Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BANYAK hal yang bisa digali dalam dunia pesantren. Tidak sekadar belajar keilmuan tentang agama, akan tetapi lebih luas lagi dari hanya belajar keagamaan. Kedudukan pesantren sangat luas cakupannya untuk menopang kehidupan di dunia dan akhirat. Penyiapan insan yang mampu menempatkan diri untuk senantiasa menerima rida dan ketentuan-ketentuan yang telah Tuhan janjikan sejak usia empat bulan di dalam kandungan. Pesantren juga berfungsi sebagai tempat untuk menempa diri agar bisa menghadapi dunia yang keras menuju akhirat yang kekal.
Dunia pesantren syarat akan pengembangan-pengembangan kemandirian dari setiap santri. Maka dari itu, dalam dunia pesantren terkadang kita menjumpai santri yang mondok sampai puluhan tahun. Karena memang, untuk mencari jati diri dengan bekal ilmu agama harus menyediakan waktu yang lama untuk benar-benar memiliki kematangan dalam berpikir dan berperilaku di masyarakat (landasannya memang ada dalam keterangan-keterangan yang pernah saya dapatkan dalam acara-acara haflatul imtihan). Jika waktu yang ditempuh hanya 3 atau 5 tahun dapat dipastikan kurang matang. Andai bisa disamakan, dapat digambarkan dengan buah karbitan, yaitu buah yang dipaksa matang.
Ada banyak yang bisa dilakukan atau dipelajari dalam dunia pesantren ini. Santri bisa mempelajari pertukangan atau meracik masakan di dapur pesantren. Nah, bagian memasak ini tentu tidak hanya terfokus pada santri putri. Keberadaan santri putra juga ikut andil dalam mengerjakan menu makanan di dapur. Tentunya para santri tidak dibantu tutor atau chef andal dalam mengerjakan pekerjaan tersebut, mereka akan belajar secara mandiri dan menyelesaikan pekerjaannya.
Pesantren tidak kemudian akan memberikan bekal sebelum mengerjakan tugas yang berkenaan dengan pekerjaan di atas atau pekerjaan lainnya. Mereka akan diminta untuk menyelesaikan tugas mereka (dan di sana proses belajar santri dimulai). Selain dari jabaran di atas, yang menjadi titik penting dalam tulisan ini adalah keberadaan bahasa Madura yang berkenaan dengan ondhagga basa (tingkatan bahasa).
Saya ingin mempertegas dari keberadaan bahasa Madura tersebut. Bukan berarti pesantren sudah tidak memedulikan lagi akan keberadaan tingkatan bahasa. Posisi pesantren jika dilihat dari keberadaan tingkatan bahasa sangat penting. Tumbuh suburnya ondhagga basa tersebut terdapat dalam dunia pesantren dengan asumsi bahwa setiap komunikasi yang dilakukan dalam lingkup pesantren ini dilakukan dengan menggunakan tingkatan bahasa. Komunikasi yang dilakukan dengan teman santri pengurus pondok, atau komunikasi dengan bapak kiai-ibu nyai harus menggunakan tingkatan bahasa tersebut.
Tiga tingkatan bahasa dalam aspek kebahasaan yang terdapat dalam komunikasi Madura dapat sangat terlihat dalam dunia pesantren ini. Misalnya ondhagga basa yang pertama (kasar; mapas, Madura) digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih muda. Akan tetapi, jika terdapat dalam konteks pengajaran bisa menggunakan tingkatan bahasa tengah. Tingkat bahasa tengah digunakan ketika berkomunikasi dengan teman atau seseorang yang sebaya dari penutur. Sedangkan tingkat bahasa yang ketiga (alos atau tenggi, Madura) digunakan ketika berkomunikasi dengan seseorang yang tingkat usia atau keilmuannya lebih tinggi dari penutur. Posisi ini dapat dilakukan dengan berkomunikasi pada pengurus pondok atau komunikasi yang dilakukan dengan bapak kiai atau ibu nyai pondoknya.
Pada komunikasi yang telah dibangun tersebut menunjukkan harga diri dari seorang penutur bahasa itu sendiri. Sebenarnya, jika penutur menggunakan tingkat bahasa, secara tidak langsung ia telah memberikan label tinggi atas keberadaannya sendiri sebagai posisi yang pertama. Selebihnya ia juga memberikan penghargaan terhadap orang yang diajak berkomunikasi (komunikan). Hal ini akan berimbas pada efek tidak enak atau tidak nyaman ketika penutur atau mitra tutur yang menggunakan tingkat bahasa tengah atau tinggi kemudian salah satunya menggunakan bahasa rendah.
Penutur dan mitra tutur yang menggunakan bahasa Madura akan terlihat jelas proporsialnya dalam menggunakan tingkat bahasa Madura ketika memperhatikan etika dalam berkomunikasi. Dan, kedudukan pesantren yang dimotori oleh bapak kiai dan ibu nyai jelas akan mengarahkan tingkat bahasa yang sebenarnya. Hal ini mengarah pada media yang digunakan untuk menyampaikan kajian-kajian keislaman dengan menggunakan bahasa Madura yang sesuai dengan situasi dan kondisi.
Kondisi yang demikian merupakan langkah pertama dalam penanaman pengenalan dan konsep pemahaman akan bahasa dan tingkatan bahasa Madura, baik terhadap santri maupun masyarakat luas. Apabila kondisi ini digantikan dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam menyampaikan keilmuan, pasti akan menggeser pengenalan dan pemahaman tentang bahasa Madura dan tingkatan bahasanya. Dapat diteguhkan kembali pemahaman dalam tulisan ini, saya berpikir penggunaan bahasa Indonesia dalam hal penyampaian keilmuan bukan berarti salah. Namun, perlu ditegaskan bahawa untuk mengenalkan dan menambah pemahaman akan kebahasaan dan tingkat bahasa Madura perlu serangkaian kegiatan yang merujuk pada penggunaan bahasa Madura tersebut.
Nah, untuk di luar pesantren bukan berarti tidak memiliki tugas pokok untuk menyebarkan bahasa Madura dengan benar. Hanya, keberadaan bahasa Madura yang paling nampak nyata berada dalam dunia pesantren. Keberadaan masyarakat pada umumnya memang memiliki tanggung jawab juga dalam menyebarkan dan menggunakan bahasa Madura. (*)
*)Pembelajar di Lembaga Kajian Seni Budaya Pangesto Net_Think Community Sumenep
Advertisement
Advertisement
Radar MaduraIkuti
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!
Artikel Terkait
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement




