Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Madura dan Kemurnian dalam Musik

H

 

AH. HASMIDI
AH. HASMIDI


Advertisement

Oleh AH HASMIDI

RadarMadura.id – Beberapa kali saya membuka beranda Facebook yang banyak menyuguhkan berbagai macam konten, foto, dan status dari teman yang sengaja telah saya konfirmasi permintaan pertemanannya ataupun sebaliknya. Bahkan, tidak jarang saya juga disuguhkan berbagai macam layanan iklan yang mungkin dengan sengaja pula disebarluaskan oleh pihak Facebook. Saya menerka-nerka beranda tersebut sudah tidak sama lagi konsepnya dengan beranda waktu saya membuatnya kali pertama sekitar tahun 2010.

Lebih jauh dari hal itu, saya banyak mendapatkan berbagai macam informasi dari perorangan atau juga dari kelompok komunitas-komunitas. Salah satu komunitas yang saya ikuti adalah Komunitas Kampoeng Pentigraf. Dari komunitas tersebut saya bisa membaca dan belajar mengenai cerpen tiga paragraf yang dibuat oleh Profesor Tengsoe Tjahjono. Selain itu, yang bisa saya peroleh dari beranda adalah, informasi yang disebarkan oleh perorangan dengan mem-posting foto-foto, video, reel, siaran langsung atau juga berbagai macam tulisan. Misalnya, saya menjumpai tulisan dari teman Facebook Mashuri Alhamdulillah yang banyak mem-posting kegiatan penelitiannya mengenai naskah-naskah kuno atau jejak-jejak sejarah. Bahkan dari akun Diza, yang mem-posting kata-kata mutiara atau foto kemesraan dengan kekasih barunya.

Advertisement

Sementara dari akun Facebook Umar Fauzi Ballah saya mendapatkan berbagai informasi mengenai lagu dari musik dengan lirik berbahasa Madura. Dalam kacamata beliau, ada beberapa pemusik yang tersebar di Madura masih menganut plagiarisme dalam menyanyikan lagu-lagunya. Saya juga masih ingat mengenai kemunculan dari lagu-lagu berbahasa Madura, yang pencetusnya (jika tidak salah) adalah S. Pandi, yang telah mengenalkan lagu-lagu dengan lirik berbahasa Madura. Sekitar tahun 2000-an, dengan adanya teknologi yang berupa DVD, musik dengan lirik berbahasa Madura kemudian muncul ke permukaan. Akan tetapi, jika mau ditelusuri lebih mendalam dari musik dengan bahasa Madura, Yus Yunus telah lebih dahulu mengenalkan musik dengan menggunakan lirik Madura, namun hanya sebagian kecil saja dari liriknya dan tidak sepenuhnya menggunakan bahasa Madura.

Belakangan, muncul artis dan lagu-lagu dengan mengusung lirik Madura sebagai pengenalan dari identitas kedaerahan Madura atau juga sebagai lahan untuk mendapatkan penghasilan dari tarik suara dan bermusiknya. Ira Faramesti yang pernah membawakan lagu yang sangat terkenal pada masanya dengan judul Rato Sagara, merupakan hasil jiplakan dari lagu Laksmana Raja di Laut yang telah dinyanyikan oleh Iyet Bustami. Hanya, Ira Faramesti mengubah lirik lagunya ke dalam bahasa Madura. Hal ini juga kemudian ”ditiru” oleh pendatang baru dengan mengubah syair-syair dari lagu aslinya, yang kemudian dinyanyikan dengan lirik berbahasa Madura. Contoh yang sangat viral saat ini adalah lagu dengan judul Obu’ Celleng yang ternyata merupakan hasil jiplakan dari judul lagu Nasib Force One Buruk. Informasi ini saya dapatkan dari hasil tulisan akun Facebook Umar Fausi Ballah yang muncul di beranda akun saya.

Selain lagu tersebut, masih ada beberapa judul lagu yang hanya mengubah lirik lagunya ke dalam bahasa Madura. Misalnya, lagu dengan judul Saporana Nyaba (ditulis Saporanah Nyabeh dalam judul lagunanya) dan Kala Bannya’. Kedua lagu ini murni menyomot dari musik India dengan judul aslinya Hum To Dil Se Haare (pada lagu Kala Bannya’) dalam soundtrack film Josh yang dibintangi oleh Aishwarya Rai dan Chandrachur Singh. Sedangkan judul lagu Saporana Nyaba merupakan lagu India dengan judul Pal Pal Dil Ke Paas yang merupakan nama sebuah film India yang dibintangi oleh Karan Deol dan diliris pada 2019.

Advertisement

Lantas, kenapa harus menggunakan musik yang telah diciptakan dan dipopulerkan oleh orang lain ketimbang membuat dan berkreasi sendiri? Atau mungkin pertanyaannya lebih mengarah, lantas kenapa jika menggunakan musik luar dari hasil jiplakan? Mungkin untuk sekadar berkreasi boleh dan dipersilakan, dengan satu catatan, tidak boleh mengambil keuntungan dari hasil jiplakan tersebut.

Sebetulnya jika kita ingin melihat atau mau mendengarkan beberapa karya musik yang benar-benar berbahasa Madura, ada album Nang Neng Nong yang pernah digarap oleh K. Turmedzi Djaka (yang sekarang menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Sumenep) bersama musisi-musisi lainnya. Dan, hal itu muncul kemurnian bahasa ibu (Madura) dari sekian lirik yang terdapat dalam album tersebut. Adapun liriknya merupakan puisi asli karangan dari Arach Djamaly yang kemudian digubah dalam bentuk lagu. Jika saya tidak salah, album Nang Neng Nong ini merupakan album kedua dari garapan album sebelumnya (saya kurang tahu persis judulnya).

Selain itu, baru-baru ini juga telah muncul kelompok musik yang juga mengusung bahasa ibu sebagai isi dari lirik musik yang dibawakannya. Lorjhu’ merupakan kelompok musik yang datang dari Kota Pamekasan hadir dengan jenis musik rock. Saat saya menyaksikan dan mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan oleh kelompok musik ini, tidak ada celah plagiasi dari musiknya. Saya sangat bangga ketika ada kemurnian musik yang mengusung bahasa ibu di dalamnya sebagai bahan pengenalan daerah Madura kepada dunia. Saya mengenal kelompok musik Lorjhu’ ini tidak lain dari Facebook sekitar 2021 (untuk lebih jelasnya saya lupa) sehingga dapat menerima pemberitahuan informasi mengenai kelompok musik ini dari akun Badrus Zeman yang bertindak sebagai vokalis dari Lorjhu itu sendiri. Dalam tangkapan saya sebagai orang yang telah berteman di dunia maya (Facebook) sangat yakin akun Badrus Zeman ini merupakan kunci utama dari terbentuknya grup musik rock Lorjhu’ tersebut.

Kemurnian dalam lirik lagu berbahasa ibu (Madura) dari kelompok musik Lorjhu’ ini tidak hanya sebatas pengenalan dari satu atau dua kelompok/orang yang melagukan musik dengan menggunakan bahasa Madura. Akan tetapi, sebisa mungkin (sebagai harapan) musisi-musisi yang memang memiliki talenta dalam bermusik jika ingin menggunakan bahasa Madura dalam lirik lagunya harus menyuarakan dan mengenalkan Madura kepada belantika musik di dunia secara murni. Dan salah satu sarana yang juga bisa digunakan adalah Facebook, karena dalam googling yang saya lakukan menyebutkan bahwa Facebook menduduki peringkat ketiga setelah Instagram dan WhatsApp dari sumber We Are Social tahun 2023 ini. (*)

*)Pengajar di SMAN 1 Sapeken, Sumenep

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo Pidato Pakai Bahasa Madura di Harjad Ke-757 Kabupaten Sumenep

Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo Pidato Pakai Bahasa Madura di Harjad Ke-757 Kabupaten Sumenep

Penggunaan bahasa daerah tersebut menjadi simbol komitmen pemerintah kabupaten (pemkab) dalam melestarikan warisan budaya leluhur.

Dispendik Sumenep Sebut FTBI Jadi Ruang Kecintaan pada Bahasa Daerah

Dispendik Sumenep Sebut FTBI Jadi Ruang Kecintaan pada Bahasa Daerah

Kasi Analisis Kebijakan Subkor Peserta Didik dan Pembangunan Karakter SD Ahmad Rasul Hariz mengatakan, melalui FTBI, siswa dapat mengekspresikan kemampuan berbahasa dan bersastra melalui berbagai cabang lomba. 

Nanik Virgiana Ningsih Kenalkan dan Rawat Bahasa Ibu lewat Kelas, Teater, hingga Layar Lebar

Nanik Virgiana Ningsih Kenalkan dan Rawat Bahasa Ibu lewat Kelas, Teater, hingga Layar Lebar

Bagi Nanik Virgiana Ningsih, menjadi guru bahasa Madura merupakan panggilan hati sekaligus bentuk kepedulian terhadap kelestarian bahasa daerah.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer