26.9 C
Madura
Saturday, January 28, 2023

Belajar Menjadi Hamba yang Sesungguhnya

AKHIR dasawarsa pada pergumulan peradaban manusia masa kini menggiring kita pada berbagai konsekuensi. Sebagian besar lebih pada hal-hal yang merugikan manusia itu sendiri, bahkan jika pun ada dan diakumulasi secara kesuluruhan, sesuatu yang menguntungkan dari peradaban manusia masa kini tidak lebih dari seujung kuku. Tidak hanya itu, semua konsekuensi tersebut harus ditanggung oleh manusia itu sendiri.

Erich Fromm, salah satu cendekiawan asal Austria mengatakan bahwa karakter umum masyarakat masa kini ialah alienasi–keterasingan. Hampir segala aspek kehidupan manusia modern terasing, baik terasing dari negara, hubungan antarmanusia dan bahkan terasing dengan Tuhannya sendiri. Manusia modern seakan-akan kehilangan identitasnya, mereka lupa bahwa di samping mereka menjadi seorang manusia, mereka juga menjadi seorang hamba–hamba yang harus patuh pada-Nya.

Melihat realitas peradaban masa kini yang demikian, Fahruddin Faiz, salah satu ”filsuf” jebolan UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta hadir menjawab sekelumit persoalan manusia modern di atas dalam bukunya yang berjudul Menjadi Manusia Menjadi Hamba. Perlu Pembaca ketahui bahwa sebagian isi dalam buku ini merupakan materi Ngaji Filsafat yang rutin diselenggarakan setiap Rabu malam Kamis yang bertempat di Masjid Jenderal Sudirman Jogjakarta. Karena berawal dari tuturan yang disampaikan langsung kepada pendengar, maka sangat terasa sekali pilihan kalimat dan gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini.

Dengan penggunaan gaya bahasa yang santun, lugas dan padat, Fahruddin mengajak manusia–hamba–untuk kembali pada fitrahnya. Menurutnya, fitrah yang dimiliki oleh manusia adalah sumber kebahagiaan apabila diaplikasikan di jalur yang sesuai dengan tuntunan, sesuai dengan porsi dan proporsinya. ”Fitrah berdoa, kesadaran untuk meminta dan bergantung pada Tuhan akan membuahkan kebahagiaan apabila dijalankan mengiring ikhtiar; dan akan membuahkan yang sebaliknya apabila diiringi dengan kemalasan dan keengganan berusaha…”. (hlm. 11).

Baca Juga :  Berbincang dengan Penulis Cilik Yasmin NF dan AN Nasyraa

Di samping itu, Fahruddin mencoba untuk merekonstruksi nilai-nilai peradaban manusia modern–yang terasing–dengan pendekatan yang menurut hemat saya sangat bijaksana. Ia mencoba menginkulturasikan Filsafat Barat, Filsafat Timur, dan Teologi Islam secara komprehensif ke dalam suatu ”ide” yang sangat mudah dipahami–bahkan oleh orang awam sekalipun. Tidak hanya itu, ia mampu mematahkan asumsi khalayak yang menganggap bahwa belajar filsafat itu sulit.

Dalam bukunya ini, dengan penyampaian yang mudah ia menjadikan filsafat sebagai amunisi untuk mengkritik persoalan umat manusia modern. Maka jangan heran jika di dalam buku ini Fahruddin menukil sederet filsuf ternama seperti Peter Berger, Friedrich Nietzsche, Jean-Paul Sartre, dan sederet filsuf ternama lainnya. Menurut Friedrich Nietzche, You higher men, learn to laugh. Salah satu ciri ’superman’, manusia yang lengkap dan sempurna, adalah bisa merayakan hidupnya. Ciri paling mudah untuk merayakan hidup adalah tertawa…”. (hlm. 53).

Fahruddin Faiz tidak hanya menukil referensi dari pengetahuan Barat saja. Bahkan, ia mencampuradukkan persepsi pengetahuan Barat dengan khazanah keilmuan Islam Timur Tengah ke dalam suatu konsep yang lagi-lagi mudah sekali dipahami. Tak jarang pula ia menukil Al-Qur’an, hadis, ijma’ dan atsar untuk dijadikan sebagai referensi penunjang dalam buku yang memiliki tebal 309 halaman ini. ”Ada quote yang sangat terkenal dari Imam Syafi’i: Al-waqtu kash-shayf in lam taqtha’uhu qatha’aka.’ Waktu ibarat pedang. Kalau engkau tidak memotongnya, atau menggunakannya untuk memotong, maka ia yang akan memotongmu…” (hlm. 250).

Baca Juga :  Ta’ Nyangka

Yang menjadi nilai plus dari buku ini ialah Fahruddin mencantumkan riwayat –cerita–dari tokoh-tokoh yang tentu tidak asing lagi mendengung di telinga kita, sehingga yang mana dari hikayat tersebut Fahruddin mengajak pembaca untuk mengkroscek ulang terhadap aktivitas kita yang telah kita lakukan sehari-hari. Hikayat tersebut ia sisipkan di setiap halaman terakhir sub-bab yang diulasnya.

Pepatah mengatakan, tiada gading yang tidak retak. Dari sekian ulasan yang telah saya urai di atas, tentu masih jauh dari kata sempurna. Tidak menutup kemungkinan juga dari buku karya Fahruddin ini. Satu hal yang menjadi titik celah dari buku Menjadi Manusia Menjadi Hamba ialah tidak adanya indeks bahasa yang–barangkali–sangat membantu para pembaca untuk mengurai setiap kata yang terkandung dalam karyanya ini. Akan tetapi, terlepas dari itu semua, saya menyadari dari sekian luas khazanah keilmuan yang telah Fahruddin Faiz tuangkan dalam karyanya ini, buku ini sangat layak dimiliki oleh pembaca, lebih-lebih manusia modern yang sedang mencari identitasnya sebagai seorang manusia sekaligus seorang hamba. Fahruddin Faiz akan mengajak pembaca berdialog langsung. Selamat membaca! (*)

 

MOHAMMAD JAMIL

Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Instika Guluk-Guluk, Sumenep

AKHIR dasawarsa pada pergumulan peradaban manusia masa kini menggiring kita pada berbagai konsekuensi. Sebagian besar lebih pada hal-hal yang merugikan manusia itu sendiri, bahkan jika pun ada dan diakumulasi secara kesuluruhan, sesuatu yang menguntungkan dari peradaban manusia masa kini tidak lebih dari seujung kuku. Tidak hanya itu, semua konsekuensi tersebut harus ditanggung oleh manusia itu sendiri.

Erich Fromm, salah satu cendekiawan asal Austria mengatakan bahwa karakter umum masyarakat masa kini ialah alienasi–keterasingan. Hampir segala aspek kehidupan manusia modern terasing, baik terasing dari negara, hubungan antarmanusia dan bahkan terasing dengan Tuhannya sendiri. Manusia modern seakan-akan kehilangan identitasnya, mereka lupa bahwa di samping mereka menjadi seorang manusia, mereka juga menjadi seorang hamba–hamba yang harus patuh pada-Nya.

Melihat realitas peradaban masa kini yang demikian, Fahruddin Faiz, salah satu ”filsuf” jebolan UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta hadir menjawab sekelumit persoalan manusia modern di atas dalam bukunya yang berjudul Menjadi Manusia Menjadi Hamba. Perlu Pembaca ketahui bahwa sebagian isi dalam buku ini merupakan materi Ngaji Filsafat yang rutin diselenggarakan setiap Rabu malam Kamis yang bertempat di Masjid Jenderal Sudirman Jogjakarta. Karena berawal dari tuturan yang disampaikan langsung kepada pendengar, maka sangat terasa sekali pilihan kalimat dan gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini.


Dengan penggunaan gaya bahasa yang santun, lugas dan padat, Fahruddin mengajak manusia–hamba–untuk kembali pada fitrahnya. Menurutnya, fitrah yang dimiliki oleh manusia adalah sumber kebahagiaan apabila diaplikasikan di jalur yang sesuai dengan tuntunan, sesuai dengan porsi dan proporsinya. ”Fitrah berdoa, kesadaran untuk meminta dan bergantung pada Tuhan akan membuahkan kebahagiaan apabila dijalankan mengiring ikhtiar; dan akan membuahkan yang sebaliknya apabila diiringi dengan kemalasan dan keengganan berusaha…”. (hlm. 11).

Baca Juga :  Ta’ Nyangka

Di samping itu, Fahruddin mencoba untuk merekonstruksi nilai-nilai peradaban manusia modern–yang terasing–dengan pendekatan yang menurut hemat saya sangat bijaksana. Ia mencoba menginkulturasikan Filsafat Barat, Filsafat Timur, dan Teologi Islam secara komprehensif ke dalam suatu ”ide” yang sangat mudah dipahami–bahkan oleh orang awam sekalipun. Tidak hanya itu, ia mampu mematahkan asumsi khalayak yang menganggap bahwa belajar filsafat itu sulit.

Dalam bukunya ini, dengan penyampaian yang mudah ia menjadikan filsafat sebagai amunisi untuk mengkritik persoalan umat manusia modern. Maka jangan heran jika di dalam buku ini Fahruddin menukil sederet filsuf ternama seperti Peter Berger, Friedrich Nietzsche, Jean-Paul Sartre, dan sederet filsuf ternama lainnya. Menurut Friedrich Nietzche, You higher men, learn to laugh. Salah satu ciri ’superman’, manusia yang lengkap dan sempurna, adalah bisa merayakan hidupnya. Ciri paling mudah untuk merayakan hidup adalah tertawa…”. (hlm. 53).

Fahruddin Faiz tidak hanya menukil referensi dari pengetahuan Barat saja. Bahkan, ia mencampuradukkan persepsi pengetahuan Barat dengan khazanah keilmuan Islam Timur Tengah ke dalam suatu konsep yang lagi-lagi mudah sekali dipahami. Tak jarang pula ia menukil Al-Qur’an, hadis, ijma’ dan atsar untuk dijadikan sebagai referensi penunjang dalam buku yang memiliki tebal 309 halaman ini. ”Ada quote yang sangat terkenal dari Imam Syafi’i: Al-waqtu kash-shayf in lam taqtha’uhu qatha’aka.’ Waktu ibarat pedang. Kalau engkau tidak memotongnya, atau menggunakannya untuk memotong, maka ia yang akan memotongmu…” (hlm. 250).

Baca Juga :  Budayawan Ibnu Hajar: Tora Luar Biasa
- Advertisement -

Yang menjadi nilai plus dari buku ini ialah Fahruddin mencantumkan riwayat –cerita–dari tokoh-tokoh yang tentu tidak asing lagi mendengung di telinga kita, sehingga yang mana dari hikayat tersebut Fahruddin mengajak pembaca untuk mengkroscek ulang terhadap aktivitas kita yang telah kita lakukan sehari-hari. Hikayat tersebut ia sisipkan di setiap halaman terakhir sub-bab yang diulasnya.

Pepatah mengatakan, tiada gading yang tidak retak. Dari sekian ulasan yang telah saya urai di atas, tentu masih jauh dari kata sempurna. Tidak menutup kemungkinan juga dari buku karya Fahruddin ini. Satu hal yang menjadi titik celah dari buku Menjadi Manusia Menjadi Hamba ialah tidak adanya indeks bahasa yang–barangkali–sangat membantu para pembaca untuk mengurai setiap kata yang terkandung dalam karyanya ini. Akan tetapi, terlepas dari itu semua, saya menyadari dari sekian luas khazanah keilmuan yang telah Fahruddin Faiz tuangkan dalam karyanya ini, buku ini sangat layak dimiliki oleh pembaca, lebih-lebih manusia modern yang sedang mencari identitasnya sebagai seorang manusia sekaligus seorang hamba. Fahruddin Faiz akan mengajak pembaca berdialog langsung. Selamat membaca! (*)

 

MOHAMMAD JAMIL

Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Instika Guluk-Guluk, Sumenep

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/