Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tausiyah Kenabian; Upaya Menebar Keteladanan

H
Ramlah Q.
Ramlah Q.

RadarMadura.id – Sebelum akhirnya saya memutuskan untuk pulang hari ini, ada hal dalam diri saya yang mendesak untuk segera diberi perhatian. Awalnya saya mengira itu bagian dari bias buku terakhir yang saya baca tadi malam. Namun, setelah mencari-cari buku sebagai bahan bacaan selanjutnya, saya mulai menyadari satu hal, rupanya desakan itu berupa tagihan tulisan tentang tausiyah yang saya hadiri tadi malam. Keyakinan itu kian menjadi setelah tangan saya tanpa sengaja mengenai satu sampul buku Tasaro GK, Muhammad.


Advertisement

Sekitar pukul 19.05, terdengar pengumuman dari TOA pondok, terkait pelaksanaan tausiyah dan imbauan kepada santri untuk membawa wadah makanan masing-masing (maklum ada suguhan gratis). Usai menyimak pengumuman, saya merasa berkewajiban untuk bersiap-siap sesegera mungkin, lalu berangkat. Begitu pun dengan teman sekamar saya, yang mayoritas dari mereka senang menghadiri perkumpulan karena penuh ingar bingar. Tidak sampai sepuluh menit, kami pun memutuskan untuk berangkat, karena khawatir santri yang lain sudah memadati aula.

Dugaan saya benar. Aula sudah lumayan sesak. Para santri dengan tertib duduk membentuk lingkaran besar, yang beberapa saat kemudian berubah karena menyesuaikan dengan tempat duduk pengasuh. Alhasil, saya dan teman-teman berada di bagian agak belakang, dekat pintu ketiga aula (kebetulan aula yang kami tempati merupakan kelas diniyah yang teridiri atas tiga ruangan). Selang lima belas menit, pengasuh tiba. Tausiyah pun dimulai.

Penjagaan terhadap Akhlak

Advertisement

Kepulangan santri merupakan bagian dari pelepasan rindu kepada keluarga masing-masing. Namun, di sisi lain juga menjadi tanggung jawab besar bagi pihak lembaga. Sebab, ketika santri pulang, pemantauan terhadap aktivitas mereka kian berkurang. Hal tersebut melahirkan rasa cemas karena penjagaan terhadap diri santri dipandang sangat penting demi keberlangsungan masa depannya. Oleh karenanya, penjelasan terkait akhlak begitu ditekankan. Mengingat bagaimana tantangan zaman saat ini yang kian mengalami disrupsi.

Selain penekanan terhadap kewajiban seorang santri dalam menuntut ilmu; belajar, akhlak juga dijadikan patokan yang tidak kalah penting. Sebab, keberadaan akhlak menjadi tolok ukur sukses tidaknya santri, baik selama berada di pondok, lebih-lebih di rumah; saat pulang. Kebiasaan-kebiasaan positif yang dilakukan di pondok sudah seharusnya dan sepantasnya dilaksanakan juga ketika di rumah. Hal tersebut bermuara pada misi agung Nabi Muhammad SAW. yang diutus dalam rangka menyempurnakan akhlak.

Implementasi akhlak santri dijabarkan dengan contoh konkret di kehidupan nyata. Semisal dengan membantu pekerjaan orang tua yang bersifat domestik, baik menyapu, mencuci, dan memasak. Tentu tidak berhenti sampai di situ saja. Ada banyak contoh lainnya yang musti santri lakukan kepada orang tua, yang bahkan cenderung dianggap biasa-biasa saja. Seperti halnya, masih ada santri yang tidak berbahasa Madura halus kepada orang tua atau merespons ucapan orang tua dalam kondisi masih fokus pada gadget di tangan.

Advertisement

Benturan ”diri sebagai individu” dengan ”diri sebagai seorang anak”, saya rasa dapat menjadi alasan mendasar dari sekian banyak perilaku yang kurang baik, misalnya dalam hubungan keluarga. Dua kondisi tersebut berdiri di atas gagasan tentang hakikat hak dan kewajiban.

Bagi saya, mendahulukan kewajiban merupakan hal yang bijaksana, meski bukan berarti meletakkan hak di garda terdepan bagian dari perbuatan tercela, melainkan ia sedang berlaku jujur. Di dalam filsafat, kebenaran sejati bersumber pada kebijaksanaan. Lalu, dengan kebijaksanaan itulah kedamaian jiwa lahir dan berdiam. Rumusan tersebut dikaji secara mendalam oleh Al-Gazali, tokoh yang juga menekuni dunia filsafat. Tentu bukan tanpa alasan, bahkan salah satu alasan Al-Gazali menekuni dunia filsafat adalah keberadaan etika.

Momen Spiritual

Selain tentang penjagaan terhadap akhlak, saya menangkap suatu hal yang cukup menggetarkan, yakni tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW. sampai pada penghormatan yang senantiasa mesti dilakukan sepanjang kita masih bernapas, lebih-lebih pada saat bulan kelahiran beliau. Sebab, alasan terbesar alam semesta diciptakan adalah keberadaan beliau. Bahkan, jauh sebelum alam semesta diciptakan, nur Muhammad sudah tercipta. Salawat dan salam atas beliau.

Peringatan Maulid Nabi jangan dijadikan sebatas acara makan-makan atau pertemuan biasa saja, bahkan jangan sampai menjadikannya momen saling membanding-bandingkan satu dengan yang lain. Baik dari segi suguhan yang dihidangkan atau tempat pelaksanaan. Sebab, tolok ukur dalam peringatan yang dilaksanakan berada pada niat di hati masing-masing orang. Sehingga, dianggap penting dan perlu untuk senantiasa memperbarui niat agar mendapat keridaan Tuhan dan apa yang dituju bisa tercapai.

Kecintaan atas Nabi Muhammad SAW. tidak akan berujung pada kekecewaan dan penyesalan. Bahkan mampu menumbuhkan ragam kebahagiaan dan ketenteraman. Pada saat kita mengikuti peringatan Maulid Nabi, sudah seharusnya menyadari secara penuh bahwa momentum tersebut bukan sebatas perayaan seremonial dengan bermacam-macam suguhan, melainkan sebagai momen spiritual yang berkesan. Momen spiritual tersebut jadikan obor guna memberikan penerangan pada jalan hidup kita.

Lebih jauh lagi, hadirkan wajah Nabi Muhammad SAW. seolah-seolah kita pernah melihatnya. Yakinkan hati bahwa setiap bersalawat beliau hadir. Pupuk hingga subur rasa cinta itu kepada beliau. Jadikan mengakar dan menancap dengan sempurna, agar kehidupan kita senantiasa diberkati dan mendapat syafaat darinya. Bukankah pada saat menjelang wafat, Nabi Muhammad SAW. mengulang-ulang satu kata karena selalu memikirkannya, ummatī… ummatī… ummatī. Masihkah merasa perlu untuk menghitung kecintaan beliau atas umatnya? Salam. (*)

RAMLAH Q.

Santri PP Annuqayah Latee 1, anggota Café Latte 52, dan mahasiswa Instika.

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Refleksi Hari Terakhir Bulan Rabiul Awal

Refleksi Hari Terakhir Bulan Rabiul Awal

JIKA kepemimpinan Rasulullah ﷺ di Madinah dibacadari perspektif tata kelola (governance), sekitar sepuluh tahunkepemimpinan beliau dapat dipahami melalui dua fase besar, yakni fase pembangunan fondasi tata kelola interna

Dibalik Meriahnya Maulid Nabi, Apa yang Sebenarnya Kita Rayakan?

Dibalik Meriahnya Maulid Nabi, Apa yang Sebenarnya Kita Rayakan?

jika kemeriahan Maulid membuat kita semakin dekat dengan masyarakat, bukan semakin sibuk mempertontonkan diri, maka tradisi tersebut telah menemukan kembali ruhnya.

Bakesbangpol Sumenep Gelar Maulid, Bubarkan Paskibraka 2026

Bakesbangpol Sumenep Gelar Maulid, Bubarkan Paskibraka 2026

Kegiatan berlangsung di Gedung Ki Hajar Dewantara, sebelah selatan kantor Bakesbangpol Sumenep.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer