
Oleh HIDAYAT RAHARJA*
SENI rupa di Sampang terus bergerak dalam sebuah dinamika, merajut perjalanan bersambung dari masa lalu, saat ini ke masa depan.
Meski sejarah tidak mencatatnya, namun perjalanan seni rupa Sampang terus tumbuh dan mengalami dinamika cukup unik dan menarik untuk ditelusuri.
Saya memulainya dari Lѐncak Palѐ’ sebagai karya rupa tiga dimensi berupa tempat tidur dengan empat tiang kayu dengan tekstur lilitan pada tiap tiang dan pada bagian hulu dipan (lencak) terdapat lukisan buraq.
Lѐncak yang sangat populer di masa lalu karena setiap pasangan yang akan menikah menjadikan lencak ini sebagai bawaan manten pria pada saat lamaran. Lѐncak Palѐ’ menjadi simbol ekonomi kelas menengah.
Namun kedigdayaan lѐncak kemudian diruntuhkan dengan produk industri modern spring bed yang menjadi simbol baru dalam kenyamanan dan keempukan dalam menikmati tidur.
Lѐncak Palѐ’ sebagai salah satu karya seni rupa dan menjadi produk khas daerah Sampang, sehingga saat berbicara lѐncak yang spesifik di Sampang, generasi masa lalu akan menunjuk Lѐncak Palѐ’ sebagai identitas.
Identitas ini yang selalu menghantui pikiran saya bahwa ada sesuatu di Sampang yang belum muncul dan berbeda dari daerah lain.
Maka, saya optimistis Kelompok Perupa Sampang (KPS) kelak akan memunculkan identitas ke-Sampang-an yang berbeda dengan karya dari kota lain.
Saya tidak menampik kalau gencarnya arus informasi dan industri memasuki berbagai wilayah di Madura telah mengubah berbagai hal yang semula dirasakan unik dan menarik sebagai identitas daerah.
Namun saya masih menyimpan keyakinan di antara gempuran industri masih ada di antara mereka yang bertahan untuk menggali dan melakukan adaptasi secara evolutif.
Pada 23 Desember 2023 sampai dengan 3 Januari 2024, KPS menyelenggarakan pameran seni rupa Titik Balik#5 dengan tajuk ”Jalan Terus”. Pameran ini bertempat di gedung Perpustakaan Daerah Sampang.
Titik Balik, titik mula untuk kembali berangkat menuju tujuan awal yang telah ditetapkan. Pameran Titik Balik di tahun kelima, sebuah rutinitas yang telah berjalan untuk menutup tahun. Sebuah konsistensi dari teman-teman KPS dalam menjalin arah perjalanan seni rupa di Sampang.
Sebuah komunitas yang merangkul berbagai generasi dan memberikan ruang ekspresi dalam dunia seni rupa.
Setidaknya pertumbuhan seni rupa dapat terlihat dalam pameran yang secara berkala dilangsungkan setiap tahun.
Beberapa seniman senior yang terlibat dalam pameran ini antara lain Chairil Alwan, Satuman, Hendri R Sidik, Nanang N, Abd. Hamid, perupa yang tidak asing lagi di Sampang.
Beberapa perupa yang lebih muda usianya, antara lain Hermansyah, Kuntet, Jupri, Indah F Nanggala.
Pameran kali ini sangat menarik untuk disimak. Chairil Alwan dengan lukisan-lukisannya memiliki ciri khas yang mapan dan menjadi karakteristik yang membedakannya dari perupa lain. Dalam pameran ini Chairil Alwan menyertakan tiga lukisan.
Di antaranya ”Putus”, lukisan dengan warna yang simpel; hitam, putih, cokelat, dan hijau saling menopang. Bentuk orang-orang yang tunduk, dan beberapa orang melayang dan merangkul bahu. Seperti melambangkan manusia yang tunduk dan bersama.
Hampir di setiap lukisan Chairil Alwan terlihat daun berwarna hijau berpadu dengan daun warna hitam atau cokelat seperti perbedaan kontras yang bersama-sama melayang. Sebuah momen yang mengingatkan akhir dari sebuah perjalanan dalam kehidupan ini.
Bahwa, yang hidup akan mati. Gambaran bahwa baik yang masih muda maupun yang sudah tua (kering) akan tiba waktunya jatuh mencium tanah. Mengapa daun? Tentu pilihan yang sangat puitis.
Daun yang melayang lepas dari tangkai perlahan lau mencium muka tanah. Lukisan dengan filosofi yang dalam tentang manusia dan kehidupan. Bahwa yang hidup (yang bernapas) akan mati, sebagaimana dijelaskan dalam kitab suci.
Satuman dengan lukisan berbahan canvas printing, hasil cetak dari lukisannya cukup menarik untuk disimak. Tiga lukisannya melakukan deformasi terhadap wajah dan tubuh manusia.
Seseorang yang tengah sedih memainkan biola, dedaunan hijau berguguran dan seekor kucing bersimpuh di dekatnya.
Latar yang membuat pandangan semakin sendu pada lukisan ”Sang Pangiran I”. Kesenduan yang terasa liris memainkan irama hati.
Kegalauan yang mengalir mengikuti gesekan biola yang bertumpu di bahu kiri. Tubuh yang telah kehilangan penglihatan dan pendengarannya karena yang mendengar bukan lagi telinga tetapi hati yang bersemayam dalam diri.
Seorang laki-laki dengan tubuh jangkung bahkan tidak proporsional tengah menjulurkan tangan pada seorang anak yang tengah merangkak, ikan-ikan gesit bergerak di bawah perahu bersandar dan langit warna biru.
Warna teduh menarasikan hidup yang tenteram, bahkan sunyi. Hanya riuh ikan-ikan berenang dalam gerombolan.
Tubuh jangkung dan tubuh anak-anak yang proporsional, sebuah simbol peran orang tua dalam mengarahkan anaknya untuk mencapai tujuan hidupnya. Karya A. Hamid sangat khas dengan bentuk tubuh jangkung kadang terasa surealis.
Karya Hendri R Sidik, kali ini menampilkan tiga lukisan kecil dengan karakteristiknya yang unik. Jalinan garis saling berkelindan membentuk objek garis, membentuk bidang saling bergesek dan saling menindih sehingga tampak seperti mesin mendengungkan kebisingan dalam diri.
Kadang terasa garis-garis itu seperti organ dalam tubuh yang tengah bergerak melakukan metabolisme, seperti juga hidup yang tiada henti mencerna dan memberikan makna berbagai persoalan.
Perputaran yang tak pernah berhenti sampai ajal tiba untuk mematikan semua alarm kehidupan dalam tubuh.
Sementara dari pelukis muda yang menarik perhatian adalah karya-karya Indah F Nanggala, pelukis perempuan yang masih menempuh pendidikan semester tiga prodi komunikasi Universitas Trunojoyo Madura.
Karya yang didominasi dengan warna-warna menyala dengan berbagai bentuk figuratif bagian-bagian tubuh. Salah satu karyanya berjudul ”Tumbuh Suri” merupakan deformasi bentuk tubuh dengan kepala besar dan tubuh yang kerdil terasa ganjil dan jenaka menjadikan karya-karyanya cukup satir dan memberikan ruang eksplorasi yang lebih leluasa.
Dalam lukisannya tidak terlihat lagi bentuk tubuh yang formal namun terlihat bagian-bagian tubuh yang mengalami deformasi.
Sebuah pilihan untuk menempuh jalan lain dalam mengungkapkan wujud dari realisme ke bentuk formal simbolik.
Beberapa lukisan kaligrafi karya Hermansyah, lukisan-lukisan dengan warna hijau dominan, kuning, coklat, merah, dan potongan ayat suci di antara lanskap yang melatar belakangi lukisan.
Karya berjudul ”Kontemporer”, langit dengan pendar galaksi bertabur di langit malam dan di bawahnya lukisan alam terbentang dengan warna cerah dan hidup.
Alam hijau nan indah dan tulisan kaligrafi bahasa arab mengutip ayat Al-Qur’an mengenai janji penyerahan hidup dan mati manusia dan hidup ini. Inna sholati wanusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil alamin.
Juga dua lukisan lainnya yang terpajang di ruang lobi ini cukup menarik karena merupakan salah satu karya santri dari Pondok Pesantren Assirojiyyah.
Kehadiran santri dalam kegiatan pameran Ini menandakan bahwa seni rupa (kaligrafi) tumbuh di Sampang.
Pencarian dan eksplorasi Hermansyah memberikan ruang yang lebih luas dan berbagai kemungkinan untuk memasuki wilayah kreatif sehingga menghasilkan karya yang lebih mapan.
Barangkali Hermansyah perlu banyak lagi menggali berbagai referensi kaligrafi kontemporer sehingga karya-karya yang dibayangkannya memiliki tautan dengan perkembangan kaligrafi mutakhir, baik dari sisi bahan, media, teknik, dan tema.

Eksplorasi ke Dalam Diri
Kekuatan sebuah karya seni rupa (lukis) berawal dari keberanian dan konsistensi untuk menggali kemampuan dalam diri, sehingga mampu melakukan berbagai eksplorasi dan berbagai ruang penjelajahan tanpa harus meninggalkan identitas yang melekat dalam diri.
Peluang yang kemungkinan bisa diraih dengan jalan istiqomah dan melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa dijamah sehingga berbeda dengan yang lain.
Perjalanan Chairil Alwan merupakan perjalanan melintasi batas-batas kemungkinan. Jalan menuju ke asal. Madura yang bukan bentuk fisik tetapi spirit Madura yang religius. Madura dalam karya-karya Chairil Alwan adalah nilai-nilai kemaduraan yang bersifat universal.
Bagaimana perilaku orang Madura dalam memperlakukan hidup dan kehidupan. Mereka yang ulet dan tangguh namun selalu berserah kepada Tuhan yang Maha Pemberi Anugerah.
Karya-karya yang konsisten dan menemukan identifikasinya sebagai diri Chairil Alwan yang berbeda dari yang lain.
Eksplorasi yang terus berjalan dengan pergerakan waktu, sehingga mampu menemukan esesnsi dari spirit ke-Madura-an bukan pada wujud, tetapi pada nilai-nilai filosofis.
Sejauh mana akan bertahan, tentu pilihan-pilihan semacam ini akan terus bergerak dan sampai pada titik yang lain dengan identitas yang lekat dengan diri Chairil Alwan.
Juga permainan garis dan bidang yang dilakukan Hendri R Sidik merupakan sebuah jalinan yang menguatkan identitas diri.
Permainan garis dan bidang saling bergesek seperti putran mesin yang tidak henti menimbulkan dengung dalam diri.
Suara-suara yang terus memanggil ke dalam diri laksana zikir yang selalu mengingatkan. Laksana organ-organ tubuh yang terus bergerak dan menggetarkan bagian tubuh.
Gerakan-gerakan yang terus bergerak menuju pusat diri, berkhidmat dan mengagungkan keagungan yang tunggal.
Karya-karya Indah F Nanggala memberikan harapan dan berbagai kemungkinan dari berbagai eksplorasi yang dilakukan.
Deformasi bentuk tubuh dengan warna-warna keras menjadikannya api gairah yang tidak pernah padam, selalu membara.
Satu-satunya pelukis perempuan di dalam pameran ini. Waktu yang akan menentukan keberadaan mereka di waktu yang akan datang.
Permainan garisnya yang tegas dan warna-warnanya yang keras memberikan kemungkinan-kemungkinan eksplorasi ke dalam tema maupun objek yang lebih beragam.
Semoga pameran Titik Balik#5 yang mengambil tajuk ”Jalan Terus” menjadi titk tolak untuk terus melakukan eksplorasi diri dan menemukan bentuk-bentuk personal sebagai identitas yang mampu memberikan warna dalam perkembangan seni rupa di daerah Sampang. Jalan Terus, jalan menuju ruang eksplorasi yang kian menukik ke dalam diri sendiri. (*)
*)Guru, pelukis sketsa, dan partisipan pameran Titik Balik#5. Tinggal di Sampang.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

