Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Iman Politik Santri

H

Ach. Syaiful A’la
Ach. Syaiful A’la


Advertisement

RadarMadura.id – Santri adalah subjek perubahan (subject of change), baik secara sosial, politik, agama, dan budaya. Bahkan, santri menjadi entitas yang dapat mereduksi diri mereka dalam berbagai macam dunia (ihwal).

Dalam historisitas berdirinya bangsa Indonesia, santri juga ikut andil merumuskan ideologi bangsa, bergerak melawan para koloni, mengatur strategi politik kemerdekaan, serta mengantarkan bangsa Indonesia yang berdaulat tegak dan berjaya di semua aspek.

Sandaran iman politik santri dalam peran kebangsaan bersandar pada ”hubbu al-wathan min al-iman”, bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman. Dalam praktiknya, para santri setidaknya memiliki tiga aspek pandangan; ijtihad, jihad, dan mujahadah atau dalam bahasa anak-anak Gen-Z disebut, rasionalitas, profesionalitas, dan spiritualitas.

Advertisement

Rasionalisasi (Ijtihad)

Semenjak dari pondok pesantren, santri terbiasa melakukan rasionalisasi, menggali khazanah keilmuan dan wawasan yang terkandung dalam turats, kemudian menganalisis dengan baik bersama guru dan para sahabat.

Momentum itu merupakan awal terbentuknya keyakinan santri bagi dirinya sebagai person, yang kemudian mengelaborasi dalam ekosistem gerakan sistemik.

Advertisement

Santri selalu meyakini bahwa pandangan-pandangan rasional yang digali dari khazanah keilmuan lama yang kemudian diadaptasi sesuai zaman mereka akan memberikan dampak efektif bagi kemajuan bangsa.

Tidak sekadar dalam pengayaan khazanah keagamaan, santri kini telah mampu keluar dari ”gerbong” keilmuannya; yang pada mulanya hanya mendalami ilmu agama yang terkilir di wilayah fikih dan tasawuf, kini santri mampu meluncur dan beradaptasi pada keilmuan modern seperti MIPA, kimia, fisika, dan strategi politik dunia untuk peradaban yang lebih pesat.

Dalam konteks politik Indonesia, santri memosisikan diri sebagai aktor penggerak dan menjadi pengisi ideologi bangsa. Peran KH Wahid Hasyim dan KH Abdul Wahab Hasbullah adalah dua orang santri yang sekaligus aktor perubahan. Ijtihad politik keduanya mampu membawa bangsa Indonesia berdiri tegak kokoh dan gagah di hadapan kolonial dan bangsa sendiri yang masih ragu atas kemerdekaan bangsanya. Iman politik itulah yang setidaknya menjadi teladan bagi santri masa kini dalam proses rasionalisasi gerakan politik santri ke depan, baik dalam politik gerakan agama, sosial, budaya, dan entitas-entitas lain di mana pun santri berada.

Aksi (Jihad)

Santri tentu saja tidak hanya alim allamah dalam konteks keilmuan. Santri tentu tidak hanya pintar berkhotbah dan berceramah. Tetapi, santri berani melakukan rasionalisasi secara detail dan mendalam, yang kemudian muncullah aksi-aksi nyata dalam konteks sosial politik.

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merupakan sosok yang tajam dalam melakukan rasionalisasi keilmuan santri, tetapi juga tajam melakukan aksi-aksi nyata dalam membentuk perubahan pada yang lebih baik. Pandangan dan aksinya bahkan menjadi rujukan tokoh-tokoh dunia seperti Mahathir Mohamad.

Jihad politik santri ini tentu tidak hanya bermakna gerakan politik praktis, melainkan peran santri-santri di ceruk-ceruk sosial secara umum. Pondok pesantren hari ini bahkan telah membuka diri pada basis-basis teknologi, seperti artificial intelligence. Pondok pesantren juga banyak yang melakukan kolaborasi dengan model-model sistem keuangan modern, seperti perbankan. KH Ma’ruf Amin adalah tokoh santri yang paling getol menyuarakan dan membentuk perbankan syariah, baik di pesantren maupun luar pesantren.

Transendensi (Mujahadah)

Santri dalam mengisi hidupnya tidak selalu bertumpu pada kecerdasan pikiran, kekuatan gerakan, tetapi gerakan santri juga berbanding lurus dengan pendekatan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah dzal Jalalah.

Di kalangan santri, dikenal acara ”sema’an”, ”shalawatan”, ”manaqiban”, dan ”istighastah”. Tradisi pendekatan diri kepada Tuhan ini dilakukan oleh semua santri di berbagai level, baik santri yang masih ada di pondok pesantren, maupun santri yang sudah bersatu dengan masyarakat.

Proses transendensi yang dilakukan santri bisa jadi untuk memuluskan proses ”rasionalisasi” dan ”aksi” yang dirancang dalam kehidupan mereka. Bisa jadi juga menjadi kekuatan baru secara spiritual, sebab jika meminjam istilah Plato, para santri menyadari bahwa dirinya sebagai makhluk jasmani dan rohani.

Dari tiga entitas di atas, kita meyakini dengan penuh iman bahwa santri adalah aktor perubahan di masa mendatang. Di tangan merekalah kemajuan bangsa dipertaruhkan. Selamat Hari Santri. (*)

ACH. SYAIFUL A'LA

Rektor Institut Kariman Wirayudha Sumenep.

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Pesantren dan Modernitas: Mewujudkan Pesantren yang Aman dan Nyaman

Pesantren dan Modernitas: Mewujudkan Pesantren yang Aman dan Nyaman

Di pondok pesantren, pendidikan moral adalah pelajaran utama sebelum belajar ilmu agama dan ilmu lainnya karena ada anggapan bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu. 

Viral Massa Gusur Gerai Indomaret di Pamekasan Menggunakan Buldoser

Viral Massa Gusur Gerai Indomaret di Pamekasan Menggunakan Buldoser

Massa demo dan rusak bangunan toko modern Indomaret di Desa Panaan, Kecamatan Palengaan, Pamekasan. Penolakan itu dilakukan oleh sejumlah massa dan alumni salah satu pondok pesantren Pamekasan.

Polisi Tahan Warga Sumenep, Dilaporkan Rudapaksa Santri di Bawah Umur

Polisi Tahan Warga Sumenep, Dilaporkan Rudapaksa Santri di Bawah Umur

Kasatreskrim Kompol Bambang Tri S. menjelaskan, kasus tersebut terungkap setelah orang tua korban melihat percakapan antara korban dan tersangka di sebuah aplikasi, yang diduga mengarah pada adanya hubungan seksual.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer