Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Belajar Cinta pada Rasulullah

H
MOHAMMAD ZAINUL ALIM
MOHAMMAD ZAINUL ALIM

Oleh MOHAMMAD ZAINUL ALIM


Advertisement

Rabiulawal tahun Hijriah adalah bulan istimewa. Di bulan ini, seluruh umat Islam di seluruh dunia merasakan kegembiraan. Kesenangan yang bukan pesta pora.

DI Indonesia misalnya, dari satu majelis ke majelis yang lain penuh sesak umat manusia. Khususnya pada malam 12 Rabiulawal, mereka meluapkan kegembiraan dengan memanjatkan pujian. Barzanji atau Simthut Duror dibacakan. Untaian salawat disenandungkan.

Bergembira atas kelahiran Muhammad bin Abdullah atau Nabi Muhammad SAW adalah salah satu potret manisnya iman. ”Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman”. (QS. At Taubah: 128).

Advertisement

Secara sederhana ayat di atas menjelaskan betapa agungnya pribadi Rasulullah SAW yang lahir pada 12 Rabiulawal tahun Gajah atau 571 Masehi. Betapa penuh cahaya kepribadian Rasulullah SAW yang penuh cinta dan kasih sayang. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an (2009; 760), menjelaskan ayat di atas sebagai penggambaran pribadi Rasulullah SAW yang begitu sangat peduli pada umatnya. Ia rela merasakan penderitaan umatnya lahir dan batin. Semata-mata menginginkan keselamatan, kebaikan, dan kebahagiaan untuk umatnya.

Kata Hamka dalam Tafsir Al-Azhar (2015; 101), keistimewaan ayat tersebut adalah penyematan kata rauf dan rahim kepada Rasulullah SAW. Di ujung ayat, Allah SWT memberikan sanjungan tertinggi kepada Rasul-Nya; diberi gelar rauf dan rahim yang memiliki makna rasa kasih, penyantun, pengiba, dan sangat penyayang. Dari sinilah kita umat Islam sangat dianjurkan untuk berupaya dan berusaha meniru sifat-sifat Allah SWT dan Rasul-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Fragmen Kehausan

Advertisement

Akhir-akhir ini kita banyak menerima berita tentang kerusakan di muka bumi, konflik, kekerasan, kepentingan pragmatis, kerakusan, dan seterusnya. Percikan-percikan ini tak ubahnya semacam fragmen ”kehausan” yang dialami umat manusia hari ini.

Sejumlah pertikaian anak muda di kota-kota besar, bentrokan antar massa karena penguasaan lahan, maraknya penipuan, dan kekerasan yang berujung penghilangan nyawa telah menjadi fenomena patologis. Ditambah menguatnya narasi kebencian yang terpampang di media sosial seakan mengindikasikan sepertinya kita telah kehilangan roh cinta.

Untuk menyelesaikan hal ini perlu kiranya kita mengetengahkan kembali misi utama Rasulullah SAW lahir dan diutus di muka bumi. Yakni tidak lain, meminjam Nadirsyah Hosen (2019; 220), menebar rahmat dan memperbaiki akhlak. Maka, pembentukan akhlak menjadi elemen penting dalam membangun peradaban umat manusia. Kenapa akhlak? Karena akhlak atau adab adalah lebih utama daripada ilmu. Sedangkan akhlak mulia fondasi utamanya tidak lain adalah rasa cinta. Rasa cinta sebagai makhluk, sebagai sesama manusia.

Barangkali kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diperingati setiap bulan Rabiulawal atau kita kenal dengan bulan mulud ini dapat dijadikan momentum. Momentum untuk menghadirkan cinta sebagaimana yang telah ditebarkan beliau lebih seribu tahun lalu. Cinta kepada sesama. Cinta sebagai ciptaan Allah SWT.

Menebalkan Cinta

Bukan hanya sebagai nabi dan Rasul, Nabi Muhammad SAW adalah sosok pemimpin yang memiliki sifat melayani. Sebagai pribadi dan kepala rumah tangga yang sangat bertanggung jawab. Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang memiliki rasa kasih sayang dan perhatian kepada siapa saja.

Tak salah bila Philip K. Hitti, seorang orientalis kelahiran Lebanon, memasukkan beliau sebagai orang nomor satu yang paling berpengaruh sepanjang sejarah umat manusia. Salah satu alasannya tak lain karena sifat dan sikap cinta yang ada pada diri Rasulullah SAW, membuat yang membencinya berubah menjadi cinta.

”Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Dengan menebalkan cinta dan kasih sayang pada sesama secara bertahap, maka kita akan merasakan manisnya iman. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda; ”tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu orang yang mencintai seseorang namun tidak mencintainya kecuali karena Allah, orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, dan orang yang lebih cinta dimasukkan ke dalam neraka daripada kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya.” (HR. Muslim).

Banyak kisah terkenal mengenai pribadi Rasulullah SAW yang tampak dari tindakannya pada setiap orang. Tidak peduli orang tersebut membencinya atau berbeda keyakinan. Sikapnya sama, mendahulukan kasih sayang untuk setiap manusia.

Tidak peduli orang lain meludahinya saat setiap kali pergi ke masjid, melemparkan kotoran di tengah jalan saat beliau lewat, dan atau menghina dan menjelek-jelekkan pribadinya di hadapan orang lain. Persangkaan dan pembawaan Rasulullah SAW sama, menjadikan cinta dan kasih sayang sebagai balasan paling baik.

Untuk itu, di tengah-tengah disrupsi media dan derasnya arus informasi, baik kiranya kita menanamkan cinta sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW. Menebalkan cinta adalah mendahulukan Allah SWT dan Rasul-Nya daripada yang lain.

Bagaimana kita memulai menumbuhkan cinta yang bersandar pada Allah SWT dan Rasul-Nya? Salah satunya ialah belajar untuk mengendalikan diri. Hal lain yang dapat kita lakukan adalah menebarkan salam dan kedamaian pada siapa saja, memelihara silaturahmi, antusias dalam ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Pun kita dapat menumbuhkan cinta sebagaimana dipraktikkan Rasulullah SAW dengan cara belajar untuk mengedepankan kasih sayang daripada menuruti hawa nafsu. Belajar mengendalikan diri dari hal apa pun, utamanya yang menyebabkan pribadi rugi di dunia dan akhirat kelak. Jika kita meneladani sedikit saja dari keagungan akhlak Rasulullah SAW, insyaallah kita akan baik-baik saja dan diliputi indahnya kemanusiaan. (*)

*)Pimpinan PP Aqidah Usymuni, kader GP Ansor Sumenep, dan PC RMINU Sumenep

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

   Kepala Bappeda Sumenep Ajak Teladani Akhlak Rasulullah

  Kepala Bappeda Sumenep Ajak Teladani Akhlak Rasulullah

Kepala Bappeda Sumenep Arif Firmanto mengatakan, Rabiulawal merupakan bulan yang istimewa. Karena itu, harus diisi dengan amalan-alaman yang diajarkan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer