Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Puisi Aqil Husein Almanuri

H
Ilustrasi. (Pixabay)
Ilustrasi. (Pixabay)

0 Kilometer


Advertisement

(Pertemuan)

 

Jarak hanya bongkahan perasaan

Advertisement

Di depan kerinduan, ia hanyalah reruntuhan

Lalu temu kita menjadikannya abu

Terbang ke segala arah, membawa doa

Advertisement

 

Deru angin tak pernah asing kita dengar

Sebab, ia senada dengan debar dada kita

Yang dengan tenang mencari cinta

Sembari meminta takdir pada Tuhan

Sumenep, 2023

………………………….

 

Pos Kopi

Segalanya menjadi pembahasan

Tentang secangkir robusta yang kupesan

Secawan mi instan yang kau makan

Atau tentang dari mana asal rindu diciptakan

 

Aku memilih berdamai dengan kopi pahit

Sebab malam itu, gula telah diciptakan oleh perasaan.

Cuaca di kafe kala itu damai

Musik-musik sengaja dimainkan agar dingin malam tak terlalu tajam

 

Kita menikmati malam itu bersama

Bahkan lalu-lalang kendaraan hanyalah kemustahilan

Yang terdengar adalah debar-debar pengharapan

Yang kita ciptakan dengan pertemuan

 

Sumenep, 2023

………………………….

 

Menuju Giligenting

Layar dibentangkan

Angin digiring Tuhan menuju wajahmu

Ikan-ikan membuat garis perjalanan

Di antara waktu dan pertemuan

 

Riak laut yang membentur badan kapal

Menghubungkan jalan hati kita

Segalanya bertaut; rindu dan gerimis

Aku ingin tenggelam ke dasar hatimu, sayang

 

Kita adalah musafir lautan yang saling jatuh cinta

Yang pantang pulang sebelum kisah dituntaskan

Usah peduli pada mesin kapal yang meracau

Kau hanya perlu melihat ke depan, pulau tujuan

 

Sumenep, 2023

………………………….

 

Fragmen Senja

(Pantai 9)

Siluet berparas cantik itu adalah bagian dari fragmen

Yang tak bisa kulukis walau dengan cat air apa pun

Ia memainkan ayunan di pesisir,

Sambil sesekali menyaksikan keheningan di sekitar

 

Amboi, mataku terbelalak

Senja begitu manis meracik bayangannya

Angin di tubuhnya masih menenangkan

Singkap matanya diam-diam mendebarkan

 

Sumenep, 2023

………………………….

 

Pulang

(Kepulanganmu ke Bojonegoro)

Aku mengantarkanmu dengan kerikil di dada

Dengan api yang tak dapat dipadamkan sendiri

Hingga di persimpangan, hati gemetar samar

Tangis membuncah hebat, namun tak ingin kuhidangkan

 

Sepanjang jalan menuju pemberhentian bus

Puisi-puisi berpulang ke dasar hati

Mereka melebur, kembali menjadi benih rindu

Dan akan merekah sempurna, saat kau benar-benar pulang

 

AKAS PO IV melaju melambat menghampiri tempat kita

Kernet menggotong tas kopermu, sementara aku memegangi ketulusan

Kau makin cantik saja.

Senyum kau lempar, tangan kau lambai, aku mulai mengasuh rindu yang mulai bertunas

 

Sumenep, 2023

………………………….

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Advertisement
Editor : Hera Marylia
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer