21.6 C
Madura
Friday, December 9, 2022

Semangat dan Spiritnya Perlu Diteladani

Catatan dari Bedah Buku Dinasti Arya Wiraraja

Salah satu tokoh terkenal di Nusantara dari Sumenep adalah Arya Wiraraja. Dia diperkirakan hidup pada abad ke-13. Tepatnya pada masa kejayaan Kerajaan Singasari. Bahkan, ditengarai sebagai penasihat raja Kertanegara.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

SIANG itu, Kamis (27/10), sejumlah mahasiswa berkumpul di salah satu ruangan Universitas Bahaudin Mudhary (Uniba) Madura. Mereka membincangkan sosok Arya Wiraraja dari buku Dinasti Arya Wiraraja Menuju Puncak Kejayaan Majapahit karya R. Tadjul Arifien.

Suasana cukup seru. Waktu seolah kembali pada masa silam. Satu per satu pembedah bertutur tentang sosok Arya Wiraraja. Mulai dari sistem politik, siasat perang, hingga pada soal komitmen kenusantaraan.

Menurut pembedah Zainollah Ahmad, buku yang mengupas tentang Arya Wiraraja cukup banyak. Karya terbaru yang ditulis Tadjul Arifien ini disebut sebagai yang paling lengkap dan komprehensif. ”Saya kagum atas buku ini, ditulis dengan pembabakan sejarah yang mapan,” terang penulis buku Babad Modern Sumenep: Sebuah Telaah Historiografi itu.

Bahkan, kata pria asal Sapeken yang mukim di Jember itu, buku yang ditulis Tadjul Arifin menjadi pelengkap dari buku-buku lain. Termasuk Arya Wiraraja versi Lumajang. ”Wiraraja kan juga dikenal sebagai raja di Kerajaan Lamajang Tigang Juru,” ungkap dia.

Baca Juga :  Senopati Nusantara Diminta Permudah Izin Kepemilikan Keris

Dari sekian versi cerita-cerita tentang sosok Arya Wiraraja, yang paling penting adalah bahwa dia merupakan tokoh politik yang berhasil membangun kerangka dan fondasi tiga kerajaan besar di Nusantara. Mulai dari Singasari, Kediri, hingga Majapahit.

”Kalau soal cerita bisa kita baca dalam pelajaran sejarah. Namun, saripati dari perjalanan hidup Arya Wiraraja ini yang penting untuk dikaji dan ditelaah kembali,” ungkapnya.

Muhammad Hairil Anwari menambahkan, kisah tentang Arya Wiraraja sebagai raja di Sumenep perlu dilakukan penelitian lebih mendalam. Sebab, sejarah selalu berkaitan dengan waktu kejadian. Sehingga, peristiwa dan waktu yang terjadi bisa disandarkan dengan bukti-bukti yang konkret. Baik berupa tetinggalan, maupun prasasti.

”Di satu sisi cukup pelik kalau mau menyadari, karena untuk mengkaji sejarah kita butuh pengetahuan, namun tidak hanya meneliti. Tapi, mampu menguasai alat yang memungkinkan, bahasa misalnya,” kata Hairil.

Menurut dia, pemimpin dan masyarakat hari ini perlu mengadopsi cara berpikir dan karakteristik kepemimpinan Arya Wiraraja. Sebab, keberhasilan dalam memakmurkan masyarakat Sumenep pada masa itu, sekaligus mengusir tentara Tartar dari tanah Nusantara menjadi cerita utama yang terus diproduksi dan berkembang di masyarakat.

”Ini yang perlu kita teladani, sehingga Arya Wiraraja tidak hanya hidup sebagai raja pada masa kuno, tapi juga hidup pada masa kini,” katanya.

Baca Juga :  Tekan Dekadensi Moral dengan Budaya Lokal

Sementara Tadjul Arifien butuh waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan karyanya itu. Kajian rutin, diskusi hingga penelitian ke berbagai wilayah di Kabupaten Sumenep adalah upaya melahirkan karya yang sesuai Arya Wiraraja versi masyarakat Sumenep.

”Saya melakukan penelitian ke beberapa lokasi. Khususnya di Sumenep hingga ke daerah kepulauan. Kalau di Jawa, hanya di Lumajang yang saya teliti, di daerah Biting. Di sana ada petilasan, bukan kuburan, karena Arya Wiraraja itu bukan Islam,” tuturnya.

Beberapa referensi pokok yang dijadikan sebagai sumber dalam menulis buku Dinasti Arya Wiraraja Menuju Puncak Kejayaan Majapahit. Di antaranya Kitab Pararaton, Nagarakertagama, Kidung Ranggalawe, Kidung Kartawijaya, dan banyak lainnya. Menurut Tadjul, hal yang paling berarti dari sejarah adalah cara mengimplementasikan nilai-nilai luhur ke dalam kehidupan hari ini. Meskipun situasinya berbeda. Namun, pasti bisa disesuaikan.

”Saya berharap, cerita tentang Arya Wiraraja dijadikan acuan dalam perjalanan Sumenep ke depan. Untuk itu, generasi muda membutuhkan pengetahuan agar tidak bertanya-tanya siapa Arya Wiraraja. Dan, buku yang saya tulis ini ingin mencapai itu,” tandasnya. (*/luq)

Salah satu tokoh terkenal di Nusantara dari Sumenep adalah Arya Wiraraja. Dia diperkirakan hidup pada abad ke-13. Tepatnya pada masa kejayaan Kerajaan Singasari. Bahkan, ditengarai sebagai penasihat raja Kertanegara.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

SIANG itu, Kamis (27/10), sejumlah mahasiswa berkumpul di salah satu ruangan Universitas Bahaudin Mudhary (Uniba) Madura. Mereka membincangkan sosok Arya Wiraraja dari buku Dinasti Arya Wiraraja Menuju Puncak Kejayaan Majapahit karya R. Tadjul Arifien.


Suasana cukup seru. Waktu seolah kembali pada masa silam. Satu per satu pembedah bertutur tentang sosok Arya Wiraraja. Mulai dari sistem politik, siasat perang, hingga pada soal komitmen kenusantaraan.

Menurut pembedah Zainollah Ahmad, buku yang mengupas tentang Arya Wiraraja cukup banyak. Karya terbaru yang ditulis Tadjul Arifien ini disebut sebagai yang paling lengkap dan komprehensif. ”Saya kagum atas buku ini, ditulis dengan pembabakan sejarah yang mapan,” terang penulis buku Babad Modern Sumenep: Sebuah Telaah Historiografi itu.

Bahkan, kata pria asal Sapeken yang mukim di Jember itu, buku yang ditulis Tadjul Arifin menjadi pelengkap dari buku-buku lain. Termasuk Arya Wiraraja versi Lumajang. ”Wiraraja kan juga dikenal sebagai raja di Kerajaan Lamajang Tigang Juru,” ungkap dia.

Baca Juga :  Siapkan 8 Gelaran Karapan Sapi Tingkat Kawedanan

Dari sekian versi cerita-cerita tentang sosok Arya Wiraraja, yang paling penting adalah bahwa dia merupakan tokoh politik yang berhasil membangun kerangka dan fondasi tiga kerajaan besar di Nusantara. Mulai dari Singasari, Kediri, hingga Majapahit.

- Advertisement -

”Kalau soal cerita bisa kita baca dalam pelajaran sejarah. Namun, saripati dari perjalanan hidup Arya Wiraraja ini yang penting untuk dikaji dan ditelaah kembali,” ungkapnya.

Muhammad Hairil Anwari menambahkan, kisah tentang Arya Wiraraja sebagai raja di Sumenep perlu dilakukan penelitian lebih mendalam. Sebab, sejarah selalu berkaitan dengan waktu kejadian. Sehingga, peristiwa dan waktu yang terjadi bisa disandarkan dengan bukti-bukti yang konkret. Baik berupa tetinggalan, maupun prasasti.

”Di satu sisi cukup pelik kalau mau menyadari, karena untuk mengkaji sejarah kita butuh pengetahuan, namun tidak hanya meneliti. Tapi, mampu menguasai alat yang memungkinkan, bahasa misalnya,” kata Hairil.

Menurut dia, pemimpin dan masyarakat hari ini perlu mengadopsi cara berpikir dan karakteristik kepemimpinan Arya Wiraraja. Sebab, keberhasilan dalam memakmurkan masyarakat Sumenep pada masa itu, sekaligus mengusir tentara Tartar dari tanah Nusantara menjadi cerita utama yang terus diproduksi dan berkembang di masyarakat.

”Ini yang perlu kita teladani, sehingga Arya Wiraraja tidak hanya hidup sebagai raja pada masa kuno, tapi juga hidup pada masa kini,” katanya.

Baca Juga :  Santri Lanbulan Ngaji Sastra dan Jurnalistik

Sementara Tadjul Arifien butuh waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan karyanya itu. Kajian rutin, diskusi hingga penelitian ke berbagai wilayah di Kabupaten Sumenep adalah upaya melahirkan karya yang sesuai Arya Wiraraja versi masyarakat Sumenep.

”Saya melakukan penelitian ke beberapa lokasi. Khususnya di Sumenep hingga ke daerah kepulauan. Kalau di Jawa, hanya di Lumajang yang saya teliti, di daerah Biting. Di sana ada petilasan, bukan kuburan, karena Arya Wiraraja itu bukan Islam,” tuturnya.

Beberapa referensi pokok yang dijadikan sebagai sumber dalam menulis buku Dinasti Arya Wiraraja Menuju Puncak Kejayaan Majapahit. Di antaranya Kitab Pararaton, Nagarakertagama, Kidung Ranggalawe, Kidung Kartawijaya, dan banyak lainnya. Menurut Tadjul, hal yang paling berarti dari sejarah adalah cara mengimplementasikan nilai-nilai luhur ke dalam kehidupan hari ini. Meskipun situasinya berbeda. Namun, pasti bisa disesuaikan.

”Saya berharap, cerita tentang Arya Wiraraja dijadikan acuan dalam perjalanan Sumenep ke depan. Untuk itu, generasi muda membutuhkan pengetahuan agar tidak bertanya-tanya siapa Arya Wiraraja. Dan, buku yang saya tulis ini ingin mencapai itu,” tandasnya. (*/luq)

Artikel Terkait

Kado Buat Sumenepku yang Ke-753

Talak Tiga dengan Korupsi

Pemkab Sampang Semarakkan Hari Jadi

Meneroka Seni Hidup Orang Jawa

Most Read

Artikel Terbaru

/