24 C
Madura
Saturday, January 28, 2023

KLOPS Reborn, 32 Tahun setelah Kelahiran (1)

Yang Bergabung Mengembangkan Diri, Yang Keluar Membebaskan Diri

Oleh HIDAYAT RAHARJA*

PAMERAN lukisan bertema ”Masa Kejayaan Sumenep” 18–25 Januari 2023 di Hotel Suramadu–Sumenep, merupakan pameran yang menandai kalender kegiatan 2023 Pemerintah Kabupaten Sumenep dan reborn KLOPS Sumenep setelah 32 tahun kehadirannya. Pameran dibuka oleh Bupati Sumenep Achmad Fauzi dan dihadiri segenap forkopimda dan masyarakat umum. Ada 23 pelukis dari dua generasi yang menyajikan puluhan karya dengan berbagai ukuran.

Penanda kelahiran kembali Kelompok Perupa Sumenep (KLOPS) setelah 32 tahun berdiri. Perjumpaan kembali dan bukan sekadar kembali karena di antara mereka telah menemukan diri dalam kematangan karya. Lahir kembali sebuah momentum untuk melanjutkan (memulai) kehidupan yang telah lewat. Kelahiran ini muncul karena telah lama vakum atau stagnan. Berhenti sesaat tapi bukan menopause, yang menghentikan produktivitas (kelahiran). KLOPS reborn tidak lain melanjutkan aktivitas hidup yang telah melahirkannya sejak 1991.

Saat KLOPS berdiri, keberadaan komunitas seni di Sumenep sangat dinamis. Hal ini ditandai dengan keberhasilan Sanggar Kembara pada 1990 yang mengundang para pelukis seluruh Madura untuk berpameran di Sumenep. Pameran Seni Lukis 1990 menjadi cikal bakal lahirnya KLOPS untuk mewadahi para pelukis di Sumenep. Di saat yang sama juga hadir berbagai forum diskusi dan pertunjukan serta jaringan komunikasi dengan seniman di berbagai daerah.

Dalam rangkaian sejarah yang cukup berarti, usia 32 tahun bisa dikatakan waktu yang cukup matang untuk memberikan makna bagi perkembangan seni rupa di Sumenep. Awal KLOPS terbentuk (saat mereka para pendiri masih muda) penuh daya kreatif, liar, dan berontak. Semangat muda yang kemudian mereka berkumpul bersama. Mereka membentuk wadah, ruang untuk membangun kebersamaan, kreativitas kolektif. Kehadiran sebuah generasi yang saat itu penting untuk melanjutkan semangat pelukis Moh. Saleh dan Sulaiman, dua perupa Sumenep yang peduli terhadap perkembangan seni rupa. Dua perupa yang mampu membangun jejaring ke dunia luar.

Baca Juga :  Baddrut Tamam Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Lokal

Berbagai kegiatan, ekshibisi, lomba mewarnai, lomba menggambar, grafiti, pembinaan terhadap anak-anak atau guru taman kanak-kanak, merupakan representasi keberadaan KLOPS sebagai wadah yang memberikan pengetahuan bagi orang yang membutuhkannya. Aktivitas yang memungkinkan KLOPS berkiprah di tengah masyarakat. Sebuah keterlibatan yang tidak berarti kalau dilihat dari hasil finansial, namun sangat bermakna bagi perannya sebagai bagian dari investasi dinamika peradaban.

Kehadiran KLOPS merupakan semangat baru untuk menyemangati dan mewadahi perupa Sumenep. Pertemuan rutin bergilir setiap bulan di rumah anggotanya. Silaturahmi sekaligus menyusun rencana untuk selalu menyalakan kreativitas dan berkarya. Sebuah kelompok yang mewarnai kegiatan seni rupa, juga secara tidak langsung menggerakkan perkembangan peradaban di Sumenep.

Pameran Seni Rupa banyak digelar bahkan hampir setiap tahun dilakukan. Gedung Pertemuan Kantor Golkar sering kali menjadi tumpuan teman-teman KLOPS untuk berpameran. Bahkan, di antara mereka menjadikan trotoar di Jalan Trunojoyo, Sumenep, sebagai galeri untuk memajang karya setiap menjelang Idul Fitri. Sebuah perjalanan untuk tidak menyerah pada keterbatasan.

Baca Juga :  Olle ollang: Penjelajahan Melintas Batas

Awal keberangkatan yang membuat mereka semakin paham tentang keterbatasan ruang pamer dan kreativitas. Terbangunnya jaringan komunikasi dengan beberapa seniman di berbagai kota, menyebabkan personal yang ada di KLOPS semakin leluasa untuk mengembangkan kreativitas. Beberapa di antaranya sampai merambah pemasaran sampai ke luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, India, Eropa, dan berbagai galeri besar yang ada di Indonesia.

Artinya kehadiran KLOPS telah ikut serta mewarnai dinamika perkembangan seni rupa di Sumenep. Kehadiran yang tidak mungkin diabaikan ketika memperbincangkan keberadaan dan perkembangan seni rupa Madura. Dalam perkembangannya banyak di antara pelukis yang bergabung untuk mengembangkan diri, juga ada yang keluar untuk membebaskan diri dan menjelajahi berbagai kemungkinan di luarnya.

Pasang surut sebuah komunitas adalah hal yang dinamis, kondisi yang menandakan ada kehidupan. Persoalan-persoalan yang memungkinkan seseorang berkembang semakin  matang, banyak belajar dan berbenah sehingga secara personal bisa lebih maju. Dalam sebuah komunitas bukan harus menyeragamkan pikiran, tetapi menyamakan tujuan dengan berbagai kemungkinan kreatif yang bisa ditempuh. Menggagas pemikiran, sehingga bisa saling menguatkan untuk mencapai tujuan.

Dalam perjalanannya, komunitas KLOPS masih bisa bertahan dengan kelenturan tubuh yang tidak mengikat bagi anggotanya. Komunitas sebagai sebuah ruang bersama bisa hanya sekadar melihat, berbagi atau berbeda pendapat untuk mengembangkan kemampuan. Semua bisa saling belajar dan menerima, sebuah kebersamaan yang membuat nyaman. (*)

 

*)Penulis, pelukis sketsa, tinggal di Sampang

Oleh HIDAYAT RAHARJA*

PAMERAN lukisan bertema ”Masa Kejayaan Sumenep” 18–25 Januari 2023 di Hotel Suramadu–Sumenep, merupakan pameran yang menandai kalender kegiatan 2023 Pemerintah Kabupaten Sumenep dan reborn KLOPS Sumenep setelah 32 tahun kehadirannya. Pameran dibuka oleh Bupati Sumenep Achmad Fauzi dan dihadiri segenap forkopimda dan masyarakat umum. Ada 23 pelukis dari dua generasi yang menyajikan puluhan karya dengan berbagai ukuran.

Penanda kelahiran kembali Kelompok Perupa Sumenep (KLOPS) setelah 32 tahun berdiri. Perjumpaan kembali dan bukan sekadar kembali karena di antara mereka telah menemukan diri dalam kematangan karya. Lahir kembali sebuah momentum untuk melanjutkan (memulai) kehidupan yang telah lewat. Kelahiran ini muncul karena telah lama vakum atau stagnan. Berhenti sesaat tapi bukan menopause, yang menghentikan produktivitas (kelahiran). KLOPS reborn tidak lain melanjutkan aktivitas hidup yang telah melahirkannya sejak 1991.


Saat KLOPS berdiri, keberadaan komunitas seni di Sumenep sangat dinamis. Hal ini ditandai dengan keberhasilan Sanggar Kembara pada 1990 yang mengundang para pelukis seluruh Madura untuk berpameran di Sumenep. Pameran Seni Lukis 1990 menjadi cikal bakal lahirnya KLOPS untuk mewadahi para pelukis di Sumenep. Di saat yang sama juga hadir berbagai forum diskusi dan pertunjukan serta jaringan komunikasi dengan seniman di berbagai daerah.

Dalam rangkaian sejarah yang cukup berarti, usia 32 tahun bisa dikatakan waktu yang cukup matang untuk memberikan makna bagi perkembangan seni rupa di Sumenep. Awal KLOPS terbentuk (saat mereka para pendiri masih muda) penuh daya kreatif, liar, dan berontak. Semangat muda yang kemudian mereka berkumpul bersama. Mereka membentuk wadah, ruang untuk membangun kebersamaan, kreativitas kolektif. Kehadiran sebuah generasi yang saat itu penting untuk melanjutkan semangat pelukis Moh. Saleh dan Sulaiman, dua perupa Sumenep yang peduli terhadap perkembangan seni rupa. Dua perupa yang mampu membangun jejaring ke dunia luar.

Baca Juga :  Sapparan Budaya Hadirkan Tokoh Nasional

Berbagai kegiatan, ekshibisi, lomba mewarnai, lomba menggambar, grafiti, pembinaan terhadap anak-anak atau guru taman kanak-kanak, merupakan representasi keberadaan KLOPS sebagai wadah yang memberikan pengetahuan bagi orang yang membutuhkannya. Aktivitas yang memungkinkan KLOPS berkiprah di tengah masyarakat. Sebuah keterlibatan yang tidak berarti kalau dilihat dari hasil finansial, namun sangat bermakna bagi perannya sebagai bagian dari investasi dinamika peradaban.

Kehadiran KLOPS merupakan semangat baru untuk menyemangati dan mewadahi perupa Sumenep. Pertemuan rutin bergilir setiap bulan di rumah anggotanya. Silaturahmi sekaligus menyusun rencana untuk selalu menyalakan kreativitas dan berkarya. Sebuah kelompok yang mewarnai kegiatan seni rupa, juga secara tidak langsung menggerakkan perkembangan peradaban di Sumenep.

- Advertisement -

Pameran Seni Rupa banyak digelar bahkan hampir setiap tahun dilakukan. Gedung Pertemuan Kantor Golkar sering kali menjadi tumpuan teman-teman KLOPS untuk berpameran. Bahkan, di antara mereka menjadikan trotoar di Jalan Trunojoyo, Sumenep, sebagai galeri untuk memajang karya setiap menjelang Idul Fitri. Sebuah perjalanan untuk tidak menyerah pada keterbatasan.

Baca Juga :  Belajar Menjadi Hamba yang Sesungguhnya

Awal keberangkatan yang membuat mereka semakin paham tentang keterbatasan ruang pamer dan kreativitas. Terbangunnya jaringan komunikasi dengan beberapa seniman di berbagai kota, menyebabkan personal yang ada di KLOPS semakin leluasa untuk mengembangkan kreativitas. Beberapa di antaranya sampai merambah pemasaran sampai ke luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, India, Eropa, dan berbagai galeri besar yang ada di Indonesia.

Artinya kehadiran KLOPS telah ikut serta mewarnai dinamika perkembangan seni rupa di Sumenep. Kehadiran yang tidak mungkin diabaikan ketika memperbincangkan keberadaan dan perkembangan seni rupa Madura. Dalam perkembangannya banyak di antara pelukis yang bergabung untuk mengembangkan diri, juga ada yang keluar untuk membebaskan diri dan menjelajahi berbagai kemungkinan di luarnya.

Pasang surut sebuah komunitas adalah hal yang dinamis, kondisi yang menandakan ada kehidupan. Persoalan-persoalan yang memungkinkan seseorang berkembang semakin  matang, banyak belajar dan berbenah sehingga secara personal bisa lebih maju. Dalam sebuah komunitas bukan harus menyeragamkan pikiran, tetapi menyamakan tujuan dengan berbagai kemungkinan kreatif yang bisa ditempuh. Menggagas pemikiran, sehingga bisa saling menguatkan untuk mencapai tujuan.

Dalam perjalanannya, komunitas KLOPS masih bisa bertahan dengan kelenturan tubuh yang tidak mengikat bagi anggotanya. Komunitas sebagai sebuah ruang bersama bisa hanya sekadar melihat, berbagi atau berbeda pendapat untuk mengembangkan kemampuan. Semua bisa saling belajar dan menerima, sebuah kebersamaan yang membuat nyaman. (*)

 

*)Penulis, pelukis sketsa, tinggal di Sampang

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/