Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tulisan Bermula dari Kata

A
Penulis: Abdul Basri❯

 


Advertisement

KONGKO: Komunitas Damar Korong berdiskusi seputar kebahasaan dan tulis-menulis di Kafe ZWZ, Kecamatan Gapura, Sumenep, Sabtu (29/7).
KONGKO: Komunitas Damar Korong berdiskusi seputar kebahasaan dan tulis-menulis di Kafe ZWZ, Kecamatan Gapura, Sumenep, Sabtu (29/7).
 

Catatan dari Diskusi Komunitas Damar Korong mengenai Bahasa sebagai Kemampuan Dasar Menulis


Oleh Ina Herdiyana

BERBICARA bahasa tidak lepas dari ruang lingkup kehidupan manusia. Bahasa merupakan simbol bunyi yang dihasilkan dari ucapan. Bahasa menjadi medium untuk berinteraksi satu sama lain. Menjadi cara mengekspresikan perasaan dan menemukan eksistensi diri dari kehidupan sosial.

Bahasa adalah anugerah Tuhan sejak manusia lahir hingga tumbuh dan berkembang bersama pikiran dan lingkungan. Sejak kecil, manusia sudah memperoleh bahasa. Mulai menyimak bahasa ibu, lalu belajar menirukan. Kemudian, ketika dewasa mulai membaca, lalu menguraikan secara lisan atau menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Bahasa bermula dari kata. Dari kata, tulisan itu ada. Kata bisa menjadi apa saja. Sebait puisi, ungkapan peristiwa, kritik dan argumentasi, serta uraian masa lalu yang pintal-memintal seperti jalinan benang hingga membentuk cerita.

Advertisement

Kata memiliki kekuatan luar biasa. Bisa menjelma bunyi dalam pengeras suara. Misalnya, azan, salawat, tilawah, barzanji, puisi, dan macapat. Semua itu bisa membuat orang-orang khusyuk, menangis, marah, tenang, tersenyum, dan tertawa bahagia.

Bahasa berbeda dengan ilmu bahasa, tetapi keduanya memiliki keterikatan dalam komunikasi. Bahasa, baik lisan maupun tulisan, akan tersampaikan dengan baik bila berpedoman pada ilmu bahasa (tata bahasa/gramatika).

Jika bahasa diibaratkan pisau, maka gramatika adalah cara untuk mempertajam sehingga pisau itu bisa digunakan sebagaimana fungsinya. Seorang penulis yang baik tidak hanya meningkatkan intuisi untuk memperoleh ide, tetapi juga mampu menguasai gramatika. Sebab, sebagus apa pun gagasan yang ditulis akan menjadi kacau balau dan tidak tersampaikan kepada pembaca ketika tidak berpedoman pada aturan gramatika.

Advertisement

Dalam menulis, kunci dasar yang harus dikuasai adalah memahami bentuk kata. Bentuk kata terdiri atas kata dasar dan kata turunan. Untuk memahami bentuk kata, harus mengetahui kategori/jenis. Antara lain, kata benda/nomina (n), kata kerja/verba (v), kata sifat/adjektiva (a), kata keterangan/adverbia (adv), kata bilangan/numeralia (num), dan kata ganti/pronominal (pron).

Kata mengalami pembentukan (proses morfologis). Proses morfologis terdiri atas afiksasi berupa awalan, sisipan, dan akhiran. Kemudian, reduplikasi yaitu pengulangan kata dasar, baik keseluruhan maupun sebagian. Misalnya, orang-orang (pengulangan menyeluruh) dan tetamu (pengulangan sebagian).

Selain kategori kata, untuk menyusun kalimat yang baik, seorang penulis harus mampu mengenali fungsi kata. Yakni, subjek (s), predikat (p), objek (o), pelengkap (pel), dan keterangan (ket). Misalnya, Bupati Sumenep foto dengan jajaran organisasi perangkat daerah. Kata foto di sini berkategori nomina sehingga tidak bisa menggantikan fungsi predikat. Untuk bisa menggantikan fungsi predikat, kata yang berkategori nomina (foto) harus diubah menjadi verba, yaitu berfoto.

Aturan berbahasa mencakup semua jenis tulisan, baik karya jurnalistik (berita), esai, cerpen, maupun puisi. Walaupun dalam puisi ada licentia poetica, bukan berarti penulis bisa sesuka hati melanggar aturan berbahasa. Licentia poetica boleh diterapkan untuk mencapai tujuan tertentu yang dipahami oleh penulis. Misalnya, untuk menyelaraskan bunyi, nada, atau keindahan bentuk, bukan mengubah gramatika secara total.

Sebab itu, berbahasalah yang baik dan benar. Baik yaitu sesuai konteks, sedangkan benar yaitu sesuai aturan bahasa. Tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu berinteraksi dengan pembacanya. Pembaca akan merasakan tulisan itu berbicara dengannya dan menyatu dalam pikirannya, mengalir seperti air, dan tidak ada keinginan untuk berhenti sebelum tuntas membacanya hingga memberi pesan (makna).

Tulislah apa pun yang ingin Anda tulis, tetapi jangan lupakan aturannya. Tulisan ibarat kue olahan yang akan diantarkan kepada pemesannya, sedangkan gramatika adalah jalannya. Jika kita melewati jalan yang tepat, kue itu akan lebih mudah untuk sampai. Pemesannya pun akan bahagia.

Ada tiga hal agar komunikasi tersampaikan dengan baik. Pertama, menguasai topik yang akan ditulis. Kedua, mengenal komunikan (pembaca). Kemudian ketiga, memfokuskan pesan yang ingin disampaikan. Dengan berbahasa, kita menjadi manusia yang berbudaya. Dengan berbudaya, kita telah merawat nilai persatuan bangsa. Salam bahasa. (*)

 

*)Editor bahasa Jawa Pos Radar Madura

 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer