
0 Kilometer
(Pertemuan)
Jarak hanya bongkahan perasaan
Di depan kerinduan, ia hanyalah reruntuhan
Lalu temu kita menjadikannya abu
Terbang ke segala arah, membawa doa
Deru angin tak pernah asing kita dengar
Sebab, ia senada dengan debar dada kita
Yang dengan tenang mencari cinta
Sembari meminta takdir pada Tuhan
Sumenep, 2023
………………………….
Pos Kopi
Segalanya menjadi pembahasan
Tentang secangkir robusta yang kupesan
Secawan mi instan yang kau makan
Atau tentang dari mana asal rindu diciptakan
Aku memilih berdamai dengan kopi pahit
Sebab malam itu, gula telah diciptakan oleh perasaan.
Cuaca di kafe kala itu damai
Musik-musik sengaja dimainkan agar dingin malam tak terlalu tajam
Kita menikmati malam itu bersama
Bahkan lalu-lalang kendaraan hanyalah kemustahilan
Yang terdengar adalah debar-debar pengharapan
Yang kita ciptakan dengan pertemuan
Sumenep, 2023
………………………….
Menuju Giligenting
Layar dibentangkan
Angin digiring Tuhan menuju wajahmu
Ikan-ikan membuat garis perjalanan
Di antara waktu dan pertemuan
Riak laut yang membentur badan kapal
Menghubungkan jalan hati kita
Segalanya bertaut; rindu dan gerimis
Aku ingin tenggelam ke dasar hatimu, sayang
Kita adalah musafir lautan yang saling jatuh cinta
Yang pantang pulang sebelum kisah dituntaskan
Usah peduli pada mesin kapal yang meracau
Kau hanya perlu melihat ke depan, pulau tujuan
Sumenep, 2023
………………………….
Fragmen Senja
(Pantai 9)
Siluet berparas cantik itu adalah bagian dari fragmen
Yang tak bisa kulukis walau dengan cat air apa pun
Ia memainkan ayunan di pesisir,
Sambil sesekali menyaksikan keheningan di sekitar
Amboi, mataku terbelalak
Senja begitu manis meracik bayangannya
Angin di tubuhnya masih menenangkan
Singkap matanya diam-diam mendebarkan
Sumenep, 2023
………………………….
Pulang
(Kepulanganmu ke Bojonegoro)
Aku mengantarkanmu dengan kerikil di dada
Dengan api yang tak dapat dipadamkan sendiri
Hingga di persimpangan, hati gemetar samar
Tangis membuncah hebat, namun tak ingin kuhidangkan
Sepanjang jalan menuju pemberhentian bus
Puisi-puisi berpulang ke dasar hati
Mereka melebur, kembali menjadi benih rindu
Dan akan merekah sempurna, saat kau benar-benar pulang
AKAS PO IV melaju melambat menghampiri tempat kita
Kernet menggotong tas kopermu, sementara aku memegangi ketulusan
Kau makin cantik saja.
Senyum kau lempar, tangan kau lambai, aku mulai mengasuh rindu yang mulai bertunas
Sumenep, 2023
………………………….
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

