Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tanah sebagai Warisan Terakhir

H

Ilustrasi. (Pixabay)
Ilustrasi. (Pixabay)
 


Advertisement

Oleh UBAIDILLAH

MANUSIA merupakan salah satu makhluk atau ciptaan Tuhan yang hidup di bumi. Dengan segala karunia Tuhan Yang Mahakuasa, manusia dapat bertahan hidup dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas Tuhan yang terdapat di bumi; tanah, air, udara, dll. Namun, yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, perannya sebagai khalifah di bumi. Hal ini  dijelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 30. Jadi, sebagai khalifah seharusnya bertindak dengan bijak, bukan lantas menjadi perusak. Jika pemimpin sudah tidak karuan, bagaimana dengan bumi ini?

Dengan akal, kita dapat memilah dan memilih antara hal yang baik dan hal yang buruk. Memanfaatkan akal merupakan bentuk syukur pada Tuhan. Biasanya, semakin bertambah pengetahuan, akan berpikir skala panjang terhadap sesuatu yang akan kita lakukan. Alhasil, jika bertambah pengetahuan malah menjadi semakin buruk, itu berarti sudah tidak biasa, bukankah begitu? Pengetahuan tanpa pengamalan merupakan tindakan yang dapat menjerumuskan ahlinya terhadap api neraka sebagaimana dijelaskan dalam kitab Kifayah al-Atqiya’.

Advertisement

Termasuk ciri-ciri makhluk hidup ialah berkembang biak. Artinya, dapat memiliki keturunan. Dalam agama Islam, tedapat ”hifdzun nafsi”(pemeliharaan terhadap jiwa), artinya menjaga nyawa atau kehidupan sehingga hal tersebut menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk menjaga kehidupan sekalipun merelakan ”hifdzun din”(menjaga atau memelihara agama).

Dari hal tersebut dapat kita pahami bahwa menjaga kehidupan itu sangat penting daripada menjaga agama. Dalam menjaga eksistensi kehidupan, tidak hanya terpaku pada nyawa diri kita sendiri, akan tetapi penjagaan tersebut harus kita lakukan kepada makhluk lainnya sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Baijuri (tayamum). Begitu juga menjaga anak cucu kita.

Di Madura terdapat tanah yang nilainya sangat berharga (sangkolan), yang tidak sembarang dijual kecuali kepentingan yang sangat mendesak, begitu pun dijualnya kepada kerabat atau tetangga terdekat, yang kemudian dibeli kembali apabila mampu. Namun, pemeliharaan terhadap tanah sangkol mulai menyusut. Hal itu terbukti di daerah pesisir Semenep; Ambunten, Batuputih, sampai Dungkek; sedikit banyak sudah dikuasai investor luar. Permasalahan tersebut dapat kita rasakan dampaknya sekarang ini dengan limbah tambak udang. Apalagi, hal tersebut dapat berdampak pada kehidupan anak cucu kita karena pencemaran lingkungan yang semakin menerpa ataupun tidak adanya kekuasaan tanah di tempat yang menjadi tempat tinggal mereka. Dari hal tersebut, menjaga tanah sebagai bentuk amanah dari sesepuh dan menjaga keharmonisan kehidupan anak cucu kita nanti.

Advertisement

Kesadaran

Perlu kesadaran yang harus kita timbulkan agar perubahan terhadap hal yang lebih baik terwujudkan. Begitu pula perubahan pada sesuatu yang menjadi bekal bagi anak cucu kita. Dengan demikian, yang kita wariskan pada mereka ialah sesuatu yang berguna.

Hidup di dunia tidak sendirian, masih banyak orang lain yang juga butuh terhadap alam. Entah orang tersebut hidup sezaman dengan kita ataupun di kemudian hari. ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (yang lain)” merupakan dalil yang menjelaskan bahwa paling baiknya manusia ialah yang memberikan manfaat terhadap orang lain. Penjagaan, perawatan, dan pelestarian tanah yang kita miliki atau dijadikan tempat tinggal menjadi sesuatu berharga yang dapat menjadi hak milik anak cucu kita nanti.

Pemikiran Pendek

Terkadang, manusia di zaman sekarang serakah terhadap harta yang melimpah seperti merelakan tanah suburnya pada investor dengan dalih bayaran yang melimpah. Pemikiran skala pendek membuatnya buta akan kerugian yang akan menimpa pada anak cucunya. Jika semua daerah kita sendiri sudah dikuasai oleh orang asing, di manakah tempat yang dapat kita tinggali? Padahal, orang asing yang mengeluarkan bayaran besar itu hanya taktik yang dapat merugikan kita di kemudian hari. Sementara tanah yang didapatkan  dapat dikelola berkali-kali sehingga keuntungan bisa berlipat ganda.

Dulu, sesepuh kita rela mati-matian membela tanah air daripara penjajah, lantas apakah kita mau menyerahkannya kembali pada mereka? Kita juga dapat meniru prinsip sesepuh kita yang menanam pohon untuk kemanfaatan bagi anak cucu.  Karena itu, selaku generasi yang baik, hendaknya mewujudkan atau melestarikan warisan sesepuh.

Mengharap dunia (harta) semata untuk kita sendiri hanya dapat meninggalkan sesuatu yang lebih penting, yaitu kehidupan anak cucu. Sebenarnya, kebanyakan manusia zaman sekarang itu sudah tercukupi kebutuhannya. Hanya, mereka mengejar style untuk menghimpunnya pada kebutuhan hidup. Style timbul seiring berjalannya zaman. Tentu dan semestinya kita yang harus mengendalikan zaman, bukan kita terkendali oleh zaman.

Kehidupan di dunia hanyalah sementara. Jika hanya memikirkan kenikmatan diri sendiri itu tidak akan bertahan lama. Beda halnya, apabila kita menyediakan kepentingan orang lain, yang seharusnya menjadi acuan dan seabagai bekal bagi kita kelak di akhirat karena amal baik yang dilakukan.

Apabila terdapat seseorang yang tidak tahu tentang bahaya menyerahkan tanah miliknya terhadap investor luar, kita harus turun tangan dengan memberikan wawasan dalam menanggulangi permasalahan tersebut. Ataupun, kita harus mampu mengelola tanah kita agar kemiskinan tidak terus-menerus menjadi sebab terkepungnya kita dari bangsa luar. Peningkatan daya saing ekonomi dan ideologi menjadi bahan dasar dalam menangani penjajahan bangsa luar di era sekarang. Tanah kita memang subur, namun jangan sampai kita yang terkubur.

Tiada perbedaan dalam penyerahan tanah terhadap orang luar atau orang di sekitar kita, pastilah terdapat kerugian, tiada warisan bagi anak cucu di kala diri kita tidak mampu untuk mengelolanya. Namun, yang paling diwaspadai adalah penyerahan lahan terhadap orang asing yang kemungkinan besar akan terulang kembali sejarah penjajahan.

Apabila kita memiliki tanah, hendaknya diwariskan pada anak cucu. Setidaknya kita harus memiliki sesuatu yang berguna untuk diwariskan pada anak cucu. Dengan pewarisan tanah akan bersifat tahan lama. Beda halnya dengan barang lainnya; rumah dan mobil yang cepat rusak dan tidak dikelola dengan mudah sebagaimana pengelolaan tanah

Dunia segera tiada karena akhirat menjadi alam kita selanjutnya. Tiada mobil mewah yang dapat dibawa ke kuburan, hanyalah keranda yang menjadi kendaraan. Tiada rumah mewah yang dapat ditempati di kala mati, tetapi hanyalah lubang sempit yang menjadi peristirahatan kita nanti. Hanya amal saleh yang menjadi bekal kelak di kemudian hari, menjaga atau melestarikan lingkungan merupakan amal saleh karena menyumbangkan manfaat terhadap orang lain; anak cucu. Orang tua mestilah menginginkan anak cucunya itu bahagia sekalipun dirinya tidak sepuasnya bahagia. Cukup dengan mewariskan tanah, kita dapat memberi hadiah terhadap anak cucu kita. Dengan tanah tersebut, mereka dapat mengelolanya sehingga kebahagiaan mereka akan terwujudkan. (*)

*) Santri Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Bupati Fauzi Siapkan Langkah Strategis Majukan Sumenep Usai Borong Enam Penghargaan Wilwatikta Award

Bupati Fauzi Siapkan Langkah Strategis Majukan Sumenep Usai Borong Enam Penghargaan Wilwatikta Award

kemajuan Sumenep ke depan membutuhkan kerja bersama. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam menjalankan seluruh agenda pembangunan.

Imigrasi Pamekasan Perkuat Pengawasan WNA Lewat Rapat Timpora Kabupaten Sumenep

Imigrasi Pamekasan Perkuat Pengawasan WNA Lewat Rapat Timpora Kabupaten Sumenep

Imigrasi Pamekasan menggelar rapat Timpora Sumenep untuk memperkuat pengawasan WNA, sinkronisasi data, dan koordinasi lintas instansi.

Sumenep Borong Penghargaan Sepanjang 2026, Bupati Fauzi Apresiasi Kerja Keras Semua Pihak

Sumenep Borong Penghargaan Sepanjang 2026, Bupati Fauzi Apresiasi Kerja Keras Semua Pihak

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menyampaikan apresiasi kepada seluruh aparatur sipil negara (ASN) dan pihak-pihak yang telah berkontribusi terhadap kemajuan Kota Keris.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer