
Oleh ABDUR ROHMAN
RadarMadura.id – Minggu lalu, pada 20 Oktober, akun Instagram @bangkalan.ku membagikan gambar yang berlatar belakang foto Pj Bupati Bangkalan. Pada foto tersebut tertulis, ”Jika dikasih kesempatan bertemu langsung Pj Bupati, kamu mau menyampaikan apa aja nih…?” Beragam jawaban memenuhi laman komentar postingan tersebut. Ada yang mengangkat isu stiker parkir yang unfaedah, akses jalan yang rusak, keamanan lingkungan, permasalahan sampah, bahkan ada yang menjawab mau pinjam saja dulu seratus, Hehe. Namun sayang, dari ratusan komentar tidak ditemukan kata ”pendidikan” yang mengiringi ruang komentar tersebut. Hal ini cukup menyedihkan di tengah ironi pendidikan masyarakat Bangkalan, terutama pendidikan pada tingkat sekolah dasar (SD).
Penutupan gedung sekolah banyak menghantui siswa-siswi SD di Bangkalan, karena lahan yang belum dibebaskan oleh pemerintah. Kasus paling menyita perhatian adalah penutupan salah satu gedung SD di Desa Lerpak, Galis, pada September. Pembebasan lahan yang belum dilakukan juga menyebabkan gedung sekolah terus terbengkalai. Berita yang dimuat RadarMadura.id pada 9 Oktober memperlihatkan kondisi SDN Binoh 3 yang hampir roboh dan tidak layak untuk kegiatan belajar mengajar (KBM).
Selain gedung sekolah, fakta yang lebih memprihatinkan adalah harapan lama sekolah (HLS) masyarakat Bangkalan yang stagnan selama 7 tahun. Dari 2015 sampai 2022, HLS Bangkalan hanya naik 0,36 tahun, yakni dari 11,55 tahun menjadi 11,91 tahun. Artinya, anak-anak usia tujuh tahun di Bangkalan tidak memiliki harapan sekolah hingga lulus jenjang SMA. Ini menjadi terendah di Jawa Timur, saat HLS seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur menunjukkan di atas 12 tahun, kecuali Bangkalan. Oleh karena itulah, pendidikan menjadi aspek yang perlu diutamakan di Bangkalan.
Perbaikan pada kerusakan aspek pendidikan akan menjadi solusi dari semua permasalahan. Melalui pendidikan, masyarakat mampu menyikapi permasalahan sampah dengan lebih baik. Misalnya, dengan pendidikan ekologis di sekolah, anak-anak dapat mengurangi penggunaan bahan sekali pakai sehingga dapat meminimalisasi penumpukan sampah. Melalui proses pendidikan pula, manusia mengasah tidak hanya kemampuan kognitif, tetapi juga kemampuan afektifnya. Hal ini akan menciptakan kehidupan yang lebih damai, aman, dan tenteram di masyarakat, karena setiap individu telah melewati proses latihan kepekaan, perasaan, dan pikiran.
Keberhasilan pendidikan memang membutuhkan jangka yang cukup panjang. Masyarakat tidak bisa menikmatinya dalam kurun waktu satu atau dua tahun, melainkan 10 hingga 20 tahun mendatang. Mungkin ini yang menjadi alasan pendidikan kurang menarik sebagai aspek utama pembangunan. Padahal, investasi ini adalah investasi jangka panjang, namun sangat menjanjikan. Ketika semua anggota masyarakat sudah berpendidikan, maka tiada lain selain kebahagiaan yang akan diperoleh masyarakat. Demikianlah yang diharapkan oleh Bapak Pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara.
Namun, sungguh nasib pendidikan menjadi hal yang sangat ironis. Di tengah ketakutan ambruknya gedung sekolah yang menghantui banyak siswa SD, gedung-gedung pejabat pemerintahan berdiri mentereng di pusat kota, bahkan dilengkapi dengan pendingin ruangan. Proyek pelebaran jalan dari ujung barat hingga timur juga berjalan sangat lancar. Tak jarang pula, jalanan di pedesaan menjadi lahan proyek tahunan, setiap tahun diperbaiki supaya rusak kembali. Namun, pemerintah seakan tutup mata ketika dihadapkan pada masalah pendidikan. Tidakkah masyarakat curiga, ketidakacuhan pemerintah pada aspek pendidikan merupakan bentuk pemeliharaan kebodohan di masyarakat?
Oleh karena itu, jika diminta untuk memilih antara pembangunan sekolah yang roboh dan perbaikan jalan yang rusak, bagi saya, pembangunan sekolah tetap yang paling utama. Ruang sekolah merupakan jendela bagi anak-anak, yang bebas kapan saja mereka membukanya untuk mengetahui dunia lebih luas. Di sekolah, anak-anak dapat menjelajah dunia melalui buku-buku. Di sekolah juga, anak-anak menciptakan dunia baru bersama teman dan para guru. Jika anak-anak berada dalam ruangan yang tidak memiliki jendela (baca: sekolah), bagaimana mereka bisa meng-explore isi dunia, dan mengubahnya menjadi lebih baik. Potensinya akan terkungkung, dan perkembangan manusia akan stagnan. Akhirnya, kebahagiaan bangsa yang dicita-citakan oleh Bapak Pendidikan kita akan tetap menjadi harapan saja. (*)
*)Warga Bangkalan
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




