SUMENEP, RadarMadura.id – La Ngetnik baru meluncurkan album perdana berjudul Lawh Fashal 1. Album tersebut berisi dua belas nomor lagu.
Rifan menuturkan, album yang diluncurkan itu memiliki banyak filosofi. Misalnya, jumlah nomor yang dijadikan simbol waktu yang merujuk pada hitungan jam dan jumlah bulan dalam satu tahun.
Menurut dia, Lawh Fashal 1 meminjam dari istilah dalam kitab klasik, yang artinya adalah bagian pertama.
”Jadi, 12 lagu itu lintas genre yang variatif. Tapi, kami tetap konsisten mengelaborasi pola dentum lokal (etnik) yang dimanifestasikan dengan dentum elektronik kontemporer,” ungkap Rifan.
Rifan menjelaskan, album itu ingin mengisahkan berbagai peristiwa.
Mulai dari kisah keluarga, kontemplasi asmara, psikologi, isu sosial hingga spiritualitas.
Artinya, lagu-lagu di dalam album tersebut diciptakan dengan muatan gagasan yang kental.
Dia mencontohkan, misalnya dalam track pertama memuat lagu Pengantar Bunyi, yang dimaksudkan sebagai mukaddimah atau pembuka.
Kemudian, ada Ritus Cermin Semesta, sebuah lagu bernuansa rock-mediteranian yang berkisah tentang harapan dan doa. Disusul Mausimul Hubb dengan nuansa arabian funk.
Selanjutnya ada Sanasren. Lagu tersebut digarap dari puisi penyair Alfaizin Sanasren dalam antologi Talken Koneng.
Pada lagu ini musik yang dimainkan dengan gendang dangdut beriring akordeon serta beberapa jenis perkusi.
”Baru pada track ke-5 ada Barqun, yang artinya kilatan cahaya bercerita. Ini sangat spiritual, merujuk pada perjalanan Sang Rasul dalam peristiwa Isra Mikraj,” paparnya.
Pada track berikutnya, La Ngetnik menyuguhkan lagu berjudul Pada Gemawan.
Lagu tersebut menjadi eksperimentasi La Ngetnik dalam upaya memadukan nuansa Borneo dengan gaya ritme musik semi keroncong.
Kemudian, pada nomor ke-7, menampilkan cerita manusia dengan segala profesi serta tujuan hidupnya berjudul Kisah-Kisah.
Sedangkan track berikutnya, yakni Bestari yang hendak menyampaikan suatu kontemplasi asmara.
Pada lagu ke-10, La Ngetnik mempersembahkan Serdadu Ibu.
Lagu ini memotret sosok ibu yang direpresentasikan sebagai ”wakil Tuhan” di muka bumi bagi seorang anak.
Dalam antropologi masyarakat Madura, dikenal dengan istilah pangeran katon.
Selanjutnya, lagu ke-11, yakni Jawaban Adalah Cahaya. Lagu ini menjadi kontemplasi fasih bahwa seluruh teka-teki hidup puncak hasilnya pastilah cahaya.
”Jadi kami berkesimpulan hasil dari semua hal yang diberikan Tuhan pada kita adalah cahaya,” ujarnya.
Album perdana ini menggabungkan beberapa aspek kisah dari inti kehidupan yang dituangkan dalam lagu-lagu.
Album dengan durasi 45:31 ini dikemas dalam keunikan warna, bunyi, dan keragaman bahasa serta pemilihan diksi kata yang menjadikannya lebih imajinatif dan inovatif.
”Dan, kami mendistribusikannya pada semua platform musik digital,” ucapnya. (di/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta