alexametrics
20.8 C
Madura
Monday, June 27, 2022

D. Zawawi Imron Ajak Generasi Muda Jaga Pergaulan

SUMENEP – Budayawan Madura D. Zawawi Imron memiliki pesan khusus terhadap generasi muda. Pria asal Kecamatan Batang-Batang, Sumenep, ini berpesan agar para pemuda mengedepankan akhlak. Sebab, akhlak yang menjadi senjata orang Madura di mana pun berada.

Menurut Zawawi, nenek moyang orang Madura mengajarkan agar akhlak diutamakan dibandingkan dengan lainnya. Itu bisa dilihat dari warisan-warisan kebudayaan, sastra, dan kesenian yang mencerminkan ajaran tata krama. Setiap gubahan syair atau tembang-tembang Madura selalu tersirat pesan moral.

Seperti dalam pantun berikut: sabu keccek akopeyan/somorra badha e dhaja/mon lecek sakaleyan/saomorra ta’ epartaja. Pantun tersebut, kata Zawawi, mengajarkan agar orang Madura tidak berbohong atau tidak ingkar janji.

Baca Juga :  Pendidikan Tanggung Jawab Bersama

Sebab sekali ingkar janji, sulit orang lain akan memercayai. ”Coba misalnya pinjam uang tidak bayar. Kalau mau pinjam lagi tidak mungkin dikasih,” katanya.

Ada juga pantun yang mencerminkan tentang spiritualitas orang Madura. Melle nangka kakan ka gunong/nase’ bu’u’ baddhai korran/lamon dika pekkerra bingong/duli audu’ maca Qur’an. Pesan yang tersirat di dalamnya menggambarkan bahwa orang yang bingung diajak untuk berwudu dan membaca Alquran.

”Prinsip orang Madura adalah berbantal syahadat, berselimut iman, dan berpayung rahmat. Jika prinsip ini dipegang, pasti selamat,” tegasnya.

Penyair yang dijuluki si Celurit Emas itu berpesan agar muda-mudi menjaga pergaulan. Sebab, saat ini banyak pemuda dan pemudi yang terjebak dalam pergaulan bebas. Akibatnya, banyak orang hamil di luar nikah.

Baca Juga :  Identitas Diri dan Warisan Leluhur Tak Boleh Hilang

Terkait fenomena itu, sebenarnya sudah diingatkan oleh para nenek moyang orang Madura. Itu bisa dilihat dari pantun berikut ini. Pan-sampanan ja’ nga-nengnga/Ngarambang talena panceng/Babakalan dhu ja’ na-perna/mon tapalang paraban karena lanceng.

”Paraban tape karena lanceng (perawan tapi sisa perjaka, Red). Maksudnya sudah ditembus peluru,” bebernya.

Ada pula pantun yang mencerminkan tentang betapa bermaknanya akhlak bagi orang Madura. Juko’ bulus macem barna/melle bandeng ka Gerse’ Pote/reng se bagus tatakramana/mon epandeng macellep ate.

”Pantun bahasa Madura ini menempati tempat yang sangat indah. Siapa yang bagus akhlaknya kalau dipandang menyejukkan hati,” tukas Zawawi.

SUMENEP – Budayawan Madura D. Zawawi Imron memiliki pesan khusus terhadap generasi muda. Pria asal Kecamatan Batang-Batang, Sumenep, ini berpesan agar para pemuda mengedepankan akhlak. Sebab, akhlak yang menjadi senjata orang Madura di mana pun berada.

Menurut Zawawi, nenek moyang orang Madura mengajarkan agar akhlak diutamakan dibandingkan dengan lainnya. Itu bisa dilihat dari warisan-warisan kebudayaan, sastra, dan kesenian yang mencerminkan ajaran tata krama. Setiap gubahan syair atau tembang-tembang Madura selalu tersirat pesan moral.

Seperti dalam pantun berikut: sabu keccek akopeyan/somorra badha e dhaja/mon lecek sakaleyan/saomorra ta’ epartaja. Pantun tersebut, kata Zawawi, mengajarkan agar orang Madura tidak berbohong atau tidak ingkar janji.

Baca Juga :  Data Ulang Kebudayaan dan Seni Tradisi

Sebab sekali ingkar janji, sulit orang lain akan memercayai. ”Coba misalnya pinjam uang tidak bayar. Kalau mau pinjam lagi tidak mungkin dikasih,” katanya.

Ada juga pantun yang mencerminkan tentang spiritualitas orang Madura. Melle nangka kakan ka gunong/nase’ bu’u’ baddhai korran/lamon dika pekkerra bingong/duli audu’ maca Qur’an. Pesan yang tersirat di dalamnya menggambarkan bahwa orang yang bingung diajak untuk berwudu dan membaca Alquran.

”Prinsip orang Madura adalah berbantal syahadat, berselimut iman, dan berpayung rahmat. Jika prinsip ini dipegang, pasti selamat,” tegasnya.

Penyair yang dijuluki si Celurit Emas itu berpesan agar muda-mudi menjaga pergaulan. Sebab, saat ini banyak pemuda dan pemudi yang terjebak dalam pergaulan bebas. Akibatnya, banyak orang hamil di luar nikah.

Baca Juga :  Pendidikan Tanggung Jawab Bersama

Terkait fenomena itu, sebenarnya sudah diingatkan oleh para nenek moyang orang Madura. Itu bisa dilihat dari pantun berikut ini. Pan-sampanan ja’ nga-nengnga/Ngarambang talena panceng/Babakalan dhu ja’ na-perna/mon tapalang paraban karena lanceng.

”Paraban tape karena lanceng (perawan tapi sisa perjaka, Red). Maksudnya sudah ditembus peluru,” bebernya.

Ada pula pantun yang mencerminkan tentang betapa bermaknanya akhlak bagi orang Madura. Juko’ bulus macem barna/melle bandeng ka Gerse’ Pote/reng se bagus tatakramana/mon epandeng macellep ate.

”Pantun bahasa Madura ini menempati tempat yang sangat indah. Siapa yang bagus akhlaknya kalau dipandang menyejukkan hati,” tukas Zawawi.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/