menolak agama non-Islam. Prinsip kerukunannya: asal tidak mengganggu. Koeksistensi yang tak terlalu buruk ini memungkinkan penganut minoritas tetap sintas.
Kristen Madura berusaha membentangkan sejarah Kristen Madura dari sudut pandang Kristiani. Isu di dalamnya mengarahkan kita pada beberapa problem yang menimpa penganut Kristen di Madura. Buku ini memaparkan berbagai riwayat umat Kristen Madura dalam menghadapi hantaman dari masa ke masa dan bagaimana mereka mempertahankan kesenjangan. (*)
SAMRONI
Mahasiswa Universitas Madura, bergiat di Sivitas Kotheka Editor : Abdul Basri