
Oleh MASYITHAH MARDHATILLAH
GADIS Kretek, serial Indonesia pertama yang tayang di Netflix dan merupakan adaptasi novel dengan judul yang sama, hingga hari ini masih laris manis di pasar nasional bahkan internasional. Selain bertabur bintang papan atas, beberapa adegan dengan nuansa dan latar khas ala tahun ’60 dan 2000-an menjadikan daya tarik serial tersebut paripurna, termasuk singgungan dengan peristiwa misterius G-30-S.
Satu hal mencolok dari serial ini adalah tidak disensornya adegan merokok. Barangkali ini tak terhindarkan, mengingat rokok atau kretek merupakan tema utama yang tidak hanya menjadi pusat perbincangan, tetapi juga akar dan muara seluruh persoalan. Kretek yang biasa lekat dengan lelaki, dalam serial ini justru digambarkan menjadi passion seorang perempuan.
Adalah Dasiyah, sosok yang diceritakan cukup panjang lebar di serial—namun tidak di novel—dengan berbagai privilege sebagai putri sulung juragan kretek. Dengan keseriusan penuh mengawal usaha kretek sang ayah, ia hadir dengan berbagai gagasan cemerlang di tengah persaingan bisnis kretek dan cita-citanya menciptakan kretek dengan kualitas dan cita rasa terbaik.
Apa yang dilakukan Dasiyah tidak hanya berbeda untuk konteks saat itu, tetapi juga—barangkali—untuk saat ini. Ia menggugat pengotakan peran dan porsi lelaki-perempuan dengan memasuki wilayah yang telanjur dianggap sebagai zona (eksklusif) lelaki. Meski menerima resistensi termasuk dari ayahnya, Dasiyah berhasil membuktikan bahwa racikan sausnya untuk Kretek Gadis benar-benar istimewa.
Dasiyah menyadari betul konsekuensi dari pilihannya. Ketika seorang pemuda bernama Soeraja menyatakan perasaan cintanya, Dasiyah yang sebenarnya juga menyukai anak buah ayahnya tersebut tidak serta-merta menyambutnya. Ia mengingatkan Soeraja bahwa dirinya tidak sama dengan perempuan lain. Dasiyah seperti ingin memastikan bahwa di balik ia yang bucin, mimpi besarnya tak akan ia gadaikan.
Dan benar saja. Pulang dari pembuangan, Dasiyah yang kecewa mendapati pernikahan Soeraja dan dicurinya resep saus rahasia Kretek Gadis untuk Kretek Djagad Raja hasil kongsi Soeraja dan sang mertua, musuh bebuyutan ayahnya, tidaklah putus asa. Ia memulai segalanya nyaris dari nol dan kembali menemukan jati dirinya sebagai titisan Roro Mendut dengan kretek lintingan yang gurih tiada dua.
***
Jika Kudus, salah satu kota dalam serial tersebut, adalah Kota Kretek, maka Madura sempat menjadi Pulau Tembakau. Beberapa titiknya konon memiliki tembakau terbaik dengan cita rasa istimewa. Panen tembakau sempat menjadi momentum paling ditunggu sebab harganya yang mahal memungkinkan masyarakat menunaikan hajat mulai dari membuat rumah, membeli sapi, hingga menikahkan anak.
Dua dasawarsa belakangan, daun emas tersebut tidak lagi menjadi primadona; harganya terjun bebas, sementara biaya produksi tetap bahkan semakin melangit. Meski demikian, kebiasaan merokok di Madura tak ikut surut. Rokok tetap menjadi bahasa komunikasi dan simbol keakraban non-verbal di seluruh lapisan. Situasi ini melahirkan rokok-rokok lokal yang justru menjadi pintu masuk perempuan Madura dalam industri besarnya.
Industri rokok memang sengaja membidik perempuan setengah baya dengan asumsi ketelatenan melakukan pekerjaan-pekerjaan teknis seperti menggiling bahan mentah, membatang rokok, merapikan ujung batang, mengemas, hingga membandrol. Seperti halnya dalam Gadis Kretek, mereka juga tidak memiliki akses dalam proses peracikan bahan yang dalam bahasa lokal dikenal dengan istilah ngecam.
Alasan utamanya, tentu adalah karena sebagian besar pekerja tersebut tidak merokok, sehingga jangankan menakar cita rasa, mengenalnya saja pun tidak. Merokok memang masih menjadi wilayah yang nyaris eksklusif bagi lelaki Madura. Ini berbeda dengan latar dalam Gadis Kretek yang menggambarkan Dasiyah dan ibunya sering mengisap kretek. Selain privilege sebagai ”orang dalam”, kebiasaan itulah yang memungkinkan keduanya cawe-cawe dalam bisnis kretek.
Karena itu, meski memiliki kesempatan jenjang karier, pekerja perempuan tampaknya tidak akan bisa memberi banyak warna dalam industri rokok Madura seperti yang dilakukan Dasiyah. Gaji yang mereka dapatkan akan habis untuk hal-hal konsumtif, sementara keterampilan kerja yang mereka asah juga tidak memungkinkan akses untuk urusan ”dapur” dalam industri rokok.
Sementara itu, meski berada di usia produktif, minimnya pengalaman kerja, terbatasnya keterampilan, serta rendahnya pendidikan dalam kultur patriarki tidak memberi mereka banyak pilihan. Industri rokok menjadi satu di antara sedikit pilihan tersebut sehingga dengan mengesampingkan berbagai risiko dan pertimbangan, mereka bertahan menjadi gadis-gadis kretek yang hampir pasti akan tetap pada posisi jalan di tempat.
Hingga kini, menjadi buruh rokok masih menjadi preferensi banyak perempuan. Fleksibilitas tempat dan jam kerja—bagi industri rokok rumahan—yang dibarengi dengan besarnya penghasilan berhasil menjadi daya tarik dan solusi dari sektor-sektor mata pencaharian lain yang kurang menjanjikan. Menjadi ”gadis kretek”, bagi mereka, adalah jalan ninja menunjukkan eksistensi dan kontribusinya di tengah berbagai keterbatasan. (*)
Kepala PSGA (Pusat Studi Gender dan Anak) IAIN Madura
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




