21.6 C
Madura
Friday, December 9, 2022

Kado Buat Sumenepku yang Ke-753

Oleh ISKANDAR DZULKARNAIN*

EUFORIA ucapan, festival, dan beragam kegiatan telah menggema di seantero sudut-sudut Kabupaten Sumenep selama satu bulan ini untuk merayakan Hari Jadi Kabupaten Sumenep yang ke-753. Beragam prestasi, penghargaan, dan kemenangan yang telah dicapai oleh Sumenep menjadi titik tolak euforia tersebut. Seolah-olah selaksa alam semuanya berpusat ke Sumenep. Semua masyarakat bergembira dan berlomba-lomba mengikuti beragam kegiatan Hari Jadi Sumenep. Hal ini terpotret dari Festival Musik Tongtong Kontemporer, yang merupakan salah satu rangkaian panjang perayaan hari jadi.

Beragam prestasi, penghargaan, dan kemenangan yang sudah diraih Sumenep menjadi semakin ”mengesahkan” pentingnya hari jadi dirayakan semeriahnya. Atau mungkinkah semuanya hanya simbolik belaka? Atau memang prestasi, penghargaan, dan kemenangan tersebut telah mengubah kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat Sumenep menjadi lebih baik dan beradab?

Masyarakat Sumenep mayoritas merupakan petani dan nelayan (BPS, 2022), yang membutuhkan lahan-lahan pertanian dan laut yang bersih dari beragam pencemaran dan kerusakan alam. Sumenep yang setiap tahun mengalami penyusutan lahan-lahan pertanian produktif sebanyak 7.500 ha sejak 2013 (www.sumenepkab.go.id) akan semakin menyengsarakan petani untuk keluar dari jurang kemiskinan. Diobralnya izin-izin pendirian perumahan, hotel, perusahaan, pertokoan, penambangan, dan lain-lain telah semakin memperkuat sengkarut alih fungsi lahan pertanian di Kabupaten Sumenep. Pemerintah seolah-olah abai untuk menjaga dan melindungi lahan-lahan pertanian produktif sebagai sumber penghidupan nafkah keluarga petani (buruh tani), yang merupakan entitas mayoritas yang ada di Sumenep.

Baca Juga :  Persembahkan Buku Puisi dan Pemeran untuk Guru Budi

Hal yang sama terjadi di daerah-daerah pesisir, lahan-lahan pesisir telah dirampas dan diambil alih oleh korporat-korporat untuk menjadi tambak-tambak udang. Tambak udang telah menjelma sebagai wilayah ”perampasan” bagi masyarakat pesisir (nelayan) untuk mendapatkan akses bagi sumber penghidupan utamanya yakni laut dan pesisirnya.

Angka pengangguran yang masih cukup tinggi 18.953 menunjukkan bahwa ada persoalan besar bagi Sumenepku. Program Wirausaha Muda ternyata tidak terlalu berdampak signifikan untuk mengikis pengangguran di Sumenep. Hal ini berkelindan dengan tingginya angka kemiskinan di Sumenep 20,51 persen dengan indeks kedalaman kemiskinan sebesar 4,73 persen dan indeks keparahan kemiskinan 1,56 persen. Data kemiskinan ini meningkat dari 2020 ke 2021 (BPS, 2022).

Berbagai wilayah di Sumenep sangat giat membangun destinasi wisata sebagai upaya peningkatan perekonomian ternyata tidak berdampak signifikan bahkan wisatawan mengalami penurunan yang sangat drastis. Pada 2019 wisatawan berjumlah 1.498.486 orang dan pada 2020 hanya 208.093 wisatawan, dengan hanya 58 orang wisatawan mancanegara (BPS, 2022).

Baca Juga :  Budayawan D. Zawawi Imron: Pemuda Harus Kreatif Biar Tak Kalah Saing

Beragam persoalan masih menjadi pekerjaan yang harus segera diselesaikan oleh pimpinan Sumenep. Persoalan pengelolaan wilayah kepulauan, sistem pendidikan, pengangguran terdidik, kemiskinan masyarakat, serta persoalan pengalihfungsian lahan pertanian dan pesisir di Sumenep. Untuk ”Sahabatku” Bupati Sumenep dan ”Bu Nyaiku” Wakil Bupati Sumenep, segeralah bekerja selesaikan segala hiruk pikuk kebahagiaan simbolik. Segera makmurkan masyarakat Sumenepku yang sudah berusia ratusan tahun ini.

Kemandirian masyarakat Sumenep menjadi hal mutlak yang harus dimiliki, dimulai dari ruang penghidupan ekonominya. Jangan rampas sumber penghidupan masyarakat Sumenep yang sudah ”bahagia” menjadi petani dan nelayan. Biarkan mereka memiliki lahan-lahan pertanian maupun ruang pesisir. Meskipun hanya memiliki luas sepetak, namun itu kebahagiaan dan kemandirian mereka untuk penghidupan utama keluarganya. Cukuplah kita belajar pada sejarah masyarakat pegaraman yang mengalami perampasan lahan-lahan pegaramannya selama dua kali, yakni masa Kolonialisme Belanda dan masa Orde Baru dengan dalih ”kemakmuran dan kesejahteraan” masyarakat pegaraman. Kemandirian bagi petani-nelayan bukanlah menjadi buruh (proletar), tapi bekerja sebagai petani di lahannya dan menjadi nelayan di wilayah pesisir dengan beragam potensinya.

Selamat Ulang Tahun Sumenepku. Mari mandirikan warganya. (*)

 

*)Warga Sumenep, ketua Pusat Penelitian dan Inovasi Sosial Budaya LPPM UTM

Oleh ISKANDAR DZULKARNAIN*

EUFORIA ucapan, festival, dan beragam kegiatan telah menggema di seantero sudut-sudut Kabupaten Sumenep selama satu bulan ini untuk merayakan Hari Jadi Kabupaten Sumenep yang ke-753. Beragam prestasi, penghargaan, dan kemenangan yang telah dicapai oleh Sumenep menjadi titik tolak euforia tersebut. Seolah-olah selaksa alam semuanya berpusat ke Sumenep. Semua masyarakat bergembira dan berlomba-lomba mengikuti beragam kegiatan Hari Jadi Sumenep. Hal ini terpotret dari Festival Musik Tongtong Kontemporer, yang merupakan salah satu rangkaian panjang perayaan hari jadi.

Beragam prestasi, penghargaan, dan kemenangan yang sudah diraih Sumenep menjadi semakin ”mengesahkan” pentingnya hari jadi dirayakan semeriahnya. Atau mungkinkah semuanya hanya simbolik belaka? Atau memang prestasi, penghargaan, dan kemenangan tersebut telah mengubah kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat Sumenep menjadi lebih baik dan beradab?


Masyarakat Sumenep mayoritas merupakan petani dan nelayan (BPS, 2022), yang membutuhkan lahan-lahan pertanian dan laut yang bersih dari beragam pencemaran dan kerusakan alam. Sumenep yang setiap tahun mengalami penyusutan lahan-lahan pertanian produktif sebanyak 7.500 ha sejak 2013 (www.sumenepkab.go.id) akan semakin menyengsarakan petani untuk keluar dari jurang kemiskinan. Diobralnya izin-izin pendirian perumahan, hotel, perusahaan, pertokoan, penambangan, dan lain-lain telah semakin memperkuat sengkarut alih fungsi lahan pertanian di Kabupaten Sumenep. Pemerintah seolah-olah abai untuk menjaga dan melindungi lahan-lahan pertanian produktif sebagai sumber penghidupan nafkah keluarga petani (buruh tani), yang merupakan entitas mayoritas yang ada di Sumenep.

Baca Juga :  Taneyan Lanjang: Fashion dan Biografi yang Cair

Hal yang sama terjadi di daerah-daerah pesisir, lahan-lahan pesisir telah dirampas dan diambil alih oleh korporat-korporat untuk menjadi tambak-tambak udang. Tambak udang telah menjelma sebagai wilayah ”perampasan” bagi masyarakat pesisir (nelayan) untuk mendapatkan akses bagi sumber penghidupan utamanya yakni laut dan pesisirnya.

Angka pengangguran yang masih cukup tinggi 18.953 menunjukkan bahwa ada persoalan besar bagi Sumenepku. Program Wirausaha Muda ternyata tidak terlalu berdampak signifikan untuk mengikis pengangguran di Sumenep. Hal ini berkelindan dengan tingginya angka kemiskinan di Sumenep 20,51 persen dengan indeks kedalaman kemiskinan sebesar 4,73 persen dan indeks keparahan kemiskinan 1,56 persen. Data kemiskinan ini meningkat dari 2020 ke 2021 (BPS, 2022).

Berbagai wilayah di Sumenep sangat giat membangun destinasi wisata sebagai upaya peningkatan perekonomian ternyata tidak berdampak signifikan bahkan wisatawan mengalami penurunan yang sangat drastis. Pada 2019 wisatawan berjumlah 1.498.486 orang dan pada 2020 hanya 208.093 wisatawan, dengan hanya 58 orang wisatawan mancanegara (BPS, 2022).

Baca Juga :  Dapatkan Buku Tora di Pekan Seni Madura STKIP PGRI Sumenep 2018
- Advertisement -

Beragam persoalan masih menjadi pekerjaan yang harus segera diselesaikan oleh pimpinan Sumenep. Persoalan pengelolaan wilayah kepulauan, sistem pendidikan, pengangguran terdidik, kemiskinan masyarakat, serta persoalan pengalihfungsian lahan pertanian dan pesisir di Sumenep. Untuk ”Sahabatku” Bupati Sumenep dan ”Bu Nyaiku” Wakil Bupati Sumenep, segeralah bekerja selesaikan segala hiruk pikuk kebahagiaan simbolik. Segera makmurkan masyarakat Sumenepku yang sudah berusia ratusan tahun ini.

Kemandirian masyarakat Sumenep menjadi hal mutlak yang harus dimiliki, dimulai dari ruang penghidupan ekonominya. Jangan rampas sumber penghidupan masyarakat Sumenep yang sudah ”bahagia” menjadi petani dan nelayan. Biarkan mereka memiliki lahan-lahan pertanian maupun ruang pesisir. Meskipun hanya memiliki luas sepetak, namun itu kebahagiaan dan kemandirian mereka untuk penghidupan utama keluarganya. Cukuplah kita belajar pada sejarah masyarakat pegaraman yang mengalami perampasan lahan-lahan pegaramannya selama dua kali, yakni masa Kolonialisme Belanda dan masa Orde Baru dengan dalih ”kemakmuran dan kesejahteraan” masyarakat pegaraman. Kemandirian bagi petani-nelayan bukanlah menjadi buruh (proletar), tapi bekerja sebagai petani di lahannya dan menjadi nelayan di wilayah pesisir dengan beragam potensinya.

Selamat Ulang Tahun Sumenepku. Mari mandirikan warganya. (*)

 

*)Warga Sumenep, ketua Pusat Penelitian dan Inovasi Sosial Budaya LPPM UTM

Artikel Terkait

Talak Tiga dengan Korupsi

Pemkab Sampang Semarakkan Hari Jadi

Meneroka Seni Hidup Orang Jawa

Most Read

Artikel Terbaru

/