
RadarMadura.id – Sampah bukan hal asing di telinga kita. Sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Sebagaimana pepatah mengatakan, ”Sampah adalah kita, kita ya sampah” begitu kira-kira. Sampah sudah menjadi isu yang sangat besar. Diakui atau tidak, sampah akan terus berdampak buruk bagi kehidupan sehari-hari jika tidak cepat dicarikan solusi. Namun, hingga sekarang belum ditemukan solusi tepat untuk mengatasi sampah.
Setiap hari kita menggunakan sampah. Misalnya, Alfy membeli pentol. Si penjual membungkus pentol dengan plastik. Kemudian, Alfy memakannya. Setelah itu, bungkus pentol tersebut dibuang. Itulah sampah. Itu baru satu orang satu bungkus pentol. Kalau satu sekolah semisal berjumlah 100 siswa, lalu setiap siswa membeli satu bungkus pentol, ada 100 sampah bungkus pentol. Itu baru satu sampah, belum sampah yang lain.
Menurut KBBI, pesantren adalah asrama tempat santri atau murid-murid belajar mengaji. Bisa kita lihat bahwa di dalam asrama atau pesantren yang terkenal pasti jumlah santri lebih dari seribu orang. Pesantren merupakan salah satu penyumbang sampah terbanyak di Indonesia.
Ada pertanyaan seperti ini, apakah pesantren bisa mengatasi masalah sampah? Jawabannya bisa.
Mengapa saya bilang bisa? Sebab, ada salah satu pondok pesantren yang juga mengelola sampah secara mandiri, tentunya bisa dijadikan bahan rujukan untuk pesantren-pesantren di Indonesia, tepatnya di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubagsa. Namun sebelum berlanjut, mungkin pembaca sudah banyak yang tahu tentang pengelolaan sampah di Annuqayah Daerah Lubangsa.
Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa adalah salah satu pondok pesantren yang berada di Pulau Madura, tepatnya di Kecamatan Guluk-Guluk. Pondok pesantren ini sejak awal Maret 2023 mulai berhenti membuang sampah ke TPA (nol TPA) dan mengelola sampah secara mandiri, sebagaimana dawuh pengasuh bahwa ”Sampah yang ada di pesantren tidak boleh keluar, harus juga mondok”.
Lubangsa mengelola sampah secara mandiri yang dikenal dengan istilah Laboratorium Sampah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Jatian. Kata Jatian diambil dari lokasi UPT yang dipenuhi dengan pohon jati.
UPT Jatian sudah berdiri sejak awal 2022. Namun, laboratorium sampah ini baru diresmikan pada 9 Agustus 2023 oleh KH Ma’ruf Amin, wakil presiden (Wapres) Republik Indonesia.
Perlu juga diketahui bahwa alat yang digunakan di UPT Jatian sangat sederhana. Misalnya, ketika memilah sampah, harus dilakukan dengan tangan kosong, tanpa alat modern seperti mesin.
UPT Jatian merupakan tempat sampah bagi seluruh santri, baik di kompleks putra maupun putri di Annuqayah Daerah Lubangsa. Pengelolaan sampah di UPT Jatian belajar langsung pada pengelolaan sampah di Panggungharjo, Kapanewon, Sewon, Kabupaten Bantul, Jogjakarta. Ada sekitar lima santri Annuqayah Daerah Lubangsa (dua putra dan tiga putri) yang dikirim pengasuh untuk belajar mengelola sampah di sana. Kemudian, pengetahuan dari mereka diharapkan bisa diaplikasikan di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa.
Cara mengelolanya, sampah dipilah sesuai jenisnya. Ada lima jenis sampah. Antara lain, sampah plastik daun (PD), plastik keras (PK), kertas, organik, dan residu. Lalu, setiap jenis sampah ditimbang secara terpisah (putra dan putri).
UPT Jatian tidak hanya mengelola sampah, tetapi juga memproduksi beberapa barang berbahan dasar sampah. Sudah ada tiga kerajinan yang diproduksi. Ada paving dengan bahan dasar sampah plastik. Caranya, sampah plastik dibakar, lalu dituangkan ke cetakan. Hingga 16 Juli, UPT Jatian sudah memproduksi lebih dari 200 paving dan di UPT Jatian sudah menambah cetakan berbeda.
Ada juga produksi pupuk kompos. Ada dua jenis pupuk kompos yang diproduksi, yaitu kompos biasa dan kompos cair. Namun, yang diaplikasikan hanya kompos cair. Hasilnya pun memuaskan. Hasil produksi tersebut telah diujicobakan pada tembakau milik K. Syihab, warga Guluk-Guluk. Hasilnya, pertumbuhan tembakau lebih cepat daripada yang biasa.
Kemudian, pengurus UPT Jatian mengembangkan pengelolaan sampah. Sampah yang biasanya hanya dibuat paving dan pupuk kompos, sekarang sudah dibuat produk baru. Yakni, kursi plastik. Produk baru ini ditargetkan bisa menghasilkan dua buah kursi selama seminggu.
Pengelolaan sampah secara mandiri bukan perkara mudah di pondok pesantren, tetapi melalui proses panjang. Di dalamnya ada banyak santri, tentunya memiliki perbedaan. Pondok pesantren ditekankan bisa menumbuhkan kesadaran santri mengenai sampah.
Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa pelan-pelan mulai memberlakukan peraturan-peraturan ringan, tetapi berdampak. Misalnya, mewajibkan seluruh santri menggunakan kotak nasi ketika hendak membeli nasi atau makan di tempat dan masih banyak lagi.
Beberapa pondok pesantren sudah berkunjung ke UPT Jatian. Salah satunya, Pondok Pesantren Bayt Al-Hikmah Pasuruan pada Selasa (15/8). Kunjungan tersebut dalam rangka mempelajari pengelolaan sampah dan produk yang dihasilkan Laboratorium Sampah UPT Jatian. Semoga tulisan ini menambah pengetahuan bagi yang sudah tahu dan memberikan pengetahuan bagi yang belum tahu karena beberapa waktu lalu sempat viral di media sosial. (*)
MOH. AQIL
Santri Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




