alexametrics
24.1 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

Pembelajaran dari Insiden Sungai Aare

Oleh AULIA FEBRINA MAHARANI*

SUNGAI Aare merupakan sungai terindah di Swiss. Pada musim semi, sebagian besar debit air berasal dari lelehan es/salju di Pegunungan Alpen. Namun, di balik keindahan dan kejernihan airnya, menyisakan banyak malapetaka bagi wisatawan korban tenggelam dan keluarganya.

Hal ini menarik perhatian seluruh masyarakat Indonesia, termasuk Menko Polhukam Prof. Mahfud M.D. yang baru-baru ini meninjau langsung lokasi tenggelamnya Eril (Emmeril Khan Mumtadz), putra sulung Gubernur Jawa Barat Mochamad Ridwan Kamil. Menurut Duta Besar RI untuk Swiss Muliaman D. Hadad, terdapat 15–20 wisatawan terseret arus dan tenggelam setiap tahun. Jumlah tersebut cukup besar, tetapi dibandingkan dengan total populasi negara penghasil cokelat dan arloji berkualitas terbaik di dunia tersebut, dapat dikatakan sangat kecil. Mengapa sebagian besar korbannya adalah wisatawan muda mancanegara? Pembelajaran apa saja yang harus dilakukan untuk mengurangi jatuhnya korban?

 

Pemuda Asing Sering Jadi Korban

Peristiwa tenggelamnya turis yang sedang bermain hanyut-hanyutan di Sungai Aare bukan fenomena baru. Kebanyakan di antara mereka adalah turis remaja mancanegara. Pada umumnya, mereka tidak tahu seberapa besar potensi bahaya bermain di sungai sepanjang 291,5 kilometer itu. Keindahan dan kejernihan airnya yang berwarna biru tosca telah menghipnotis mereka. Apalagi, mereka memiliki skill berenang plus sertifikat menyelam. Namun, itu saja tidak cukup, dibutuhkan pengalaman dan pengetahuan yang memadai untuk menaklukkan sungai yang sekilas tidak membahayakan itu.

Sebagian besar korban insiden di sungai/danau Swiss merupakan laki-laki. Dengan tenaga kuat dan kemampuan berenangnya, terkadang abai terhadap keselamatannya. Rata-rata korban tenggelam masih berusia muda. Tidak sedikit mereka meremehkan anjuran dan larangan yang terpampang di sekitar sungai. Terkadang, mereka berenang karena adanya tantangan atau untuk eksistensi walaupun tanpa menggunakan pelampung.

Baca Juga :  Pembelajaran Tatap Muka Mulai Akhir Mei

Selain itu, kekuatan arus air biasanya tidak sesuai prediksi. Kejernihan air Sungai Aare dapat menyembunyikan kekuatan arus yang sebenarnya. Hal itu dapat menimbulkan kepanikan. Apabila terjadi kram otot akan mempercepat proses tenggelamnya korban.

 

Pembelajaran Berenang

Pemerintah Kota Bern memang tidak menunjukkan secara riil jumlah korban tenggelam di papan pengumuman di pinggir Sungai Aare yang menjadi pembelajaran bagi wisatawan mancanegara. Bahkan, pencarian korban pun terbatas pada tim SAR dan kepolisian setempat agar tidak banyak terekspos dan dapat merusak citra wisata. Bagi Swiss, wisata merupakan ladang utama mendulang devisa negara. Karena itu, sebagai wisatawan asing semestinya mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum dan ketika sedang bermain hanyut-hanyutan di Sungai Aare. Beberapa tips dan trik yang berkaitan dengan lingkungan, skill, persiapan, dan cara berenang berikut dapat dijadikan pembelajaran untuk keselamatan.

Sebelum berenang, wisatawan wajib mempelajari anjuran/larangan yang ditulis di tepi Sungai Aare atau di website Pemerintah Kota Bern. Dengan begitu, pengunjung dapat mengetahui area sungai yang aman dan berbahaya serta titik turun dan naik dari sungai. Di samping itu, turis perlu mengetahui waktu, cuaca, kekuatan arus, dan temperatur air ideal untuk berenang. Suhu air sungai dapat diketahui melalui papan pengumuman di pinggir sungai ataupun secara online. Tengah hari merupakan waktu yang tepat untuk berenang. Meskipun pagi cerah, tetap tidak cocok untuk berenang karena air sungai masih tetap dingin. Air menyerap panas lebih lambat dibandingkan udara/bumi. Pada pertengahan Juni merupakan waktu yang direkomendasikan, tetapi tetap harus berhati-hati bila turun hujan di hulu, tiba-tiba aliran air akan semakin deras. Karena itu, mengetahui ramalan cuaca diperlukan sebagai antisipasi.

Bermain di Sungai Aare wajib dibekali sikill berenang dengan baik. Peregangan otot menjadi keharusan sebelum masuk ke sungai. Di samping itu, penyesuaian suhu tubuh dengan temperatur air sungai sangat penting. Misalnya mandi di pinggir sungai sesaat sebelum berenang untuk menghindari kram. Jika terjadi kram, tidak boleh panik agar tidak tenggelam. Sebenarnya diam saja akan terapung, sambil perlahan-lahan berusaha menuju tepi sungai. Hal penting lainnya, ketika kenyang dan kondisi badan tidak fit tidak boleh melakukan aktivitas berat di sungai.

Baca Juga :  Menyaksikan Sandur yang Menghibur Mahasiswa Lintas Daerah

Berenang secara berkelompok dan menggunakan safety jacket sangat dianjurkan untuk keselamatan. Mereka yang memiliki skill berenang kurang baik, masuk ke air paling akhir. Berenang ketika banyak orang sangat tepat. Apabila terjadi insiden, peluang ditolong lebih besar.

Agar tidak menguras tenaga, perenang sebaiknya menghadap searah arus air. Tetap bersikap tenang saat dibawa arus air yang kekuatannya tidak terduga sebelumnya. Berenang di sungai tidak sama dengan di kolam, yang tidak terdapat arus permukaan dan bawah air.

Saat berenang tetap memperhatikan rambu-rambu di pinggir sungai agar bisa berancang-ancang menepi sekitar 30 meter sebelum mencapai batas untuk naik. Bagi pemula, berenang di pinggir lebih aman karena arusnya tidak sekuat di tengah badan sungai. Selain itu, bimbingan tour guide profesional sangat direkomendasikan.

Dengan menerapkan pembelajaran keselamatan seperti di atas, diharapkan dapat mengurangi jumlah korban tenggelam di Sungai Aare ataupun sungai-sungai lain di dunia. Informasi tersebut perlu disosialisasikan ketika pengurusan visa wisata dan dimuat di berbagai media cetak maupun online. Sehingga, turis mancanegara dengan mudah dapat mengakses informasi yang dibutuhkan demi keselamatan jiwa dan raganya selama berenang di sungai berarus deras. (*)

 

*)Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga Surabaya

Oleh AULIA FEBRINA MAHARANI*

SUNGAI Aare merupakan sungai terindah di Swiss. Pada musim semi, sebagian besar debit air berasal dari lelehan es/salju di Pegunungan Alpen. Namun, di balik keindahan dan kejernihan airnya, menyisakan banyak malapetaka bagi wisatawan korban tenggelam dan keluarganya.

Hal ini menarik perhatian seluruh masyarakat Indonesia, termasuk Menko Polhukam Prof. Mahfud M.D. yang baru-baru ini meninjau langsung lokasi tenggelamnya Eril (Emmeril Khan Mumtadz), putra sulung Gubernur Jawa Barat Mochamad Ridwan Kamil. Menurut Duta Besar RI untuk Swiss Muliaman D. Hadad, terdapat 15–20 wisatawan terseret arus dan tenggelam setiap tahun. Jumlah tersebut cukup besar, tetapi dibandingkan dengan total populasi negara penghasil cokelat dan arloji berkualitas terbaik di dunia tersebut, dapat dikatakan sangat kecil. Mengapa sebagian besar korbannya adalah wisatawan muda mancanegara? Pembelajaran apa saja yang harus dilakukan untuk mengurangi jatuhnya korban?


 

Pemuda Asing Sering Jadi Korban

Peristiwa tenggelamnya turis yang sedang bermain hanyut-hanyutan di Sungai Aare bukan fenomena baru. Kebanyakan di antara mereka adalah turis remaja mancanegara. Pada umumnya, mereka tidak tahu seberapa besar potensi bahaya bermain di sungai sepanjang 291,5 kilometer itu. Keindahan dan kejernihan airnya yang berwarna biru tosca telah menghipnotis mereka. Apalagi, mereka memiliki skill berenang plus sertifikat menyelam. Namun, itu saja tidak cukup, dibutuhkan pengalaman dan pengetahuan yang memadai untuk menaklukkan sungai yang sekilas tidak membahayakan itu.

Sebagian besar korban insiden di sungai/danau Swiss merupakan laki-laki. Dengan tenaga kuat dan kemampuan berenangnya, terkadang abai terhadap keselamatannya. Rata-rata korban tenggelam masih berusia muda. Tidak sedikit mereka meremehkan anjuran dan larangan yang terpampang di sekitar sungai. Terkadang, mereka berenang karena adanya tantangan atau untuk eksistensi walaupun tanpa menggunakan pelampung.

Baca Juga :  SDN Gelar KBM Tatap Muka

Selain itu, kekuatan arus air biasanya tidak sesuai prediksi. Kejernihan air Sungai Aare dapat menyembunyikan kekuatan arus yang sebenarnya. Hal itu dapat menimbulkan kepanikan. Apabila terjadi kram otot akan mempercepat proses tenggelamnya korban.

 

Pembelajaran Berenang

Pemerintah Kota Bern memang tidak menunjukkan secara riil jumlah korban tenggelam di papan pengumuman di pinggir Sungai Aare yang menjadi pembelajaran bagi wisatawan mancanegara. Bahkan, pencarian korban pun terbatas pada tim SAR dan kepolisian setempat agar tidak banyak terekspos dan dapat merusak citra wisata. Bagi Swiss, wisata merupakan ladang utama mendulang devisa negara. Karena itu, sebagai wisatawan asing semestinya mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum dan ketika sedang bermain hanyut-hanyutan di Sungai Aare. Beberapa tips dan trik yang berkaitan dengan lingkungan, skill, persiapan, dan cara berenang berikut dapat dijadikan pembelajaran untuk keselamatan.

Sebelum berenang, wisatawan wajib mempelajari anjuran/larangan yang ditulis di tepi Sungai Aare atau di website Pemerintah Kota Bern. Dengan begitu, pengunjung dapat mengetahui area sungai yang aman dan berbahaya serta titik turun dan naik dari sungai. Di samping itu, turis perlu mengetahui waktu, cuaca, kekuatan arus, dan temperatur air ideal untuk berenang. Suhu air sungai dapat diketahui melalui papan pengumuman di pinggir sungai ataupun secara online. Tengah hari merupakan waktu yang tepat untuk berenang. Meskipun pagi cerah, tetap tidak cocok untuk berenang karena air sungai masih tetap dingin. Air menyerap panas lebih lambat dibandingkan udara/bumi. Pada pertengahan Juni merupakan waktu yang direkomendasikan, tetapi tetap harus berhati-hati bila turun hujan di hulu, tiba-tiba aliran air akan semakin deras. Karena itu, mengetahui ramalan cuaca diperlukan sebagai antisipasi.

Bermain di Sungai Aare wajib dibekali sikill berenang dengan baik. Peregangan otot menjadi keharusan sebelum masuk ke sungai. Di samping itu, penyesuaian suhu tubuh dengan temperatur air sungai sangat penting. Misalnya mandi di pinggir sungai sesaat sebelum berenang untuk menghindari kram. Jika terjadi kram, tidak boleh panik agar tidak tenggelam. Sebenarnya diam saja akan terapung, sambil perlahan-lahan berusaha menuju tepi sungai. Hal penting lainnya, ketika kenyang dan kondisi badan tidak fit tidak boleh melakukan aktivitas berat di sungai.

Baca Juga :  Wali Murid Keluhkan Pembelajaran Jarak Jauh

Berenang secara berkelompok dan menggunakan safety jacket sangat dianjurkan untuk keselamatan. Mereka yang memiliki skill berenang kurang baik, masuk ke air paling akhir. Berenang ketika banyak orang sangat tepat. Apabila terjadi insiden, peluang ditolong lebih besar.

Agar tidak menguras tenaga, perenang sebaiknya menghadap searah arus air. Tetap bersikap tenang saat dibawa arus air yang kekuatannya tidak terduga sebelumnya. Berenang di sungai tidak sama dengan di kolam, yang tidak terdapat arus permukaan dan bawah air.

Saat berenang tetap memperhatikan rambu-rambu di pinggir sungai agar bisa berancang-ancang menepi sekitar 30 meter sebelum mencapai batas untuk naik. Bagi pemula, berenang di pinggir lebih aman karena arusnya tidak sekuat di tengah badan sungai. Selain itu, bimbingan tour guide profesional sangat direkomendasikan.

Dengan menerapkan pembelajaran keselamatan seperti di atas, diharapkan dapat mengurangi jumlah korban tenggelam di Sungai Aare ataupun sungai-sungai lain di dunia. Informasi tersebut perlu disosialisasikan ketika pengurusan visa wisata dan dimuat di berbagai media cetak maupun online. Sehingga, turis mancanegara dengan mudah dapat mengakses informasi yang dibutuhkan demi keselamatan jiwa dan raganya selama berenang di sungai berarus deras. (*)

 

*)Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga Surabaya

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/