
Oleh Dr ACH. SYAIFUL A’LA
RadarMadura.id – Orang Madura menyebutnya ”molodan”; sebuah momentum menyambut, mengingat-ingat, mengenang, mengormati, mempelajari, dan bergembira dengan lahirnya junjungan kita Baginda Rasulullah SAW. Setiap tahun pasti direspons dengan ekspresi, tindakan, dan harapan yang bermacam-macam.
Molodan merupakan tradisi Islam yang sudah berlangsung ratusan tahun. Molodan adalah fakta sosial yang dibentuk dan membentuk. Tentu saja bukan hanya peristiwa religius yang cenderung ritual spiritual, akan tetapi sudah menjadi peristiwa sosial yang nyaris setiap tahun keberlangsungannya seperti sebuah keharusan.
Sebagai fakta sosial religius, molodan mengandung cara, makna, nilai, dan bahkan kelas sosial. Jika zaman dulu, kegiatan menyambut hari lahir Rasulullah Muhammad SAW dilangsungkan di langgar, masjid, dan musala (dalam artian komunal), akan tetapi hari ini molodan ditanggap di setiap rumah sebagai ekspresi ego kelas sosial; yang dibumbui dengan entertainment hadrah banjari dan saweran uang.
Meskipun di sisi lain, nanggap molodan di setiap rumah adalah bagian dari ekspresi rasa cinta kepada baginda Nabi; mengeluarkan pembiayaan yang besar untuk keberkahan dan keberlimpahan di tahun-tahun yang akan datang. Itulah setidaknya gambaran paling sederhana rasionalisasi ”nanggap molodan” yang belakangan menjadi trending action.
Merawat Nilai
Kita sebagai muslim Madura tetap harus menjaga keberlangsungan tradisi Islam ini dengan baik. Bentuk seremonial adalah ilustrasi sebuah perkembangan dan wawasan masyarakat yang juga perlu diapresiasi, tetapi juga perlu ”dikontrol” agar nilai-nilai ke-Islam-an tetap menjadi pokok –dengan bahasa yang lebih gamblang bahwa nanggap molodan bukan semata-mata seremonial entertainment.
Ada tiga nilai penting yang dapat kita petik dalam berlangsungnya ”molodan” dari waktu ke waktu yang sangat panjang. Pertama, keteladanan. Baginda Nabi bukan hanya menjadi utusan Allah yang duduk di kursi goyang, menikmati fasilitas kemewahan, duduk di panggung-panggung dengan khutbah dan ceramah. Namun, baginda Nabi memberi teladan di setiap irisan kehidupan, bahkan dari bangun tidur sampai tidur lagi.
Itulah sebabnya, baginda Nabi dicatat dan diingat, mulai dari cara berbicara, cara bersahabat, cara berpolitik, cara berumah tangga, cara berniaga hingga cara menghadapi musuh (rival). Beliau adalah individu dengan berbagai sifat dan kemuliaan yang penting diterjemahkan dalam kehidupan sosial. Di hadapan para sahabatnya beliau dicintai, sedang di hadapan para musuhnya beliau disegani.
Kedua, keadaban dan akhlakul karimah. Poin ini menjadi titik tekan di zaman ini. Pengetahuan dan segala jenis kemajuan sains semakin memaksa manusia memasuki lorong gelap. Artinya, apabila kita sebagai orang Islam tidak mengawalnya dengan adab dan akhlak, kemajuan pengetahuan akan menjadi kemunduran sebagai individu dan masyarakat.
Kita lihat bahwa tidak sedikit dari masyarakat kita yang mengalami shock culture merespons teknologi dan segala bentuknya. Disrupsi informasi dari luar telah membentuk pola kita menjadi ”bukan kita” lagi. Media sosial adalah pintu gerbangnya, sehingga masyarakat kita meninggalkan tradisi lama yang baik tertimbun nilai baru yang substansinya bukan milik kita.
Ketiga, kemanusiaan. Menyambut hari lahir baginda Rasul sesungguhnya menyambut nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Dalam sejarah kehidupan Nabi di zaman jahiliah sudah banyak dikisahkan bahwa Nabi telah menghapus hukum rimba yang bertolak belakang dengan esensi nilai kemanusiaan. Fenomena bayi dikubur hidup-hidup dan fenomena dihapusnya perbudakan adalah bukti sejarah bahwa baginda Nabi adalah pejuang kemanusiaan di dunia. Dan, dengan itu pula Michael H. Hart (1993:5) menempatkan baginda Nabi sebagai 100 tokoh berpengaruh di dunia. Hart, menempatkannya pada urutan nomor satu.
Menuju Tatanan Baru
Meskipun dunia ini sedang menuju tatanan baru, kita sebagai umat Islam Madura tetap menjadikan ”molodan” sebagai sandaran nilai agar ”tidak hanya diwarnai”, namun kita mampu ”mewarnai” dengan spirit ”kenabian”.
Kita boleh memacu percepatan kemajuan dengan pengetahuan dan teknologi modern, tetapi fondasi nilai yang diajarkan baginda Nabi Muhammad SAW didaras sebagai fondasi dasar di segala lini kehidupan, baik sosial, politik, berbangsa, dan bernegara.
Mari kita melaksanakan ”molodan” sesuai dengan tradisi kita masing-masing, penuh gembira, dan ingar bingar. Mari kita tanamkan nilai-nilai keadaban dan akhlakul karimah yang telah dicontohkan baginda Nabi kepada kita semua. Mari bergembira. (*)
*)Rektor Institut Kariman Wirayudha Sumenep
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

