
(untuk Ika Fajrin Aisyah, Bagian Pertama)
Matematika adalah bahasa yang mengunakan simbol atau lambang, merupakan rangkaian makna dari serangkaian pernyataan yang akan disampaikan.
SAAT saya SMA, memiliki kenangan buruk tentang matematika. Di antara pelajaran matematika yang terbagi menjadi aljabar, aritmatika, geometri dan trigonomteri, saya paling malas dan tidak suka pada materi geometri dan trigonometri.
Saya merasa geometri dan trigonometri sangat rumit untuk dipahami, apalagi jika gurunya selalu menghukum ketika tidak bisa menjawab pertanyaannya. Namun, saya sangat menyukai aljabar dan aritmatika, soal-soal untuk dua materi ini senang mengejakannya.
Bahkan, materi untuk sebulan yang akan datang sudah saya pelajari dan kerjakan terlebih dahulu di awal bulan. Maksud saya, jika saya tidak bisa di ujian trigonometri, bisa ditutupi dari nilai ujian aljabar dan aritmatika.
Realitas di kelas berbicara lain. Di papan tulis dijelaskan mengenai rumus matematika, contoh soal dan mengerjakan latihan soal yang ada di dalam buku paket matematika terbitan Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Begitu kakunya matematika, menegangkan dan menakutkan. Maka, dikumpulkanlah teman-teman sekelas untuk mengikuti tambahan pelajaran matematika. Padahal, saat itu karena saya berada di jurusan IPA dalam seminggu ada 5 jam pelajaran matematika. Betapa matematika sangat menjenuhkan.
Saya menjadi guru biologi, dan diberi tugas untuk membimbing kegiatan ekstrakurikuler menulis dan meneliti, memiliki seorang murid tidak pintar matematika dan bahkan sering kali jika menyampaikan sesuatu saya sering kelabakan untuk memahami ceritanya, karena imajinasi dalam ceritanya cukup liar.
Ada satu hal menarik yang jadi perhatian saya, imajinasi. Ia akan bercerita dengan sangat menarik dan memukau ketika mengisahkan tentang masuknya Islam di Nusantara, Islam di Konstantinopel dan berbagai kisah tentang Nabi dengan cara penyampaian yang fasih.
Haris, nama siswa itu dan setiap mau ulangan selalu meminta untuk didoakan supaya bisa mengerjakan soal-soalnya dengan baik.
Sering kali di saat jam istirahat guru matematika membicarakan Haris, karena tidak bisa mengerjakan soal matematika. Kalaupun menjawab, tidak sesuai dengan permintaan dalam soal.
Bagi saya, Haris tidak pintar matematika tetapi pandai di pelajaran sejarah dan punya kecerdasan verbal dan cukup imajinatif dalam menyampaikan sesuatu. Ketika lulus SMA, Haris diterima di program studi sejarah sesuai dengan minatnya.
Saat kuliah di semester tiga, Haris mengirimi pesan inbox mengabarkan kalau tengah berlomba mempresentasikan hasil karya tulisnya dalam tingkat nasional di Universitas Negeri Malang. Dari hasil lomba tersebut Haris sebagai pemenang III mengangkat masalah Revitalisasi Kota Tua Kalianget.
Di waktu-waktu berikutnya, Haris sering diskusi tentang Revitalisasi Kereta Api di Madura sebagai alat transportasi logistik garam, tembakau, dan keperluan pokok lainnya. Tahun lalu (2022) Haris menulis buku mengenai ”Sejarah Kereta Api di Madura.”
Saya yakin setiap anak dilahirkan dengan segala kelebihan dan keunikannya. Gardner mengatakan bahwa kecerdasan banyak ragamnya. Setiap anak adalah pandai, hanya butuh waktu belajar yang berbeda. Anak yang tidak pintar matematika namun pintar pelajaran sejarah.
Anak tidak pintar biologi tetapi sangat pintar di bidang seni. Tidak ada anak yang bodoh, barangkali hanya kita yang kurang tepat menagani anak didik sesuai dengan kecerdasannya.
Ada seorang siswa ketika SMA nilai rapor matematikanya 5, tidak tuntas. Tapi selepas kuliah anak tersebut menjadi ketua komisi dewan perwakilan rakyat di daerah. Saya ingat ketika SMA siswa tersebut pernah memimpin teman-temanya mendemo kepala sekolah.
Siswa tersebut memiliki kemampuan orasi dan negosiasi yang bagus. Sesungguhnya dia tidak cerdas matematika, tetapi cerdas secara interpersonal. Dalam capaian pembelajaran matematika, fase E dinyatakan: Pada mata pelajaran matematika peserta didik dilatih cara berpikir, bernalar, dan berlogika.
Dilakukan, melalui aktivitas mental berkesinambungan untuk pembentukan alur pemahaman tentang pembelajaran matematika berupa fakta, konsep, operasi, relasi, masalah dan solusi matematis tertentu yang bersifat formal-universal.
Proses mental tersebut untuk memperkuat disposisi peserta didik merasakan makna dan manfaat matematika, serta nilai-nilai moral meliputi kebebasan kemahiran, penaksiran, keakuratan, kesistematisan, kerasionalan, kesabaran, kemandirian, kedisiplinan, ketekunan, ketangguhan, kepercayaan diri, keterbukaan pikiran, dan kreativitas (CP Matematika Fase A-F, halaman 4).
Jika lambang atau simbol matematika merupakan bahasa dengan serangkaian makna yang akan disampaikan, sebenarnya ketika mempelajari matematika anak bukan menghafal rumus, tetapi tengah merekam bahasa dalam simbol.
Artinya, komunikasi matematika adalah bahasa logis dan teratur yang disederhanakan dalam bentuk simbol atau gambar. Dalam ranah ini sebenarnya pelajaran matematika bisa dilakukan dengan menguraikan rumus, menemukan pola dalam sebuah bahasa yang logis dan runtut. (*)
*)Guru, menulis esai dan puisi
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




