
Radar.Madura.id – Jon Fosse merupakan penulis asal Norwegia. Dia lahir di Haugesund, pantai barat Norwegia, pada 1959. Kemudian, dia dibesarkan di Strandebarm. Pada usia tujuh tahun, dia mengalami kecelakaan.
Peristiwa itu menjadi pengalaman dramatis dari masa kecilnya karena hampir merenggut nyawanya. Bahkan, kejadian itu menjadi salah satu hal yang mengantarkannya menjadi seniman.
Saat remaja, Jon Fosse bercita-cita menjadi gitaris rock. Namun, seiring berjalannya waktu, ambisinya beralih ke bidang menulis.
Dia menulis berbagai genre. Antara lain, drama, novel, kumpulan puisi, esai, buku anak-anak, dan terjemahan. Rata-rata karyanya ditulis dalam bahasa Norwegia. Raudt, svart (1983) merupakan novel debutnya yang mengangkat tema bunuh diri.
”Jon Fosse memadukan akar bahasa dan sifat latar belakang Norwegia dengan teknik artistik postmodernism atau pascamodernisme,” tutur Ketua Komite Nobel Bidang Sastra Anders Olsson yang dikutip dari The Guardian pada Kamis (5/10).
Dalam karya-karyanya, Jon Fosse selalu menggabungkan ikatan lokal, baik secara linguistik maupun geografis, dengan teknik artistik modernis. Kehangatan dan humor sangat melekat dalam karyanya, terutama tentang pengalaman kemanusiaan.
Melalui karya drama dan prosa inovatifnya, tahun ini dia diganjar sebagai peraih Hadiah Nobel Sastra. Pemilihan itu bukan tanpa alasan. Ada beberapa hal yang membuat Jon Fosse terpilih sebagai peraih Hadiah Nobel Sastra 2023. Antara lain, karyanya menceritakan hidup dan mati, belum mendapatkan Nobel Sastra, dan menulis dalam bahasa Norwegia.
Selain itu, konsistensi dan karakteristik penulisannya dengan tema-tema menarik menjadi pendukung keunggulan karyanya. Buku Jon Fosse juga diterjemahkan ke dalam 40 bahasa.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



