21.6 C
Madura
Friday, December 9, 2022

Sape Sono’Bisa Hidupkan Ekonomi Masyarakat

PAMEKASAN – Kontes sape sono’ di Stadion R. Soenarto, Kota Pamekasan, pukau ribuan warga Sabtu (28/10). Sapi betina yang didandani ala pengantin itu menyedot wisatawan, baik lokal atau nasional. Kontes itu merupakan yang terbesar di Pulau Garam tahun ini.

Kontes sape sono’ berbeda dengan kerapan sapi. Jika kerapan sapi mengandalkan kecepatan lari sapi jantan, sape sono’ sebaliknya. Yang dinilai dari sape sono’ yaitu kecantikan serta keserasian jalan sapi. Ada garis pembatas yang tidak boleh dilewati sapi.

Meski kalah pamor dengan kerapan sapi, tapi pengunjung kontes ini cukup membeludak. Mereka bukan hanya warga Pamekasan, tetapi juga dari tiga kabupaten lainnya di Madura. Tidak sedikit pengunjung dari luar Madura yang juga menyaksikan pergelaran tersebut.

Baca Juga :  Menjaga Budaya Peninggalan Leluhur

Salah satunya Achmad Syauqi, warga asal Kabupaten Jember. Dia sengaja datang ke Pamekasan untuk menyaksikan kontes kecantikan sapi ini. ”Saya sengaja datang ke sini untuk menonton kontes sape sono’ ini. Selain itu, saya ingin melihat lomba kerapan sapi besok (hari ini, Red),” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bakorwil Pamekasan IG. NG. Indra S. Ranuh mengatakan, kontes sape sono’ ini merupakan agenda rutin. Setiap tahun pihaknya menggelar acara kontes sape sono’ yang dilanjutkan dengan kerapan sapi. Selain untuk memperingati HUT Ke-72 Provinsi Jawa Timur, kontes ini juga untuk membangkitkan ekonomi masyarakat.

”Dengan acara ini diharapkan ekomomi masyarakat Madura semakin bangkit,” katanya. ”Para wisatawan yang datang tentu akan meningkatkan daya jual sekaligus bisa mempromosikan produk-produk lokal Madura,” tegasnya.

Baca Juga :  Santri Lanbulan Ngaji Sastra dan Jurnalistik

Seniman dan Pencinta budaya Madura Budi Harianto mengatakan, sapi bagi orang Madura nyaris menjadi segala-galanya. Kepemilikan sapi selanjutnya melahirkan beragam aktivitas dan bahkan kreativitas yang lainnya. Sapi pada akhirnya semakin dibanggakan dan demikian dihargai.

”Khusus sape sono’, sapi dirawat secara maksimal dan kemudian dirias sedemikian rupa sehingga tampak artistik yang lebih,” jelas Budi. ”Eksistensi sape sono’ memiliki banyak fungsi. Di antaranya, fungsi ekonomi, sosial (kebersamaan), dan estetis atau keindahan,” pungkasnya.

PAMEKASAN – Kontes sape sono’ di Stadion R. Soenarto, Kota Pamekasan, pukau ribuan warga Sabtu (28/10). Sapi betina yang didandani ala pengantin itu menyedot wisatawan, baik lokal atau nasional. Kontes itu merupakan yang terbesar di Pulau Garam tahun ini.

Kontes sape sono’ berbeda dengan kerapan sapi. Jika kerapan sapi mengandalkan kecepatan lari sapi jantan, sape sono’ sebaliknya. Yang dinilai dari sape sono’ yaitu kecantikan serta keserasian jalan sapi. Ada garis pembatas yang tidak boleh dilewati sapi.

Meski kalah pamor dengan kerapan sapi, tapi pengunjung kontes ini cukup membeludak. Mereka bukan hanya warga Pamekasan, tetapi juga dari tiga kabupaten lainnya di Madura. Tidak sedikit pengunjung dari luar Madura yang juga menyaksikan pergelaran tersebut.

Baca Juga :  Siapkan 8 Gelaran Karapan Sapi Tingkat Kawedanan

Salah satunya Achmad Syauqi, warga asal Kabupaten Jember. Dia sengaja datang ke Pamekasan untuk menyaksikan kontes kecantikan sapi ini. ”Saya sengaja datang ke sini untuk menonton kontes sape sono’ ini. Selain itu, saya ingin melihat lomba kerapan sapi besok (hari ini, Red),” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bakorwil Pamekasan IG. NG. Indra S. Ranuh mengatakan, kontes sape sono’ ini merupakan agenda rutin. Setiap tahun pihaknya menggelar acara kontes sape sono’ yang dilanjutkan dengan kerapan sapi. Selain untuk memperingati HUT Ke-72 Provinsi Jawa Timur, kontes ini juga untuk membangkitkan ekonomi masyarakat.

”Dengan acara ini diharapkan ekomomi masyarakat Madura semakin bangkit,” katanya. ”Para wisatawan yang datang tentu akan meningkatkan daya jual sekaligus bisa mempromosikan produk-produk lokal Madura,” tegasnya.

Baca Juga :  Budayawan Ibnu Hajar: Tora Luar Biasa

Seniman dan Pencinta budaya Madura Budi Harianto mengatakan, sapi bagi orang Madura nyaris menjadi segala-galanya. Kepemilikan sapi selanjutnya melahirkan beragam aktivitas dan bahkan kreativitas yang lainnya. Sapi pada akhirnya semakin dibanggakan dan demikian dihargai.

- Advertisement -

”Khusus sape sono’, sapi dirawat secara maksimal dan kemudian dirias sedemikian rupa sehingga tampak artistik yang lebih,” jelas Budi. ”Eksistensi sape sono’ memiliki banyak fungsi. Di antaranya, fungsi ekonomi, sosial (kebersamaan), dan estetis atau keindahan,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Kado Buat Sumenepku yang Ke-753

Talak Tiga dengan Korupsi

Pemkab Sampang Semarakkan Hari Jadi

Most Read

Bersama Tingkatkan Mutu Pendidikan

Sisa Satu Kegiatan Belum Digarap

Artikel Terbaru

/