Oleh HIDAYAT RAHARJA
DI perumahan tempat saya tinggal di Sumenep, berita kematian diumumkan melalui pelantang dengan menyampaikan bahwa berita dikirimkan oleh anggota keluarga almarhum dengan menyebut nama-nama mereka, lalu menyampaikan berita kematian si fulan.
Sedangkan kalau berita kematian di tempat tinggal saya, di Kota Sampang, cukup singkat dengan ucapan Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, lalu mengabarkan kematian si fulan dan anggota keluarga yang mengirimkan kabar kematian.
Kabar kematian yang disampaikan Pak Guru Budi (begitu ia dipanggil), amat berbeda. Dia tidak menggunakan pelantang untuk mengumumkan kematian warga.
Juga tidak menggunakan kentungan untuk mengabarkan kepada masyarakat. Ia mengabarkan kematian dalam senyap, dalam catatan-catatan yang dikumpulkan dalam buku puisi berjudul Musim Orang Mati –sehimpun Puisi BH. Riyanto (Hyang Pustaka, 2024).
Buku ini berisi 69 judul puisi yang cukup menarik sebagai catatan peristiwa kematian masif di masa pandemi Covid-19 tahun 2020–2021. Puisi-puisi yang yang ditulis saat Budi melakukan isolasi mandiri dan saat korona menjadi pandemi yang menakutkan.
Bagi masyarakat Indonesia, kematian adalah duka, kepulangan makhluk kepada Sang Khalik. Karena kembali kepada Sang Khalik, maka berbagai ritual (perayaan) mereka laksanakan.
Ada yang mengundang tetangga untuk membacakan tahlil bersama. Di tengah duka, mereka mengirimkan doa bersama kepada yang sudah meninggal dunia.
Musim Orang Mati, puisi-puisi sederhana yang merekam peristiwa kematian di saat pandemi Covid-19 merajalela. Saat jalanan ramai oleh suara ambulans membunyikan sirenenya sepanjang waktu.
Suara sirene yang menggetarkan degup jantung para pendengarnya, ”Siapa lagi yang meninggal dunia?” Suara pelantang di masjid dan musala tak pernah jeda mengumandangkan berita kematian. Duka yang dalam dan pedih.
Semua orang menutup pintu dan berdiam dalam rumah. Semua menjaga jarak dan menutup mulut dan hidung.
Kehidupan berubah, semua gelisah. Cara kita bersapa, bersalaman dengan teman dan tetangga tak lagi diakukan.
Semua saling membatasi diri. Saat yang membingungkan, tempat-tempat umum ditutup dan kalaupun dibuka waktunya dibatasi.
Di tengah ketakutan dan ketidakpastian, mereka semua bertanya-tanya di mana Tuhan berada?
Tuhan
kini corona
sudah di mana-mana
Tuhan
Engkau di mana?
(Kini Corona, halaman 8)
Kematian tidak wajar berlangsung setiap saat. Mereka dengan gejala batuk, demam, sesak napas. Tiba-tiba mati.
Orang-orang berdiam diri di rumah karena ada pembatasan aktivitas dan kegiatan bersama.
Tetapi, berdiam di rumah bukan membuat mereka nyaman, justru merasa tidak aman. Raung sirene di jalan selalu menghantui pendengaran dan perasaan mereka.
Dalam kesangsian, Budi bertanya-tanya apakah jerit sirene itu suara mobil patwal mengiringi kunjungan pejabat ataukah suara mobil mayat yang lewat? Setengah bekelakar Budi menuliskan pada puisi berikut:
Kadang sangsi juga
itu suara mobil pejabat
atau suara mobil mayat?
2021
(Sirene, halaman 110)
Kondisi mencekam, mereka menjaga jarak, memakai masker, dan selalu menggunakan disinfektan. Larangan yang membuat semua hubungan berjarak.
Jarak antara tubuh yang semakin memanjang sehingga mengakibatkan terbangunnya jarak komunikasi.
Kacaunya komunikasi dan hilangnya komunikasi karena jarak sehingga mencemaskan adanya hubungan dengan cinta yang lain. Bisa jadi tidak ada lagi kabar beritanya, karena sudah meninggal dunia terpapar virus korona.
/mula-mula kau berjarak/ sekitar satu meter dari sisiku// lalu berkilo-kilometer setelah itu// Kau pun mulai jarang berkabar/ Kau pun mulai jarang berkabar// Apakah kau sudah terikat cinta yang lain?// Atau, jangan-jangan kau/ sudah tewas digigit corona, kekasih?// (Jarak, halaman 65).
Bentangan jarak yang makin melebar membuat mereka saling menguatkan satu sama lain. Hubungan dengan teman dan kekasih jadi berjarak, namun hanya jarak fisik sebab secara rohani masih bisa berhubungan melalui doa yang saling dipanjatkan.
Tidak ada lagi tempat bergantung dan berharap kecuali kepada Tuhan yang Mahaperkasa. Namun, Pak Guru Budi yakin kalau peristiwa ini akan berakhir. Pandemi adalah kejadian sementara waktu.
Di masa-masa mencekam begini/ kita harus saling menguatkan/ meski kita berjarak secara jasmani// meski kita berjarak secara jasmani/ tapi tidak dengan rohani kita// Kekasih// (Untuk Sementara Waktu Kekasih, halaman 49).
Kita yang terpisah di tanah rantau semakin terasa asing dan jauh, karena adanya pembatasan gerak untuk melokalisasi persebaran virus korona.
Pandemi yang membuat mereka semakin terisolasi dari sanak keluarga. Pandemi yang menciptakan rindu semakin berat, sebagaimana Budi tuliskan dalam sajak berikut:
…
Tetapi
rindu kampung halaman
itu jauh lebih berat
kata para perantau yang dilarang mudik
: karena Corona!
…
(Rindu, halaman 69).
Wabah terus merebak di sepanjang bulan dan musim, melewati tahun, dan korban berjatuhan.
Mereka yang positif karena terinfeksi virus korona, sudah pasti penanganan pemulasaran jenazahnya setelah dikafani dibungkus dengan plastik. Hal baru bagi masyarakat Madura.
Mereka merasa tidak terima dengan perlakuan ini karena berbeda lazimnya menguburkan jenazah, sehingga dalam beberapa kasus jenazah yang sudah dikafani di rumah sakit, sebelum dikebumikan dibuka kembali, dimandikan lagi, dan kemudian dikafani kembali tanpa bungkus plastik, lalu dikuburkan.
Di sisi lain munculnya pandemi Covid-19 secara biologis dianggap sebagai peristiwa alamiah dalam proses seleksi terhadap kehidupan yang semakin krisis dengan berbagai persoalan lingkungan.
Proses yang membuat setiap organisme beradaptasi. Mereka yang selamat berarti mampu beradaptasi dan mengalami resistansi. Dalam ajaran Darwinisme kejadian pandemi merupakan proses seleksi alam terhadap individu yang ada di dalamnya.
Mereka yang selamat akan mampu bertahan dan melanjutkan kehidupannya. Mereka yang kalah akan punah. Suatu mekanisme alam untuk mencapai keseimbangan baru.
Secara filosofis pandemi Covid-19 membawa pada perenungan bahwa pandemi Covid-19 merupakan konsekuensi yang harus ditanggung manusia karena banyaknya ketidakselarasan hidup manusia dengan alam.
Aktivitas manusia menyebabkan alam sakit sehingga pandemi Covid-19 merupakan cara alam melakukan seleksi dan mencapai keseimbangan baru.
Barangkali Covid-19 merupakan manifestasi dari polusi virus-virus dosa manusia dalam kehidupan yang sudah tak mampu menanggung akselerasi populasinya, sehingga meledakkan pandemi yang menyadarkan kehidupan manusia kembali bersama dan bersinergi dengan alam.
Menurut Pak Budi, korona bisa menjadi salah satu cara membersihkan segala yang tak bersih. Bukan hanya membersihkan manusia, namun juga kehidupan manusia.
Karena pandemi ini telah membawa akibat pada lumpuhnya berbagai sektor kehidupan manusia. Mari kita nikmati puisi berikut:
Jangan-jangan
kitalah biang kerok dari semua itu
:lahir batin?
Virus dosa kita
yang terus mempolusi ini
menggumpal begitu rupa
dari hari ke hari
Selamat Idul Fitri
(2020)
(Korona Akan Membersihkan Segala yang Tak Bersih, halaman 31).
Pada puncak kesadaran religiousitasnya, Budi menyadari kalau ketentuan tuhan merupakan takdir paling baik bagi seluruh makhluk dan kehidupannya, sementara pilihan baik manusia bisa jadi hanya baik bagi dirinya, tetapi belum tentu baik bagi yang lain. Pada titik ini Budi melihat kasih sayang, cinta Tuhan kepada hamba-Nya.
Zona Merah
#corona
Duhai, tidakkah ini warna cinta-Mu, Kekasih?
2020
(halaman 61)
Baca Juga: Netflix Resmi Bagikan Poster Seri Avatar The Last Air Bender, Pertanda Bakal Lanjut Season 2 dan 3?
Sajak-sajak Pak Guru Budi memang menarik dengan segala kesederhanaan diksi maupun pengucapannya.
Kadang terasa satir dan kadang lucu dan membuat tersenyum ketika membacanya. Kadang batas kesederhanaan itu sering kali memerangkap kita pada hal yang biasa, sebagaimana berita umumnya bersifat denotatif.
Pola-pola semacam ini menjadi karakteristik pengucapan seorang Budi yang tidak bebelit, mudah dipahami, bahkan terasa tanpa tedeng aling-aling utnuk memahaminya.
Ada kala puisi seperti makanan yang bisa dikonsumsi oleh segala lapisan usia. Namun, di saat yang lain, puisi sebagai makanan khusus hanya dikonsumsi kelompok tertentu yang membutuhkannya.
Musim Orang Mati merupakan puisi yang bisa dikonsumsi siapa saja, karena ia sebagai cemilan yang bisa mengisi waktu senggang dan tak mengenyangkan.
Seperti juga lukisan-lukisan Pak Guru Budi yang terasa puitis meski terkadang terasa liris. (*)
*)Guru dan pelukis sketsa tinggal di Sampang
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti