Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Putra Madura Abdi Indonesia

H
SPIRIT M. TABRANI: Royyan Julian (kiri) memandu bedah buku karya M. Tabrani Ons Wapen oleh Priyantono Oemar (tengah) dan Anak Nakal Banyak Akal oleh Lukman Hakim AG di Surabaya, Senin (30/10).
SPIRIT M. TABRANI: Royyan Julian (kiri) memandu bedah buku karya M. Tabrani Ons Wapen oleh Priyantono Oemar (tengah) dan Anak Nakal Banyak Akal oleh Lukman Hakim AG di Surabaya, Senin (30/10).

Oleh LUKMAN HAKIM AG*


Advertisement

Tokoh Penting yang Terlupakan

Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa diperingati setiap tahun. Namun, nama M. Tabrani kerap terlupakan. Termasuk di Pamekasan, tempat dia dilahirkan. Namanya baru mulai jadi perbincangan sejak 2019, setelah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI memberikan piagam penghargaan nomor 85161/MPK.G/KP/2019 kepada Mohammad Tabrani Soerjowitjitro sebagai penggagas bahasa persatuan Indonesia, yang disambut dengan pemberitaan secara berseri di Jawa Pos Radar Madura. Piagam ini ditandatangani Mendikbud Muhadjir Effendy pada 6 Agustus 2019.

Nama Tabrani sangat penting dalam sejarah Indonesia. Dia telah ditetapkan sebagai Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan berdasar SK yang diteken Menteri Sosial H. M.S. Mintaredja pada 19 Februari 1975. Lalu, pada 3 Juli 1985 terbit Surat Keputusan Menteri Sosial Nomor 22/VII/1985/PK/Jd ditandatangani oleh Mensos Nani Soedarsono tentang pengesahan janda Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan.

Advertisement

Setelah diberitakan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan mengeluarkan SE Nomor 005/2602/432.301/2020 kepada lembaga pendidikan SD dan SMP agar membaca riwayat singkat M. Tabrani dan mengheningkan cipta sebelum memulai pelajaran pada 31 Oktober 2020 untuk mengenang dan meneladani sosok berjasa asal Pamekasan tersebut. Surat itu diterbitkan pada 26 Oktober 2020. Kemudian, pada 30 Maret 2021 Balai Bahasa Jawa Timur menyelenggarakan sosialisasi pengajuan M. Tabrani sebagai pahlawan nasional di Pamekasan. Pada kesempatan itu, terkumpul 60 tanda tangan orang yang sepakat merekomendasikan dan mengusulkan M. Tabrani sebagai pahlawan nasional. Puluhan orang yang membubuhkan teken itu meliputi bupati, ketua DPRD, kepala balai bahasa, wartawan, guru, seniman, dan budayawan, serta beberapa unsur lain.

Selanjutnya, 22 Oktober 2021 Balai Bahasa Jawa Timur menggelar acara bertajuk Menjalin Indonesia dari Jawa Timur: Meretas Jalan Kepahlawanan M. Tabrani, Penggagas Bahasa Persatuan Indonesia pada semarak Bulan Bahasa 2021 di Sidoarjo. Pada 3 Desember 2021 Jawa Pos Radar Madura memberikan penghargaan seumur hidup kepada M. Tabrani pada Malam Anugerah Madura Awards 2021. Penghargaan diterima oleh Dr Amie Primarni, putri bungsu M. Tabrani. Pada momen itu, Amie untuk kali pertama berkunjung ke bekas rumah ayahnya tinggal serta ziarah ke makam kakek dan neneknya di Pamekasan didampingi tim Jawa Pos Radar Madura. Kedatangan Amie didampingi seorang putranya, Zul Hazmi Karim.

Lalu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan menggelar diskusi kelompok terpumpun bertajuk Meneroka Kepahlawanan Putra Madura Mohammad Tabrani di Hotel Cahaya Berlian, 9 Desember 2021. Setelah itu, tahapan pengusulan gelar pahlawan nasional dilakukan oleh pemerintah di semua tingkatan. Mulai Pemkab Pamekasan, Balai Bahasa Jawa Timur, Dinas Sosial Jawa Timur, hingga pemerintah pusat. Berbagai kegiatan juga digelar terkait M. Tabrani.

Advertisement

 

Anak Nakal Banyak Akal

Anak Nakal Banyak Akal merupakan buku otobiografi M. Tabrani yang memuat kisah perjalanannya pada masa 1904–1931. Yaitu, sejak dia dilahirkan hingga kembali ke tanah air setelah melawat ke luar negeri. Dari buku ini kita banyak tahu tentang M. Tabrani.

Buku ini ditulis atas saran Borail Harahap, perintis kemerdekaan golongan politik, sejak 1969. Namun, saran itu baru diterima 1974. Lalu, selesai 1978 saat M. Tabrani berusia 74 tahun dan terbit setahun kemudian pada 1979.

Buku ini diterbitkan oleh Aqua Press dan dicetak oleh PR New Aqua Press pada 1979. Buku setebal 183 halaman ini terdiri atas 26 bab. Yakni, Lingkungan, Masuk Sekolah Kebetulan, Suka Duka di HIS, MULO Surabaya, Mulai Bangkit, dan Bandung Kota Kembang. Kemudian, OSVIA Serang, OSVIA Bandung, dan Langsung ke Hindia Baru. Lalu, Kongres Pemuda Indonesia Pertama serta Orde der Dienaren van Indie, dan Kongres Pemuda Indonesia Pertama.

Bab selanjutnya Dari Pintu Belakang, Urusan Pribadi, Menuju Nederland, Senjata Makan Tuan, dan Serba-Serbi dari Holland. Selanjutnya berjudul London Berkabut Dingin, Ke Berlin, Kerja pada Pressa, dan Pendidikan Wartawan. Kemudian, Pidato dan Wawancara, Kesasar tapi Mujur, Ons Wapen (Senjata Kita), Senjata Ampuh, Hati Berdebar-debar, serta Kembali ke Jakarta.

M Tabrani lahir di Pamekasan, 10 Oktober 1904 dari pasangan suami istri M. Soerowitjitro dan Siti Aminah. Pendidikan Tabrani dimulai dari HIS Pamekasan (1910–1917). Sebelum masuk HIS, dia tinggal di Kecamatan Pakong, Pamekasan; dan Kecamatan Ketapang, Sampang. Sebab, ayahnya bertugas di tempat itu. Dalam buku Anak Nakal Banyak Anak disebutkan bahwa di Ketapang ini Tabrani membuktikan bahwa tamu keluarga yang orang Tiongkok berambut kuncir asli dengan meledakkan mercon. Tamu itu datang ke keluarga M. Tabrani untuk mengucapkan ”selamat tahun baru” pada perayaan hari raya.

Belum genap usia enam tahun, Tabrani diantar oleh sang ibu ke Pamekasan untuk tinggal bersama Eyang Danu. Masa kecil ketika Tabrani sekolah HIS, waktunya lebih banyak bersama Eyang Danu. Tabrani berkembang layaknya anak kecil yang lain. Hobi berenang di laut saat di Ketapang dilanjutkan ke Pamekasan. Sungai Jungcangcang menjadi tempat biasa Tabrani berenang. Bahkan, Tabrani menulis, saat terjadi banjir pun dia masih menyeberangi sungai itu untuk pergi sekolah.

Dari Pamekasan, Tabrani melanjutkan pendidikan ke MULO Praban, Surabaya (lulus 1921). Masalah muncul sejak awal masuk sekolah, karena nama Tabrani dimasukkan dalam daftar murid perempuan oleh bagian administrasi. Masalah lain karena dia memakai sepatu perempuan karena ulah temannya yang mengantar ke toko sepatu. Kemudian, dia pernah membuat seorang anak Belanda harus dibawa ke rumah sakit karena kena alat vitalnya saat bertengkar dengan Tabrani. Akibatnya, Tabrani tidak diperkenankan masuk sebelum akhirnya diperbolehkan masuk kembali setelah si anak Belanda mengakui bahwa yang salah bukan Tabrani, melainkan dirinya.

Tabrani sempat membuat ragu pihak MULO setelah melihat nilai rapor HIS tidak sebagus siswa lain. Karena itu, dia sempat diberi waktu beberapa saat untuk menyesuaikan diri. Jika tidak bisa beradaptasi, maka dia tidak diperkenankan melanjutkan sekolah. Namun, Tabrani berhasil membuktikan bahwa dirinya bisa. Dia juga menerangkan bahwa nilai rata-rata enam dalam rapor karena kepala HIS sangat berhati-hati dalam memberi nilai.

Saat di MULO ini Tabrani mulai bangkit. Dia bergabung dengan Jong Java dan menulis di majalah. Bahkan, pada usia 14 tahun pada 1918 dia sudah punya cita-cita persatuan nasional. Cita-cita inilah yang dipegang dan diupayakan secara konsisten dan terkait dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Dari Surabaya, Tabrani melanjutkan pendidikan ke AMS Bandung. Di tempat itu dia bergabung Orde der Dienaren van Indie, membuka sekolah boksen, dan tetap aktif di Jong Java hingga menjadi ketua. Dari sekitar 50 anggota Orde der Dienaren van Indie, hanya Tabrani satu-satunya anggota yang diperkenankan memakai gelar ”D.I” di belakang nama. Singkatan dari kata Dienaren Indie alias Abdi Indonesia.

Kemudian melanjutkan pendidikan ke OSVIA Serang (1923–1925) karena saat itu terlambat masuk OSVIA Bandung. Namun, akhirnya Tabrani kembali ke Bandung dan masuk OSVIA. Cita-cita persatuan dan Indonesia merdeka yang muncul sejak di Surabaya semakin menyala. Apalagi saat di Serang dia berkumpul dengan pemuda-pemuda dari berbagai daerah.

Setelah lulus OSVIA Bandung, Tabrani langsung bergabung dengan Hindia Baroe hingga kemudian dia menjadi pemimpin redaksi. Setamat OSVIA, dia disebutkan belajar ilmu sejarah, ekonomi, dan hukum di Rechts Hooge School, Jakarta. Pada 15 November 1925 terbentuk panitia Kongres Pemuda Indonesia Pertama yang persiapannya lebih dua tahun. Panitia kongres ini dibentuk untuk menggugat semangat kerja sama di antara organisasi-organisasi pemuda di tanah air. ”Supaya dapat mewujudkan dasar-pokok untuk lahirnya persatuan Indonesia, di tengah bangsa-bangsa di dunia,” kata Tabrani (62). Kongres Pemuda Indonesia Pertama digelar 30 April sampai 2 Mei 1926 sekitar enam bulan setelah panitia terbentuk. Sebagai ketua yang belum genap berusia 22 tahun, Tabrani berusaha agar kongres berjalan lancar tanpa gangguan penguasa. Upaya itu berhasil hingga kongres selesai.

Dinamika terjadi dalam kongres. Terutama tentang perbedaan pendapat Tabrani dengan Moh. Yamin. Tabrani menyetujui seluruh isi pidato Yamin. Namun, tentang bahasa persatuan dia menolak dengan penyebutan nama bahasa Melayu. ”Jalan pikiran saya; kalau tumpah darah dan bangsa disebut Indonesia, maka bahasa persatuannya harus disebut bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu.”

Akibatnya, Yamin marah. Menurut Yamin, Tabrani menyetujui seluruh isi pidatonya, tetapi mengapa menolak konsep usul resolusinya. ”Lagi pula yang ada bahasa Melayu, sedang bahasa Indonesia tidak ada. Tabrani tukang ngelamun.”

Tabrani menjawab: Alasanmu, Yamin, betul dan kuat. Maklum lebih paham tentang bahasa daripada saya. Namun, saya tetap pada pendirian. Nama bahasa persatuan hendaknya bukan bahasa Melayu, tetapi bahasa Indonesia. Kalau belum ada, harus dilahirkan melalui Kongres Pemuda Indonesia Pertama ini.” Akhirnya Sumpah Pemuda baru ditetapkan pada Kongres Pemuda Indonesia Kedua pada 1928.

Setelah kongres pertama itu, Tabrani berangkat ke luar negeri. Mendapatkan diplomatik dan stenografi bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman di Belanda untuk masuk Institut for Juornalist di London. Namun, itu tidak terlaksana karena harus ke Berlin bertemu Prof Emil Dovifat. Dari sana dia banyak belajar dan terlibat dalam pameran pers dunia Pressa.

Sebelum pulang, dia menulis buku Ons Wapen pada 1929. Dia kembali ke Indonesia pada 1931.

*

Ringkasan riwayat M. Tabrani dari Anak Nakal Banyak Akal itu disampaikan dalam Koloman Budaya Sivitas Kotheka di Pamekasan, Sabtu (28/10) dan Seminar Balai Bahasa Jawa Timur bertajuk Membedah Tabrani: Gerakan dan Pemikirannya Mendahului Zaman di Surabaya, Senin (30/10). Sebelumnya, M. Tabrani juga saya ceritakan dalam seminar Bulan Bahasa dan Sastra di STKIP PGRI Sumenep, Jumat (20/10).

Kegiatan tentang M. Tabrani semakin masif. Nama penggagas bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan itu juga sudah dijadikan nama tempat. Seperti Gedung M. Tabrani menggantikan Gedung Samudera di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek. Jadi nama gedung di kompleks Balai Bahasa Jawa Timur. Nama gedung di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pamekasan.

Juga nama aula di Dinas Sosial Pamekasan. Informasinya, dijadikan nama jalan di depan kantor Kemenag Pamekasan, nama taman di Gladak Anyar, dan nama gedung perpustakaan daerah Pamekasan. (*)

*)Wartawan Jawa Pos Radar Madura

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Advertisement
Editor : Hera Marylia
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

BRI Peduli Latih 500 Volunteer Waste Management Sambut MotoGP Mandalika 2026

BRI Peduli Latih 500 Volunteer Waste Management Sambut MotoGP Mandalika 2026

BRI Peduli melatih 500 volunteer mengelola sampah di Mandalika jelang MotoGP 2026 untuk mendukung lingkungan bersih dan berkelanjutan.

Harga Samsung Fold 8 Indonesia Semua Varian, Mana Pilihanmu? Beli di Blibli Sekarang!

Harga Samsung Fold 8 Indonesia Semua Varian, Mana Pilihanmu? Beli di Blibli Sekarang!

Menunggu ponsel lipat premium yang layak untuk diinvestasikan memang butuh kesabaran ekstra. Kabar baiknya, Samsung Fold 8 sudah resmi diperkenalkan secara global

BRI Peringkat ke-132 Bank Terbesar Dunia dalam Top 1000 World Banks 2026

BRI Peringkat ke-132 Bank Terbesar Dunia dalam Top 1000 World Banks 2026

BRI menempati peringkat ke-132 dalam Top 1000 World Banks 2026 versi The Banker, didukung fundamental keuangan dan permodalan yang kuat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer