24 C
Madura
Saturday, January 28, 2023

Trunojoyo Bukan Pemberontak

(Disampaikan dalam Haul Ke-343 Trunojoyo)

Oleh UBAIDILLAH*

TELAH 343 tahun sejarah perjuangan Pangeran Trunojoyo mengemuka dan ditulis ke dalam buku-buku sejarah, yang tentu menimbulkan banyak persepsi dan ulasan yang menginspirasi insan akademis di kampus-kampus dan juga pemerhati kebudayaan. Penulis merasa tergugah untuk mengangkat kembali ulasan objektif berdasarkan sumber-sumber yang tentu saja masih terbuka ruang untuk berdiskusi mencari konklusi-konklusi historis yang berserak dan menemukan kembali ”sebutan yang pantas” untuk disematkan kepada Pangeran Trunojoyo.

Selama ini kita membaca bahwa gerakan yang dilakukan Trunojoyo sebagai sebuah ”pemberontakan”, tentu narasi ini memiliki konotasi negatif bagi siapa pun yang membaca alur historis yang terpublikasi selama ini. Istilah ”pemberontakan” selaras dengan gerakan makar dan lalim yang melawan rezim yang baik dan bijaksana. Namun, Trunojoyo dalam fakta historis bukan melawan rezim yang baik dan bijaksana, namun rezim yang bersekutu dengan penjajah Belanda yang sewenang-wenang dan lalim. Oleh sebab itu, demi menyajikan alur sejarah yang benar kepada generasi saat ini, maka tidak pantas bila Trunojoyo disebut sebagai ”pemberontak” karena fakta historis menunjukkan bahwa sikap dan perjuangan Trunojoyo lebih kepada perlawanan yang dijalankan dengan sikap kepeloporan dan kepahlawanan.

Trunojoyo lahir di Kabupaten Sampang pada 1649 dengan nama kecil Raden Nila Prawata, ayahnya bernama Raden Demang Melayakusuma, putra dari Cakraningrat I dari istri selir. Cakraningrat I atau Raden Praseno diboyong ke Mataram oleh Sultan Agung Penguasa Mataram pascaperang Jawa, Madura Barat dianeksasi oleh Mataram dan Raden Praseno yang masih kecil diasuh Istana Mataram dan setelah cukup dewasa dijadikan sebagai mantu Sultan Agung Mataram.

Dari silsilah tersebut menegaskan bahwa Trunojoyo merupakan bangsawan dan masih cicit dari Sultan Agung Mataram. Setelah Sultan Agung mangkat, kekuasaan Kerajaan Mataram diganti oleh Amangkurat I. Trunojoyo tidak memiliki hubungan yang baik dengan Amangkurat I, hal tersebut dipicu oleh terbunuhnya Raden Demang Melaya Kusuma, ayah Trunojoyo, atas perintah Raja Amangkurat I. Kerenggangan hubungan yang sangat tajam antara Trunojoyo dan Amangkurat I juga disebabkan keputusan Amangkurat I untuk membangun aliansi dengan VOC pada 1646 yang memberikan ruang bagi VOC untuk mendirikan pos-pos dagang dan militer di tanah Jawa.

Sejarawan M.C. Ricklefs (2008) dalam tulisannya Sejarah Indonesia Modern” mengatakan bahwa cukup banyak alasan bagi Trunojoyo untuk melakukan perlawanan terhadap Amangkurat I, selain ayahnya yang dibunuh pada 1656 dan keterancaman jiwanya sendiri dalam persekongkolan jahat Istana Mataram saat itu, Trunojoyo juga menilai bahwa kekuasaan Mataram di Madura dan beberapa wilayah di Jawa merupakan bentuk penjajahan.

Anggapan Trunojoyo bahwa kekuasaan Mataram sebagai bentuk penjajahan sangat masuk akal, mengingat Amangkurat I telah bersekutu kuat dengan VOC. Akibatnya, cengkeraman VOC semakin meluas dengan didirikannya pos-pos dagang yang dalam banyak literatur sejarah menggunakan pendekatan represif dan militeristik terhadap masyarakat pribumi untuk menjalankan kegiatan eksploitasi seluruh potensi yang ada di wilayah kekuasaan ”boneka” Amangkurat I.

Baca Juga :  Apa Kabar, Petani Tembakau?

Dalam perspektif persekutuan yang dilancarkan VOC dengan Amangkurat I, bukan aliansi strategis seperti era modern saat ini, namun lebih pada tipu daya kolonial untuk melancarkan pendudukan guna menguasai seluruh potensi dan sendi-sendi kehidupan masyarakat pribumi secara terstruktur, kejam dan tanpa perasaan. Keterjebakan aliansi antara Amangkurat I dan VOC, menjadikan Mataram sebagai boneka kepentingan misi kolonialisme.

Sebelum perlawanan Trunojoyo terjadi, Amangkurat I telah banyak melakukan beragam skandal yang memicu ketidakpuasan dan perlawanan. Perlawanan pertama digerakkan oleh Pangeran Alit (Ricklefs, 2008). Saat itu Amangkurat I mengirim Wiraguna ke daerah Tapal Kuda, dengan kedok mengusir Kerajaan Blambangan dari wilayah Jawa. Ternyata, tujuan sebenarnya adalah membunuh Wiraguna dengan terlebih dahulu diberikan ”tugas palsu” untuk menjauhkan Wiraguna dari keluarga dan pendukungnya dari Mataram. Kejadian tersebut menyulut amarah dari Pangeran Alit, yang selanjutnya mengorganisasi pasukan untuk menyerang Amangkurat I di Keraton Plered, namun gerakan perlawanan dapat ditumpas dan Pangeran Alit terbunuh dalam serangan itu.

Setelah peristiwa serangan yang dipelopori Pangeran Alit, Amangkurat I memerintahkan pembunuhan terhadap para ulama, keluarga, dan santrinya yang diduga mendukung perlawanan tersebut. Korban penyerangan menelan sekitar 5.000 hingga 6.000 menurut laporan Rijcklof van Goens, terdiri dari anak-anak, perempuan dan pria, serta rekan-rekan lama Sultan Agung semuanya dibantai habis.

Tidak hanya itu, pada 1659 Amangkurat I menitahkan untuk membunuh Pangeran Pekik, yang merupakan mertuanya sendiri, karena mengambil seorang perempuan bernama Rara Oyi untuk dikawinkan dengan Adipati Anom atau Mas Rahmat (Putra Mahkota) Mataram, yang ternyata oleh Amangkurat I, Rara Oyi justru ingin dijadikan selirnya sendiri.

Kasus Rara Oyi inilah yang selanjutnya menjadi pemicu ketegangan hubungan ayah dan anak, yakni  antara Adipati Anom (Anak Amangkurat I) dengan Amangkurat I, selain tersiar isu bahwa Putra Mahkota Kerajaan Mataram akan dialihkan dari Mas Rahmat kepada salah satu anak dari Amangkurat I yang lain, yakni Pangeran Singasari.

Pergolakan internal keluarga dan eksternal kerajaan memicu dinamika konflik yang meluas, menciptakan arus balik terhadap usaha-usaha perlawanan pada Kerajaan Mataram. Setelah peristiwa Rara Oyi dan isu penggantian Putra Mahkota, Mas Rahmat sebagai Adipati Anom merasa terancam. Kejadian tersebut jadi salah satu lembar sejarah bersama lembaran lain dalam bentuk usaha perlawanan yang terjadi nyaris bersamaan.

Puncaknya pada 1670-an, ketidakpuasan para pejabat Mataram terhadap Raja Mataram berubah menjadi perlawanan terbuka. Ketidakpuasan para bangsawan terhadap kepemimpinan Amangkurat I, menjadi gelombang gerakan yang tidak bisa dibendung. Raden Trunojoyo menyusun kekuatan bersama para pejuang dari Kesultanan Gowa, yang dipimpin oleh Karaeng Galesong yang merupakan salah satu putra Sultan Hasanuddin untuk merebut Keraton Plered. Jauh sebelum Amangkurat I berkuasa, Sultan Agung telah membangun hubungan diplomasi dengan Sultan Hasanuddin, namun setelah Amangkurat I berkuasa, hubungan dengan Sultan Hasanuddin merenggang. Utusan Sultan Hasanuddin ditolak oleh Amangkurat I dan meminta Sultan Hasanuddin sendiri untuk menghadap Amangkurat I di Jawa. Pandangan yang sama atas buruknya penjajahan, serta arogansi dan kesewenang-wenangan Amangkurat I dan VOC inilah yang selanjutnya menjadi suatu aliansi militer antara Pangeran Trunojoyo dan Karaeng Galisong.

Baca Juga :  Urgensi Perpanjangan Masa Jabatan Kades

Sejalan dengan tulisan T.G. Thomas Pigeaud yang berjudul Islamic State In Java 1500–1700” mengisahkan bahwa dalam usaha perlawanan yang dipimpin Pangeran Trunojoyo, VOC menjadi tameng pelindung bagi kekuasaan Mataram sebagai sekutu utama. Persekutuan ini tentu merupakan buah dari perjanjian yang dilakukan Amangkurat I dan VOC untuk suatu hubungan dagang pada 1646. Jalinan hubungan antara Amangkurat I dan VOC yang terjalin cukup lama, menjadikan Mataram sebagai sekutu strategis untuk mengukuhkan kekuatan penjajahan yang dilaksanakan Belanda di banyak pulau-pulau Nusantara.

Dalam perjalanannya, upaya perlawanan Trunojoyo mempertemukan suatu sikap yang sama dengan Adipati Anom, yakni sama-sama anti Amangkurat I, walaupun secara substansial antara Trunojoyo dan Adipati Anom memiliki motivasi berbeda. Adipati Anom kecewa terhadap sikap Amangkurat I akibat asmara dan gonjang-ganjing isu soal pemindahan Putra Mahkota dari Adipati Anom (Mas Rahmat) kepada Pangeran Singasari, sementara Trunojoyo kecewa terhadap Amangkurat I karena sikap sewenang-wenang dan persekutuannya dengan VOC untuk mengukuhkan kekuasaannya. Adipati Anom mendukung gerakan perlawanan Trunojoyo, ia bermufakat dengan Raden Rama (Raden Kejoran), mertua Trunojoyo, yang juga merupakan Panembahan Klaten untuk membiayai gerakan Trunojoyo.

Dari dukungan banyak pihak itu, Pangeran Trunojoyo berangkat ke Madura, beliau membangun kekuatan perlawanan dengan menghimpun laskar-laskar Madura. Perlawanan berkobar di Jawa Timur pada 1675, Trunojoyo dan pasukannya masuk Surabaya, Tuban bahkan Cirebon. Keberhasilan itu karena kuatnya pasukan dan dukungan penguasa-penguasa setempat. Walaupun demikian, banyak pula penguasa-penguasa yang masih berikrar setia terhadap Mataram. Di ujung puncak perjuangan, pada 1677 Trunojoyo berhasil mengambil alih Istana Plered. Amangkurat I lari meninggalkan Istana Plered ke arah barat laut bersama Putra Mahkota hingga Amangkurat I meninggal dalam pelariannya di Tegalwangi. Putra Mahkota selanjutnya menahbiskan diri sebagai Amangkurat II setelah ayahnya mangkat tidak lama setelah penaklukan Istana Plered oleh Trunojoyo. Setelah naik takhta, Amangkurat II justru renggang dengan Trunojoyo, dan bahkan Mataram dalam pemerintahan Amangkurat II berafiliasi kembali dengan VOC. Keragu-raguan sikap Putra Mahkota yang awalnya mendukung Trunojoyo, berbalik bermusuhan dengan Trunojoyo. Pada akhirnya, sejarah pergerakan perlawanan Trunojoyo dapat ditumpas dengan kampanye aliansi militer yang lebih besar bantuan VOC dari Batavia yang didukung pula oleh pasukan Arung Palakka.

Dengan Fakta-fakta historis ini, maka sejatinya Trunojoyo tidak layak disemati sebagai ”pemberontak”. Justru sebaliknya, beliau layak di angkat sebagai ”pahlawan” yang melawan penjajah dan pemimpin sewenang-wenang. (*)

 

*)Anggota DPRD Sampang dan anggota MTD Trunojoyo

(Disampaikan dalam Haul Ke-343 Trunojoyo)

Oleh UBAIDILLAH*

TELAH 343 tahun sejarah perjuangan Pangeran Trunojoyo mengemuka dan ditulis ke dalam buku-buku sejarah, yang tentu menimbulkan banyak persepsi dan ulasan yang menginspirasi insan akademis di kampus-kampus dan juga pemerhati kebudayaan. Penulis merasa tergugah untuk mengangkat kembali ulasan objektif berdasarkan sumber-sumber yang tentu saja masih terbuka ruang untuk berdiskusi mencari konklusi-konklusi historis yang berserak dan menemukan kembali ”sebutan yang pantas” untuk disematkan kepada Pangeran Trunojoyo.


Selama ini kita membaca bahwa gerakan yang dilakukan Trunojoyo sebagai sebuah ”pemberontakan”, tentu narasi ini memiliki konotasi negatif bagi siapa pun yang membaca alur historis yang terpublikasi selama ini. Istilah ”pemberontakan” selaras dengan gerakan makar dan lalim yang melawan rezim yang baik dan bijaksana. Namun, Trunojoyo dalam fakta historis bukan melawan rezim yang baik dan bijaksana, namun rezim yang bersekutu dengan penjajah Belanda yang sewenang-wenang dan lalim. Oleh sebab itu, demi menyajikan alur sejarah yang benar kepada generasi saat ini, maka tidak pantas bila Trunojoyo disebut sebagai ”pemberontak” karena fakta historis menunjukkan bahwa sikap dan perjuangan Trunojoyo lebih kepada perlawanan yang dijalankan dengan sikap kepeloporan dan kepahlawanan.

Trunojoyo lahir di Kabupaten Sampang pada 1649 dengan nama kecil Raden Nila Prawata, ayahnya bernama Raden Demang Melayakusuma, putra dari Cakraningrat I dari istri selir. Cakraningrat I atau Raden Praseno diboyong ke Mataram oleh Sultan Agung Penguasa Mataram pascaperang Jawa, Madura Barat dianeksasi oleh Mataram dan Raden Praseno yang masih kecil diasuh Istana Mataram dan setelah cukup dewasa dijadikan sebagai mantu Sultan Agung Mataram.

Dari silsilah tersebut menegaskan bahwa Trunojoyo merupakan bangsawan dan masih cicit dari Sultan Agung Mataram. Setelah Sultan Agung mangkat, kekuasaan Kerajaan Mataram diganti oleh Amangkurat I. Trunojoyo tidak memiliki hubungan yang baik dengan Amangkurat I, hal tersebut dipicu oleh terbunuhnya Raden Demang Melaya Kusuma, ayah Trunojoyo, atas perintah Raja Amangkurat I. Kerenggangan hubungan yang sangat tajam antara Trunojoyo dan Amangkurat I juga disebabkan keputusan Amangkurat I untuk membangun aliansi dengan VOC pada 1646 yang memberikan ruang bagi VOC untuk mendirikan pos-pos dagang dan militer di tanah Jawa.

Sejarawan M.C. Ricklefs (2008) dalam tulisannya Sejarah Indonesia Modern” mengatakan bahwa cukup banyak alasan bagi Trunojoyo untuk melakukan perlawanan terhadap Amangkurat I, selain ayahnya yang dibunuh pada 1656 dan keterancaman jiwanya sendiri dalam persekongkolan jahat Istana Mataram saat itu, Trunojoyo juga menilai bahwa kekuasaan Mataram di Madura dan beberapa wilayah di Jawa merupakan bentuk penjajahan.

- Advertisement -

Anggapan Trunojoyo bahwa kekuasaan Mataram sebagai bentuk penjajahan sangat masuk akal, mengingat Amangkurat I telah bersekutu kuat dengan VOC. Akibatnya, cengkeraman VOC semakin meluas dengan didirikannya pos-pos dagang yang dalam banyak literatur sejarah menggunakan pendekatan represif dan militeristik terhadap masyarakat pribumi untuk menjalankan kegiatan eksploitasi seluruh potensi yang ada di wilayah kekuasaan ”boneka” Amangkurat I.

Baca Juga :  Merek Berbahasa Madura

Dalam perspektif persekutuan yang dilancarkan VOC dengan Amangkurat I, bukan aliansi strategis seperti era modern saat ini, namun lebih pada tipu daya kolonial untuk melancarkan pendudukan guna menguasai seluruh potensi dan sendi-sendi kehidupan masyarakat pribumi secara terstruktur, kejam dan tanpa perasaan. Keterjebakan aliansi antara Amangkurat I dan VOC, menjadikan Mataram sebagai boneka kepentingan misi kolonialisme.

Sebelum perlawanan Trunojoyo terjadi, Amangkurat I telah banyak melakukan beragam skandal yang memicu ketidakpuasan dan perlawanan. Perlawanan pertama digerakkan oleh Pangeran Alit (Ricklefs, 2008). Saat itu Amangkurat I mengirim Wiraguna ke daerah Tapal Kuda, dengan kedok mengusir Kerajaan Blambangan dari wilayah Jawa. Ternyata, tujuan sebenarnya adalah membunuh Wiraguna dengan terlebih dahulu diberikan ”tugas palsu” untuk menjauhkan Wiraguna dari keluarga dan pendukungnya dari Mataram. Kejadian tersebut menyulut amarah dari Pangeran Alit, yang selanjutnya mengorganisasi pasukan untuk menyerang Amangkurat I di Keraton Plered, namun gerakan perlawanan dapat ditumpas dan Pangeran Alit terbunuh dalam serangan itu.

Setelah peristiwa serangan yang dipelopori Pangeran Alit, Amangkurat I memerintahkan pembunuhan terhadap para ulama, keluarga, dan santrinya yang diduga mendukung perlawanan tersebut. Korban penyerangan menelan sekitar 5.000 hingga 6.000 menurut laporan Rijcklof van Goens, terdiri dari anak-anak, perempuan dan pria, serta rekan-rekan lama Sultan Agung semuanya dibantai habis.

Tidak hanya itu, pada 1659 Amangkurat I menitahkan untuk membunuh Pangeran Pekik, yang merupakan mertuanya sendiri, karena mengambil seorang perempuan bernama Rara Oyi untuk dikawinkan dengan Adipati Anom atau Mas Rahmat (Putra Mahkota) Mataram, yang ternyata oleh Amangkurat I, Rara Oyi justru ingin dijadikan selirnya sendiri.

Kasus Rara Oyi inilah yang selanjutnya menjadi pemicu ketegangan hubungan ayah dan anak, yakni  antara Adipati Anom (Anak Amangkurat I) dengan Amangkurat I, selain tersiar isu bahwa Putra Mahkota Kerajaan Mataram akan dialihkan dari Mas Rahmat kepada salah satu anak dari Amangkurat I yang lain, yakni Pangeran Singasari.

Pergolakan internal keluarga dan eksternal kerajaan memicu dinamika konflik yang meluas, menciptakan arus balik terhadap usaha-usaha perlawanan pada Kerajaan Mataram. Setelah peristiwa Rara Oyi dan isu penggantian Putra Mahkota, Mas Rahmat sebagai Adipati Anom merasa terancam. Kejadian tersebut jadi salah satu lembar sejarah bersama lembaran lain dalam bentuk usaha perlawanan yang terjadi nyaris bersamaan.

Puncaknya pada 1670-an, ketidakpuasan para pejabat Mataram terhadap Raja Mataram berubah menjadi perlawanan terbuka. Ketidakpuasan para bangsawan terhadap kepemimpinan Amangkurat I, menjadi gelombang gerakan yang tidak bisa dibendung. Raden Trunojoyo menyusun kekuatan bersama para pejuang dari Kesultanan Gowa, yang dipimpin oleh Karaeng Galesong yang merupakan salah satu putra Sultan Hasanuddin untuk merebut Keraton Plered. Jauh sebelum Amangkurat I berkuasa, Sultan Agung telah membangun hubungan diplomasi dengan Sultan Hasanuddin, namun setelah Amangkurat I berkuasa, hubungan dengan Sultan Hasanuddin merenggang. Utusan Sultan Hasanuddin ditolak oleh Amangkurat I dan meminta Sultan Hasanuddin sendiri untuk menghadap Amangkurat I di Jawa. Pandangan yang sama atas buruknya penjajahan, serta arogansi dan kesewenang-wenangan Amangkurat I dan VOC inilah yang selanjutnya menjadi suatu aliansi militer antara Pangeran Trunojoyo dan Karaeng Galisong.

Baca Juga :  Urgensi Perpanjangan Masa Jabatan Kades

Sejalan dengan tulisan T.G. Thomas Pigeaud yang berjudul Islamic State In Java 1500–1700” mengisahkan bahwa dalam usaha perlawanan yang dipimpin Pangeran Trunojoyo, VOC menjadi tameng pelindung bagi kekuasaan Mataram sebagai sekutu utama. Persekutuan ini tentu merupakan buah dari perjanjian yang dilakukan Amangkurat I dan VOC untuk suatu hubungan dagang pada 1646. Jalinan hubungan antara Amangkurat I dan VOC yang terjalin cukup lama, menjadikan Mataram sebagai sekutu strategis untuk mengukuhkan kekuatan penjajahan yang dilaksanakan Belanda di banyak pulau-pulau Nusantara.

Dalam perjalanannya, upaya perlawanan Trunojoyo mempertemukan suatu sikap yang sama dengan Adipati Anom, yakni sama-sama anti Amangkurat I, walaupun secara substansial antara Trunojoyo dan Adipati Anom memiliki motivasi berbeda. Adipati Anom kecewa terhadap sikap Amangkurat I akibat asmara dan gonjang-ganjing isu soal pemindahan Putra Mahkota dari Adipati Anom (Mas Rahmat) kepada Pangeran Singasari, sementara Trunojoyo kecewa terhadap Amangkurat I karena sikap sewenang-wenang dan persekutuannya dengan VOC untuk mengukuhkan kekuasaannya. Adipati Anom mendukung gerakan perlawanan Trunojoyo, ia bermufakat dengan Raden Rama (Raden Kejoran), mertua Trunojoyo, yang juga merupakan Panembahan Klaten untuk membiayai gerakan Trunojoyo.

Dari dukungan banyak pihak itu, Pangeran Trunojoyo berangkat ke Madura, beliau membangun kekuatan perlawanan dengan menghimpun laskar-laskar Madura. Perlawanan berkobar di Jawa Timur pada 1675, Trunojoyo dan pasukannya masuk Surabaya, Tuban bahkan Cirebon. Keberhasilan itu karena kuatnya pasukan dan dukungan penguasa-penguasa setempat. Walaupun demikian, banyak pula penguasa-penguasa yang masih berikrar setia terhadap Mataram. Di ujung puncak perjuangan, pada 1677 Trunojoyo berhasil mengambil alih Istana Plered. Amangkurat I lari meninggalkan Istana Plered ke arah barat laut bersama Putra Mahkota hingga Amangkurat I meninggal dalam pelariannya di Tegalwangi. Putra Mahkota selanjutnya menahbiskan diri sebagai Amangkurat II setelah ayahnya mangkat tidak lama setelah penaklukan Istana Plered oleh Trunojoyo. Setelah naik takhta, Amangkurat II justru renggang dengan Trunojoyo, dan bahkan Mataram dalam pemerintahan Amangkurat II berafiliasi kembali dengan VOC. Keragu-raguan sikap Putra Mahkota yang awalnya mendukung Trunojoyo, berbalik bermusuhan dengan Trunojoyo. Pada akhirnya, sejarah pergerakan perlawanan Trunojoyo dapat ditumpas dengan kampanye aliansi militer yang lebih besar bantuan VOC dari Batavia yang didukung pula oleh pasukan Arung Palakka.

Dengan Fakta-fakta historis ini, maka sejatinya Trunojoyo tidak layak disemati sebagai ”pemberontak”. Justru sebaliknya, beliau layak di angkat sebagai ”pahlawan” yang melawan penjajah dan pemimpin sewenang-wenang. (*)

 

*)Anggota DPRD Sampang dan anggota MTD Trunojoyo

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/