
Oleh LUKMAN HAKIM AG.*
Pelestarian dan perlindungan bahasa daerah menjadi perhatian pemerintah. Dua bahasa daerah di Jawa Timur direvitalisasi tahun ini. Yakni, bahasa Madura dan bahasa Jawa dialek Using.
BAHASA Madura akan tetap ada selama orang Madura masih ada. Orang Madura tidak hanya tinggal di Pulau Madura. Orang Madura menyebar ke berbagai belahan dunia. Setiap sudut bumi pasti ada orang Madura.
Namun, sebagian pihak mengkhawatirkan ancaman kepunahan bahasa Madura. Kekhawatiran itu dilatarbelakangi beberapa faktor. Karena itu, dinilai penting untuk melakukan sesuatu dalam rangka perlindungan dan pelestarian untuk mencegah kepunahan. Salah satunya melalui program revitalisasi yang sedang dilaksanakan tahun ini.
Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) melibatkan tujuh orang sebagai maestro untuk melatih 240 guru master dari Madura. Yakni, Moh. Hafidz Effendi untuk materi pidato berbahasa Madura, Avan Fathurrahman materi dongeng berbahasa Madura, Isya Sayunani aksara carakan Madura, Mudhar CH cerita pendek (cerpen) berbahasa Madura, Lukman Hakim AG puisi berbahasa Madura, Tola’adi tembang berbahasa Madura, dan Habibur Rohman lawakan tunggal berbahasa Madura.
Pelatihan guru master digelar di Surabaya pada pekan terakhir Mei hingga pekan kedua Juni 2023. Ratusan guru master ini terdiri atas 120 pendidik jenjang SD dan 120 guru SMP. Pelatihan dilaksanakan berdasar daerah. Tiap daerah 60 guru, yang terdiri atas 30 guru SD dan 30 guru SMP.
Namun, dari ratusan peserta itu, tidak semua guru yang aktif mengajar. Ada beberapa yang menjabat sebagai kepala sekolah, ada pengawas, dan bahkan kepala seksi (Kasi) di dispendik.
Kegiatan pelatihan diawali peserta dari Sumenep pada 22–26 Mei 2023. Kemudian dilanjutkan peserta wilayah Bangkalan pada 29 Mei hingga 2 Juni 2023. Lalu, pelatihan untuk guru master dari Pamekasan pada 5–9 Juni. Terakhir, pelatihan untuk guru master wilayah Sampang pada 12–16 Juni 2023.
Dalam pelatihan ini, guru master dibekali materi oleh para maestro sesuai genre masing-masing. Setelah itu, dilanjutkan dengan praktik langsung di lokasi. Seperti pada materi puisi, maestro berbagi beberapa hal terkait puisi berbahasa Madura. Mulai dari materi menulis hingga membaca puisi.
Kemudian, guru master belajar praktik menulis puisi berbahasa Madura. Lalu, dilanjutkan praktik pembacaan puisi. Begitu juga dengan materi-materi yang lain. Carakan, tembang, pidato, dongeng, cerpen, dan lawakan tunggal.
Program revitalisasi bahasa daerah ini tidak berhenti pada pelatihan. Setelah ikut pelatihan, guru master berkewajiban untuk mengimbaskan kepada guru sejawat dan peserta didik di wilayah masing-masing. Setidaknya, setiap guru master mengimbaskan kepada minimal sepuluh guru sejawat. Dengan demikian, setidaknya program ini melibatkan 2.400 guru di empat kabupaten di Madura.
Setelah pelatihan itu, para guru master sibuk melaksanakan tindak lanjut pengimbasan. Beragam cara dilakukan untuk menyukseskan kegiatan itu. Ada yang dilaksanakan di sekolah, melalui kelompok kerja guru (KKG), koordinator wilayah (korwil), dan lain-lain.
Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) merupakan agenda lanjutan. Festival ini diproyeksikan untuk peserta didik. Karena itu, para guru master dan guru sejawat ini bisa menularkan materi pelatihan kepada peserta didik. Sebab, peserta didik inilah yang nantinya akan menjadi peserta festival.
Keberhasilan program ini berkat kerja sama semua pihak. Selain panitia, maestro, dan guru master, butuh peran pihak lain. Terutama pemerintah daerah. Dalam hal ini, dispendik untuk turut mendorong dan mendukung hingga tujuan revitalisasi ini tercapai.
Pemantauan dilakukan oleh BBJT pada setiap tahapan. Para guru master berkreasi sesuai ide masing-masing dalam melaksanakan pengimbasan. Semoga lancar dan berhasil mencegah kepunahan. Atau, jika tidak yakin pada ancaman kepunahan, program ini diharapkan dapat meningkatkan kecintaan dan pengetahuan orang Madura pada bahasa Madura. Semoga. (*)
*)Pemred Jawa Pos Radar Madura
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




