alexametrics
24 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Sulit Terapkan Pendidikan Wayang di Sekolah

PAMEKASAN – Seni wayang kulit tampaknya akan menjadi kenangan masa lalu. Sebab, generasi muda tidak lagi meminati warisan budaya leluhur ini. Bahkan di lingkungan lembaga pendidikan formal, tidak ada ruang untuk memperkenalkan seni wayang kulit.

Kepala Dinas Pendidikan Pamekasan Moch. Tarsun mengaku sulit menerapkan pendidikan wayang kulit di sekolah. Meski materi tersebut akan dimasukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Sebab minat masyarakat terhadap wayang kulit saat ini rendah, bahkan nyaris tidak ada.

”Begini, kesenian yang kami ajarkan yang diminati masyarakat. Sementara wayang kulit di Madura, khususnya Pamekasan, tidak lagi diminati,” kata Tarsun, Sabtu (27/1).

Dia menjelaskan, ketika tidak diminati warga, percuma siswa diajari kesenian wayang. Sebab siswa yang bisa mendalang juga tidak akan punya ruang berekspresi karena masyarakat tidak lagi nanggap wayang kulit.

Baca Juga :  Delapan Perupa Berkreasi di Pameran Seni Rupa Manifesto Idiot #1

”Di Madura ini beda dengan di Jawa. Di Jawa, masyarakatnya masih suka nonton wayang,” sebut Tarsun. ”Di Madura, sudah tidak ada peminat wayang,” tambahnya.

Dia bercerita, ketika ada tayangan wayang di televisi, mayoritas warga mengganti ke channel lain. Hal itu menjadi indikasi kesenian wayang tidak diminati. Ditambah, materi wayang erat kaitannya dengan cerita Ramayana dan Mahabarata. Cerita tersebut lebih dekat dengan kebudayaan Hindu dan Buddha ketimbang Islam.

Sementara masyarakat Madura mayoritas beragama Islam. Bahkan Pamekasan memiliki jargon Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam). ”Tapi ini bukan semata-mata karena Gerbang Salam. Namun, memang wayang kulit tidak lagi diminati warga,” tegasnya.

Sejauh ini, kesenian-kesenian tradisional telah diajarkan di sekolah. Seperti musik daul, tari topeng gettak, dan tarian-tarian warisan budaya lokal Madura. Kesenian-kesenian modern juga diajarkan kepada anak didik. ”Seperti drumband, kami masukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Sebab minat masyarakat terhadap drum band tinggi,” tukasnya.

Baca Juga :  Dewan Kesenian Pamekasan Tegaskan Tidak Ada Batasan Kreativitas Seni

Sementara itu, Dalang Wayang Kulit Ki Sudirman mengaku sulit mencari penerus. Upaya melahirkan dalang baru tidak membuahkan hasil. Bahkan dia telah mengadakan pelatihan di rumahnya. Akan tetapi para generasi muda biasanya hanya semangat di awal. Begitu sampai satu bulan, rata-rata menghilang satu per satu.

Ditanya kenapa tidak mengajarkan dalang di sekolah? Dia mau mengajarkan kesenian wayang kulit kepada siswa. Tetapi saat ini tidak ada materi wayang kulit dalam kurikulum sekolah. ”Kalau saya terserah dinas pendidikan. Kalau misalnya ada materi wayang kulit, saya siap mengajarkannya,” tukas Ki Sudirman.

PAMEKASAN – Seni wayang kulit tampaknya akan menjadi kenangan masa lalu. Sebab, generasi muda tidak lagi meminati warisan budaya leluhur ini. Bahkan di lingkungan lembaga pendidikan formal, tidak ada ruang untuk memperkenalkan seni wayang kulit.

Kepala Dinas Pendidikan Pamekasan Moch. Tarsun mengaku sulit menerapkan pendidikan wayang kulit di sekolah. Meski materi tersebut akan dimasukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Sebab minat masyarakat terhadap wayang kulit saat ini rendah, bahkan nyaris tidak ada.

”Begini, kesenian yang kami ajarkan yang diminati masyarakat. Sementara wayang kulit di Madura, khususnya Pamekasan, tidak lagi diminati,” kata Tarsun, Sabtu (27/1).

Dia menjelaskan, ketika tidak diminati warga, percuma siswa diajari kesenian wayang. Sebab siswa yang bisa mendalang juga tidak akan punya ruang berekspresi karena masyarakat tidak lagi nanggap wayang kulit.

Baca Juga :  Peduli Budaya, Bermunculan┬áPemuda┬áPengerap

”Di Madura ini beda dengan di Jawa. Di Jawa, masyarakatnya masih suka nonton wayang,” sebut Tarsun. ”Di Madura, sudah tidak ada peminat wayang,” tambahnya.

Dia bercerita, ketika ada tayangan wayang di televisi, mayoritas warga mengganti ke channel lain. Hal itu menjadi indikasi kesenian wayang tidak diminati. Ditambah, materi wayang erat kaitannya dengan cerita Ramayana dan Mahabarata. Cerita tersebut lebih dekat dengan kebudayaan Hindu dan Buddha ketimbang Islam.

Sementara masyarakat Madura mayoritas beragama Islam. Bahkan Pamekasan memiliki jargon Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam). ”Tapi ini bukan semata-mata karena Gerbang Salam. Namun, memang wayang kulit tidak lagi diminati warga,” tegasnya.

Sejauh ini, kesenian-kesenian tradisional telah diajarkan di sekolah. Seperti musik daul, tari topeng gettak, dan tarian-tarian warisan budaya lokal Madura. Kesenian-kesenian modern juga diajarkan kepada anak didik. ”Seperti drumband, kami masukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Sebab minat masyarakat terhadap drum band tinggi,” tukasnya.

Baca Juga :  Mengunjungi Gedung Galeri Seni Rupa yang Kondisinya Tidak Terawat

Sementara itu, Dalang Wayang Kulit Ki Sudirman mengaku sulit mencari penerus. Upaya melahirkan dalang baru tidak membuahkan hasil. Bahkan dia telah mengadakan pelatihan di rumahnya. Akan tetapi para generasi muda biasanya hanya semangat di awal. Begitu sampai satu bulan, rata-rata menghilang satu per satu.

Ditanya kenapa tidak mengajarkan dalang di sekolah? Dia mau mengajarkan kesenian wayang kulit kepada siswa. Tetapi saat ini tidak ada materi wayang kulit dalam kurikulum sekolah. ”Kalau saya terserah dinas pendidikan. Kalau misalnya ada materi wayang kulit, saya siap mengajarkannya,” tukas Ki Sudirman.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/