24 C
Madura
Saturday, January 28, 2023

Saling Tatap dengan Lukisan Chairul Anwar

Oleh AHMAD FAISHAL*

SAAT diskusi informal, di tengah-tengah pameran lukisan From Stage History of Madura 2003 karya Chairul Anwar, ada beberapa guliran wacana yang saling berkelindan terkait reaksi penonton ketika menafsirkan 21 teks lukisan. Reaksi-reaksi ini tentu saja menarik, sebab peserta diskusi memiliki basis akademik dan konteks yang berbeda-beda sehingga menghasilkan tafsir yang bervariasi dan sekaligus pengayaan makna teks.

Dramawan menafsirkan lukisan Chairul dari segi dramatik; ruang pameran, setting, tata letak, pencahayaan, alur lukisan, aspek dramatik lukisan, tokoh, dll. Sastrawan menafsir dengan perspektif sastra dan filosofis. Musisi menafsir dari aspek musikalitas dari guratan cat dan gerak dalam lukisan, semacam ada resonansi, suara kesunyian sekaligus suara bergemuruh dalam lukisan-lukisan Chairul. Budayawan menafsir dari konteks sejarah dan karakteristik kultural ikon-ikon dalam lukisan. Sementara rekan-rekan seni rupa lebih memperbincangkan teknis pewarnaan, guratan, tekstur, ruang figuratif, tata rupa objek, dll. Sungguh luar biasa. Ini strategi gerakan seni yang menarik. Melakukan riset terhadap aksi-reaksi penonton terhadap lukisan.

Penyelenggara mencoba membatasi ruang tafsir penonton pada tataran tematik ”Sejarah Madura”, termasuk judul-judul dalam lukisan tersebut yang memiliki konteks sejarah Madura, di antaranya ”Tangisan Syarifah Ambami” yang merujuk pada Buju’ Aeng Mata, Cakraningrat 3, Siding Kamal, Perang Puputan, dll.

Skenario panitia untuk melakukan riset atas reaksi publik perlu mendapat apresiasi tersendiri. Pameran ini akan diselenggarakan di 6 kecamatan; Bangkalan, Socah, Kamal, Kwanyar, Arosbaya, dan Klampis. Enam kecamatan dengan konteks budaya dan lokalitas yang berbeda, ruang tradisi dan geografis yang juga berbeda meskipun masih berada dalam konteks ruang ”Bangkalan”. Ruang dan tempat yang berbeda dalam menyelenggarakan pameran, tentu saja akan menghasilkan reaksi dan pemaknaan yang berbeda.

Lantas, apa output riset aksi-reaksi penonton di 6 kecamatan ini?

Secara sederhana adalah apresiasi. Aspek sosiologis dari ruang-ruang yang berbeda terhadap satu teks lukisan. Satu pameran. Penyelenggara akan mencatat, mengamati, meminta komentar, melihat reaksi, dan pandangan penonton terhadap teks lukisan. Memformulasikan dan mengambil simpulan dari gerakan pameran ini setelah pameran di 6 kecamatan selesai. Entah berupa buku catatan, laporan tertulis atau dalam bentuk yang lain. Namun, terlepas dari tujuan akhir gerakan ini, tentu saja merupakan upaya riset yang menarik dalam gerakan seni. Saya belum bisa membayangkan reaksi santri ketika lukisan ”abstrak” berkonteks sejarah ini nantinya akan dipamerkan di pesantren.

Baca Juga :  Pembelajaran dari Insiden Sungai Aare

 

Mata dan Kekacauan

Sebagai penonton yang berupaya ”merdeka” dari upaya penggiringan wacana oleh penyelenggara terhadap konteks sejarah Madura, saya merasa cukup sulit keluar dari belenggu opini tersebut. Saya menghilangkan judul dan tajuk pameran untuk melepaskan diri, tidak terkerangkeng, memurnikan diri, memandang dengan lugu dan polos, hanya percaya pada teks lukisan belaka. Mencoba menggunakan intuisi, kepekaan, dan sensitivitas mata dan perasaan ketika berhadapan dengan lukisan-lukisan Chairul. Maka yang terjadi adalah ke-terpesona-an. Ketakjuban.

Pertama saya berkeliling area pameran, mengamati satu per satu lukisan tanpa disertai upaya mencari makna dan konteks. Saya berupaya memanjakan mata belaka. Menikmati gambar. Percampuran cat dan guratan kuas yang membentuk sosok, situasi, dan peristiwa.

Namun, ketika berkeliling kedua kalinya, saya mencoba mencari titik fokus, mencari objek yang menonjol, mencari tanda ekspresi dari pelukis untuk saya konsumsi estetiknya, memaknai pesannya, merasakan getaran jiwanya, dan saya menemukan ”mata”. Hampir semua lukisan yang dipamerkan menampilkan visual dan gambar mata.

Maka saya berkeliling area pameran untuk ketiga kalinya dan berupaya fokus pada mata. ”Mata” sebagai pintu saya menafsir dan menikmati lukisan (sekali lagi saya mencoba tidak melihat dan dipengaruhi oleh judul).

”Mata” dalam lukisan Chairul merupakan kode yang butuh dipecahkan dan dinikmati. Maka, saya terus fokus pada mata, mata yang tak sempurna. Ada mata yang berair, mata yang picik, ada mata yang kotak, ada mata yang gelap, lebam, hitam, merah bercahaya, mata bulan, mata-mata.

Baca Juga :  Olle ollang: Penjelajahan Melintas Batas

Saya kemudian bertatapan dan saling pandang dengan lukisan ”Hadiah Kepala”, seonggok kepala dengan tatapan sinis, tajam, kejam, dan menakutkan. Tertawa kecut, meski tampak kalah dan terkorbankan. Ada dendam kesumat. Kekecewaan. Pengkhianatan. Bayang-bayang wajah hitam legam di sisinya. Kerumitan pikiran penuh sesak. Tergores. Terluka. Saling silang dan menyakiti. Keburaman masa lalu, kini, dan masa depan. Kekacauan sosial. Keberingasan publik. Ketidakmenentuan sistem. Sosok yang merasa besar sendiri di tengah-tengah kecarut-marutan masyarakat. Hedonisme yang menyedihkan. Obsesi yang lungkrah. Keserakahan. Penjilat. Saya merasakan kenikmatan menyaksikan lukisan ini. Saya merasakan transformasi ekspresi kegalauan pelukis terhadap fenomena dunia. Saya orgasme estetis. Saya sulit beranjak dari lukisan ini. Saya seperti menatap diri saya sendiri, yang kalah, memalukan, tertindas, dan kerap dikhianati.

Saya kemudian beranjak menatap lukisan yang memiliki objek ”mata” menarik. Mata berair dan bergelembung. Mata-Mata. Ada air mata. Ada kekecewaan. Kesedihan. Dendam dan kepasrahan. Ketidakberdayaan. Hanya mata yang memberi tanda itu. Hal ini bisa dilihat pada lukisan ”Tangisan Syarifah Ambami”, ”Kelahiran Raden Segoro”, ”Sumpah Tujuh Purnama”, ”Madura untuk Mataram”, ”Perang Puputan”, ”Mata-Mata Kitting”, dll.

Pada akhirnya, saya merasa perlu bertanya, seberapa besar peran judul dalam satu lukisan? Apa jadinya jika lukisan-lukisan Chairul judulnya dihapus? Apakah makna dan ekspresi akan menyempit atau semakin luas dan sensitif? Apakah manajemen wacana dan tajuk ”Sejarah Madura” masih dibutuhkan dalam lukisan Chairul? Apakah pelukis dan penikmat bisa dijembatani oleh judul? Serta sederet pertanyaan lainnya. (*)

 

Bangkalan, 18 Januari 2023.

 

*)Kurator, seniman, dan dosen STKW Surabaya

Oleh AHMAD FAISHAL*

SAAT diskusi informal, di tengah-tengah pameran lukisan From Stage History of Madura 2003 karya Chairul Anwar, ada beberapa guliran wacana yang saling berkelindan terkait reaksi penonton ketika menafsirkan 21 teks lukisan. Reaksi-reaksi ini tentu saja menarik, sebab peserta diskusi memiliki basis akademik dan konteks yang berbeda-beda sehingga menghasilkan tafsir yang bervariasi dan sekaligus pengayaan makna teks.

Dramawan menafsirkan lukisan Chairul dari segi dramatik; ruang pameran, setting, tata letak, pencahayaan, alur lukisan, aspek dramatik lukisan, tokoh, dll. Sastrawan menafsir dengan perspektif sastra dan filosofis. Musisi menafsir dari aspek musikalitas dari guratan cat dan gerak dalam lukisan, semacam ada resonansi, suara kesunyian sekaligus suara bergemuruh dalam lukisan-lukisan Chairul. Budayawan menafsir dari konteks sejarah dan karakteristik kultural ikon-ikon dalam lukisan. Sementara rekan-rekan seni rupa lebih memperbincangkan teknis pewarnaan, guratan, tekstur, ruang figuratif, tata rupa objek, dll. Sungguh luar biasa. Ini strategi gerakan seni yang menarik. Melakukan riset terhadap aksi-reaksi penonton terhadap lukisan.


Penyelenggara mencoba membatasi ruang tafsir penonton pada tataran tematik ”Sejarah Madura”, termasuk judul-judul dalam lukisan tersebut yang memiliki konteks sejarah Madura, di antaranya ”Tangisan Syarifah Ambami” yang merujuk pada Buju’ Aeng Mata, Cakraningrat 3, Siding Kamal, Perang Puputan, dll.

Skenario panitia untuk melakukan riset atas reaksi publik perlu mendapat apresiasi tersendiri. Pameran ini akan diselenggarakan di 6 kecamatan; Bangkalan, Socah, Kamal, Kwanyar, Arosbaya, dan Klampis. Enam kecamatan dengan konteks budaya dan lokalitas yang berbeda, ruang tradisi dan geografis yang juga berbeda meskipun masih berada dalam konteks ruang ”Bangkalan”. Ruang dan tempat yang berbeda dalam menyelenggarakan pameran, tentu saja akan menghasilkan reaksi dan pemaknaan yang berbeda.

Lantas, apa output riset aksi-reaksi penonton di 6 kecamatan ini?

Secara sederhana adalah apresiasi. Aspek sosiologis dari ruang-ruang yang berbeda terhadap satu teks lukisan. Satu pameran. Penyelenggara akan mencatat, mengamati, meminta komentar, melihat reaksi, dan pandangan penonton terhadap teks lukisan. Memformulasikan dan mengambil simpulan dari gerakan pameran ini setelah pameran di 6 kecamatan selesai. Entah berupa buku catatan, laporan tertulis atau dalam bentuk yang lain. Namun, terlepas dari tujuan akhir gerakan ini, tentu saja merupakan upaya riset yang menarik dalam gerakan seni. Saya belum bisa membayangkan reaksi santri ketika lukisan ”abstrak” berkonteks sejarah ini nantinya akan dipamerkan di pesantren.

Baca Juga :  Pelat Nomor Unik ( Oleh Lukman Hakim AG.*)
- Advertisement -

 

Mata dan Kekacauan

Sebagai penonton yang berupaya ”merdeka” dari upaya penggiringan wacana oleh penyelenggara terhadap konteks sejarah Madura, saya merasa cukup sulit keluar dari belenggu opini tersebut. Saya menghilangkan judul dan tajuk pameran untuk melepaskan diri, tidak terkerangkeng, memurnikan diri, memandang dengan lugu dan polos, hanya percaya pada teks lukisan belaka. Mencoba menggunakan intuisi, kepekaan, dan sensitivitas mata dan perasaan ketika berhadapan dengan lukisan-lukisan Chairul. Maka yang terjadi adalah ke-terpesona-an. Ketakjuban.

Pertama saya berkeliling area pameran, mengamati satu per satu lukisan tanpa disertai upaya mencari makna dan konteks. Saya berupaya memanjakan mata belaka. Menikmati gambar. Percampuran cat dan guratan kuas yang membentuk sosok, situasi, dan peristiwa.

Namun, ketika berkeliling kedua kalinya, saya mencoba mencari titik fokus, mencari objek yang menonjol, mencari tanda ekspresi dari pelukis untuk saya konsumsi estetiknya, memaknai pesannya, merasakan getaran jiwanya, dan saya menemukan ”mata”. Hampir semua lukisan yang dipamerkan menampilkan visual dan gambar mata.

Maka saya berkeliling area pameran untuk ketiga kalinya dan berupaya fokus pada mata. ”Mata” sebagai pintu saya menafsir dan menikmati lukisan (sekali lagi saya mencoba tidak melihat dan dipengaruhi oleh judul).

”Mata” dalam lukisan Chairul merupakan kode yang butuh dipecahkan dan dinikmati. Maka, saya terus fokus pada mata, mata yang tak sempurna. Ada mata yang berair, mata yang picik, ada mata yang kotak, ada mata yang gelap, lebam, hitam, merah bercahaya, mata bulan, mata-mata.

Baca Juga :  Pembelajaran dari Insiden Sungai Aare

Saya kemudian bertatapan dan saling pandang dengan lukisan ”Hadiah Kepala”, seonggok kepala dengan tatapan sinis, tajam, kejam, dan menakutkan. Tertawa kecut, meski tampak kalah dan terkorbankan. Ada dendam kesumat. Kekecewaan. Pengkhianatan. Bayang-bayang wajah hitam legam di sisinya. Kerumitan pikiran penuh sesak. Tergores. Terluka. Saling silang dan menyakiti. Keburaman masa lalu, kini, dan masa depan. Kekacauan sosial. Keberingasan publik. Ketidakmenentuan sistem. Sosok yang merasa besar sendiri di tengah-tengah kecarut-marutan masyarakat. Hedonisme yang menyedihkan. Obsesi yang lungkrah. Keserakahan. Penjilat. Saya merasakan kenikmatan menyaksikan lukisan ini. Saya merasakan transformasi ekspresi kegalauan pelukis terhadap fenomena dunia. Saya orgasme estetis. Saya sulit beranjak dari lukisan ini. Saya seperti menatap diri saya sendiri, yang kalah, memalukan, tertindas, dan kerap dikhianati.

Saya kemudian beranjak menatap lukisan yang memiliki objek ”mata” menarik. Mata berair dan bergelembung. Mata-Mata. Ada air mata. Ada kekecewaan. Kesedihan. Dendam dan kepasrahan. Ketidakberdayaan. Hanya mata yang memberi tanda itu. Hal ini bisa dilihat pada lukisan ”Tangisan Syarifah Ambami”, ”Kelahiran Raden Segoro”, ”Sumpah Tujuh Purnama”, ”Madura untuk Mataram”, ”Perang Puputan”, ”Mata-Mata Kitting”, dll.

Pada akhirnya, saya merasa perlu bertanya, seberapa besar peran judul dalam satu lukisan? Apa jadinya jika lukisan-lukisan Chairul judulnya dihapus? Apakah makna dan ekspresi akan menyempit atau semakin luas dan sensitif? Apakah manajemen wacana dan tajuk ”Sejarah Madura” masih dibutuhkan dalam lukisan Chairul? Apakah pelukis dan penikmat bisa dijembatani oleh judul? Serta sederet pertanyaan lainnya. (*)

 

Bangkalan, 18 Januari 2023.

 

*)Kurator, seniman, dan dosen STKW Surabaya

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/