Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Satu Malam Bernilai Seribu Bulan

A
Penulis: Abdul Basri❯
Photo
Photo
oleh ALI IBNU ANWAR*

SETIAP kali menghadapi Ramadan, kita sering mendengar dari para dai dan penceramah tentang keutamaan-keutamaan di bulan penuh berkah tersebut. Dari sekian keutamaan Ramadan, ada satu momen yang dinanti-nanti oleh jutaan kaum muslim di seluruh dunia, yaitu Lailatulqadar.

Kita tahu, keutamaan Lailatulqadar—baik yang kita dengar dari para penceramah maupun literatur di kitab-kitab klasik dan Al-Qur’an—di antaranya, bumi terasa sempit sebab pada malam itu para malaikat turun ke bumi, langit tenang, marga satwa tak berbunyi, gunung menahan napasnya, angin pun berhenti, pohon-pohon tunduk dalam gelap malam—demikian Taufiq Ismail menggambarkan Lailatulqadar dalam puisi yang kemudian dinyanyikan oleh grup musik Bimbo.

Beberapa literatur menjelaskan, Lailatulqadar terjadi pada malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadan. Sehingga, pada malam-malam tersebut sebagian umat Islam mengisinya dengan beriktikaf, berzikir, dan membaca Al-Qur’an. Seseorang yang memperoleh Lailatulqadar, maka ia akan mendapatkan nilai kebaikan setara dengan seribu bulan. Artinya, bila dikalkulasi dengan usia seseorang, sekitar 83 tahun. Waktu yang bahkan melampaui batas usia manusia pada umumnya.

Bagaimana menghayati keutamaan-keutamaan Lailatulqadar tersebut dalam kehidupan kita? Al-Qur’an menjelaskan, bahwa ciri-ciri orang yang memperoleh Lailatulqadar, yakni orang tersebut akan merasa, sekecil apa pun peristiwa terjadi pada dirinya akan mendatangkan hikmah yang besar dalam hidupnya.

Berbaik Sangka

Sebagaimana pahala dari amal puasa Ramadan, Allahlah yang menentukan hamba yang berhak memperoleh keistimewaan Lailatulqadar. Dalam beberapa keterangan, setiap umat Islam akan memperoleh keistimewaan Lailatulqadar semasa hidupnya. Sehingga, tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak memburu malam itu.

Ketika Allah memilih hambanya untuk memperoleh keistimewaan Lailatulqadar, tidak ada tanda-tanda khusus secara tersurat bagi orang tersebut. Sebab, Allah langsung meniupkan ketenangan bagi hati orang tersebut. Misalnya, ia semakin ringan dalam melaksanakan perintah Allah dan melakukan kebaikan-kebaikan hidup. Tangannya terasa ringan membantu dan menolong tetangga yang kesulitan. Mulutnya terasa lebih ringan untuk membicarakan hal-hal yang bermanfaat, tinimbang membicarakan keburukan orang lain. Dan, semua itu dapat dirasakan secara personal, dalam tingkatan yang berbeda-beda.

Berhubung tidak ada tanda-tanda secara pasti bagi seseorang yang memperoleh keistimewaan Lailatulqadar, maka tidak ada ruginya bagi siapa pun untuk mengoptimalkan ibadah pada malam-malam sepuluh terakhir Ramadan. Selain itu, kita harus menyikapi dengan berbaik sangka bahwa kitalah yang Allah tetapkan untuk memperoleh Lailatulqadar. Sehingga, berkat itu semua kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

 Mempersiapkan Diri

Ini merupakan pertanyaan personal yang bertarung dalam diri saya: bagaimana jika Allah sudah mempersiapkan sebuah tiket kepada kita untuk memperoleh keistimewaan Lailatulqadar, namun kita tidak mengambilnya, atau kita belum siap karena tidak tahu cara mempergunakan tiket tersebut?

Ilustrasi sederhananya—walau sedikit matematis—, ada seorang yang kaya raya ingin memberikan uang dalam jumlah besar untuk kita manfaatkan dalam hal tertentu, namun karena kita tidak tahu akan kita gunakan untuk apa uang tersebut, maka orang kaya tersebut batal memberikan uang itu kepada kita.

Tentu ilustrasi di atas merupakan ilustrasi imajiner yang berkembang di kepala saya. Dengan kata lain, keistimewaan Lailatulqadar tidak lantas serta-merta diperoleh oleh seseorang tanpa ia mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Dengan apa? Ya, dengan meningkatkan kualitas ibadah dan amal kebaikan kita setiap waktu.

Karena Allah menjelaskan, Lailatulqadar senilai dengan seribu bulan, tentu yang dapat kita terima secara nalar adalah betapa istimewanya kualitas atau nilai dari satu malam tersebut. Bisa dikatakan, sedikit kemungkinan malam yang istimewa itu diperoleh oleh seseorang yang kualitas ibadahnya biasa-biasa saja.

Ibadah di sini tidak sebatas perkara ibadah yang berlandaskan hubungan dengan Allah semata. Tetapi, juga bagaimana kita dapat meningkatkan nilai-nilai ibadah yang lain dalam memperbaiki hubungan dengan manusia dan alam semesta. Misal, bagi seseorang yang bekerja, ia dapat meningkatkan etos kerjanya dengan optimal dan ikhlas, sehingga mendatangkan manfaat-manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain. Suatu pekerjaan baik bernilai seribu manfaat.

Bukankah ketika kita dapat meningkatkan kualitas penghambaan kita kepada Allah, kita dapat meningkatkan asas manfaat bagi orang lain, kita dapat meningkatkan kepekaan kita dalam menjaga semesta dari kerusakan-kerusakan kecil, merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas amal kebaikan kita? Semakin besar asas kebermanfaatan kita, semakin besar pula kualitas kebaikan yang kita kerjakan. Itulah saya kira cara kita membayar kewajiban untuk perkara yang penting, dan hanya menjadi hak prerogatif Allah tersebut.

Sudahkah kita mempersiapkan diri menyambut tiket Lailatulqadar, yang boleh jadi sudah Allah persiapkan untuk kita? (*)

*)Praktisi seni budaya, dan guru di TMI Al-Amien Prenduan

Advertisement
Advertisement
Editor : Abdul Basri
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer