
RadarMadura.id – Selain Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22, bulan ini ada dua hari penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Yakni, tanggal 10 Oktober sebagai hari kelahiran M. Tabrani, sang penggagas bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Hari penting lainnya adalah Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.
Selain memperingati hari santri, bangsa ini perlu membaca darah santri yang mengalir pada sosok M. Tabrani. Dalam otobiografi Anak Nakal Banyak Akal, putra Madura kelahiran Pamekasan itu sejak kecil menghirup udara Islam melalui kiai, ulama, langgar, masjid, dan pesantren. Sebab, mayoritas orang Madura beragama Islam.
Putra pasangan M. Soerowitjitro-Siti Aminah itu lahir pada 119 tahun yang lalu. Hingga usia tiga tahun tinggal di Pakong karena ayahnya bekerja di kecamatan itu. Kemudian pindah ke Ketapang, Sampang, mengikuti orang tua yang pindah tugas. Belum genap berusia enam tahun, Tabran kecil tinggal bersama Eyang Danuasmoro, ayahanda Siti Aminah di Kampung Duko, Pamekasan.
Semasa HIS inilah dia menghabiskan waktu dalam perlindungan dan didikan Danuasmoro. Kepada Eyang Danu itu Tabrani belajar membaca Al-Qur’an dan tembang. Selama masa kanak-kanak dia berada dalam didikan disiplin yang keras, meski tetap menjadi anak nakal yang banyak akal.
Di tubuh M. Tabrani mengalir darah santri, petani, dan prajurit. Tabrani menulis, darah santri memberi ketenangan dan kepercayaan pada Tuhan Yang Mahakuasa dan pada diri sendiri. Sedangkan darah petani menimbulkan kepedulian, karena rata-rata petani di Madura miskin dan melarat, sedang tanahnya tidak subur (13).
Sementara darah prajurit itu terkait dengan cerita Barisan Madura. Dalam catatan Tabrani, ayahnya pernah bercerita bahwa kakek M. Tabrani bergabung dalam Barisan Madura dengan pangkat kapten. Dia terkenal dengan nama Kapten Sora.
Kapten Sora pernah ikut Perang Aceh dan kembali dengan selamat. Belakangan, Kapten Sora yang berdarah santri tahu bahwa rakyat Aceh yang diperangi juga berdarah santri. Karena itu, sebelum wafat, kakek M. Tabrani berwasiat agar keturunannya tidak masuk Barisan Madura. Sebab, barisan ini diperalat oleh Belanda. Kapten Sora lebih menghendaki anak cucunya menjadi pamong praja. Karena itu pula M. Tabrani disekolahkan untuk menjadi pamong praja, meski dalam perkembangannya dia lebih memilih menjadi wartawan.
Karena Barisan Madura binaan Belanda ini, orang Madura dulu pandai pegang senjata. Sebab, dulu berlaku wajib militer bagi orang Madura, kecuali para instruktur yang terdiri atas orang Belanda. Mereka yang berpangkat mayor, kapten, letnan, sersan, kopral, dan prajurit masih terikat famili.
Setamat HIS di Pamekasan, dia melanjutkan pendidikan ke MULO Praban, Surabaya. Saat menempuh pendidikan di Surabaya ini, M. Tabrani mengaku diam-diam menjadi santri dan pengagum KH Mansur. Kepada KH Mansur mengajukan dua pertanyaan, Adakah Tuhan? serta Adakah surga dan neraka?
Dua pertanyaan itu pernah diajukan kepada kiai waktu tinggal di Pamekasan. Karena pertanyaan itu, dia pernah dicap murtad. Karena itu, dia tidak terima dan melemparkan dampar. Meski mengaku menjadi santri dan pengagum KH Mansur, tidak membuat M. Tabrani menjadi Muhammadiyah karena sejak kecil dia tinggal di tengah-tengah Nahdlatul Ulama (NU), walau tidak menjadi anggota NU (34–35).
Meski menjadi anak nakal yang banyak akal, dia takzim kepada orang tua dan guru. Salah satu pesan yang dia pegang tentang motivasi dan komitmen dalam beragama. Tidak ada larangan untuk mengukir dan mengukur langit dengan ilmu apa saja dan di mana saja boleh dicari, namun satu hendaknya jangan sampai mengubah agama yang dianutnya, agama Islam.
”Kalau pada suatu ketika kau tidak atau kurang puas terhadap keterangan dan penerangan para ahli agama Islam, kau hendaknya jangan putus asa. Sebaliknya, langsung bersujud dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Mahatahu disertai permohonan bimbingan dan petunjuk-Nya. Insyaallah permohonanmu akan dikabulkan dan tidak akan tersesat. Dalam segala hal, pakai otak dan pikiran baik-baik. Ini karunia Tuhan paling berharga.” Begitu Tabrani menulis pesan ayah dan para kiai kepadanya.
Berbagai tempaan orang tua, keluarga, dan guru, M. Tabrani menjadi sosok penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Dia menjadi pribadi pembelajar, aktivis, dan jurnalis andal. Selulus MULO, dia melanjutkan ke Bandung, Serang, Jakarta, hingga beberapa negara di Eropa. Dia mendedikasikan diri yang sejak remaja bercita-cita Indonesia merdeka. Bahkan, saat belum genap berusia 22 tahun sudah memiliki gagasan mempersatukan bangsa Indonesia dengan bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia.
Menurut dia, dengan bahasa Indonesia itu bisa menyatukan perasaan persatuan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan Indonesia. Gagasan itu diperjuangkan secara konsisten melalui tulisan di Hindia Baroe, hingga saat menjadi ketua Kongres Pemuda Indonesia pertama pada 1926. Setelah melalui perdebatan dengan M. Yamin, gagasan itu diterima dan diabadikan dalam butir ketiga Sumpah Pemuda.
Sebelumnya, bahasa persatuan dalam butir ketiga itu bukan bahasa Indonesia. Yamin mengusulkan bahasa Melayu. Namun, Tabrani mempertahankan pendiriannya bahwa bahasa persatuan itu hendaknya bahasa Indonesia. Karena perdebatan itu pula baru ditetapkan pada kongres kedua pada 1928, dua tahun kemudian.
Bahasa Indonesia mengikat penutur 718 (data 2019) bahasa daerah di Indonesia. Dengan bahasa Indonesia penutur ratusan bahasa daerah dari berbagai daerah dan budaya itu bersatu di bawah bendera Indonesia.
Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda kita peringati tiap tahun. Namun, kita lupa untuk mengingat M. Tabrani selaku penggagas bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Padahal, kita diikat bahasa Indonesia sebagai pemersatu ratusan penutur bahasa daerah. Sungguh kita berutang budi pada M. Tabrani. Dukung dan doakan proses penganugerahan gelar pahlawan nasional untuknya. Salam (*)
LUKMAN HAKIM AG
Wartawan Jawa Pos Radar Madura
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




