Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Siswa baca puisi itu biasa. Murid ikut lomba baca sajak juga lumrah. Tapi, guru ikut lomba baca puisi sangat jarang. Kegiatan Forum Silaturahmi Guru (FSG) salah satu yang jarang itu.
GEDUNG Ki Hadjar Dewantara Sumenep menjadi saksi keseruan 60 guru membaca puisi bahasa Madura, Sabtu (19/11). Kepala sekolah dasar juga ambil bagian. Hanya pengawas sekolah dasar yang tidak ikut sesuai keinginan panitia. Ini menjadi catatan dinas pendidikan (disdik) yang hari itu diwakili sekretaris dinas. Sebab, panitia menggelar lomba itu bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas SD.
Saya sangat mengapresiasi panitia yang menyelenggarakan lomba baca puisi bagi guru dan kepala sekolah. Jauh sebelum pelaksanaan saya sampaikan, lomba baca puisi bagi siswa itu biasa. Karena itu, coba lomba untuk para guru agar tidak biasa.
Apresiasi juga saya sampaikan kepada peserta delegasi dari berbagai sekolah. Tidak hanya dari wilayah Kecamatan Kota. Ada dari Ambunten, Pragaan, dan kecamatan lain yang lumayan jauh dari pusat kota. Peserta juga tidak hanya dari sekolah negeri. Beberapa SD swasta juga ambil bagian. Bahkan, ada seorang siswa SD swasta ”memaksa” ikut event bagi guru itu.
Puluhan peserta itu tampil dengan baik. Namun, ada beberapa catatan sebagai evaluasi. Misalkan, interpretasi terhadap teks ada yang kurang tepat sehingga berpengaruh pada makna atau pesan. Juga berpengaruh pada ekspresi selama membaca teks tersebut.
Pembacaan terhadap teks bahasa Madura perlu ditingkatkan. Sebab, ada beberapa peserta yang mengucapkan kosakata Madura dengan rasa lidah Jawa. Ada juga yang kurang tepat membaca e taleng atau e petpet. Juga antara fungsi apostrof (’) dan k yang kadang tertukar. Contoh, dalam puisi Dhara Campor Mardha ada kata mok-akok, tapi ada peserta yang membaca mo’-amo’.
Masalah vokal tidak hanya itu. Bukan hanya soal lantang atau tidak. Tapi, kesesuaian tuntutan teks dan ketersampaian pesan kepada pendengar. Jadi bukan soal berteriak atau berbisik. Setidak-tidaknya terdengar jelas oleh juri.
Idealnya, interpretasi, vokal, ekspresi, dan penampilan menjadi satu kesatuan utuh. Karena lomba, peserta dituntut membuat hati juri luluh.
Masalah yang sama terjadi pada lomba baca puisi bahasa madura di balai Kecamatan Lenteng, Sabtu (20/8). Bedanya, peserta lomba dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ini siswa SD/MI se-Kecamatan Lenteng. Meski hanya sekecamatan, jumlah peserta mencapai 64 siswa.
Dari lomba ini saya melihat antusias untuk mengikuti lomba baca puisi di Sumenep tetap tinggi. Kalau mengadakan lomba baca puisi di Sumenep, panitia tidak perlu khawatir tidak ada peserta. Dijamin membeludak. Beberapa tahun lalu ada lomba dengan peserta lebih 200 orang. Karena itu, kalau jadi juri lomba baca puisi di Sumenep harus siap duduk lama.
Puisi seolah jadi menu utama setiap forum kesenian dan literasi. Meski bukan lomba, jika ada kegiatan literasi, nyaris selalu ada pembacaan puisi. Seperti pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-6 Rumah Literasi Sumenep. Fendi Kachonk dan Ibnu Hajar membacakan sajaknya siang itu.
Selasa (13/12) lalu juga digelar lomba baca puisi bahasa Madura bagi siswa SD/MI dalam rangka Festival Binar 2022. Peserta juga tidak sedikit. Sebanyak 63 murid ambil bagian untuk menjadi yang terbaik. Pemenang sudah diumumkan. Salah satunya, siswa yang ”memaksa” pada lomba baca puisi dalam rangka Hari Guru Nasional yang digelar FSG sebulan sebelumnya.
Dari beberapa lomba yang saya perhatikan, panitia juga perlu mempertimbangkan beberapa hal. Mulai pemilihan puisi yang akan dibacakan peserta. Pemilihan ini setidaknya mempertimbangkan kesesuaian puisi dengan peserta dan kualitas karya.
Soal mutu ini setidaknya dalam hal penulisan. Saya menjumpai naskah lomba baca puisi Madura yang ditulis ngala’ karebba dibi’. Bukan ejaan 1973 dan bukan ejaan 2011. Apabila peserta tidak paham paramasastra Madura, maka naskah lomba yang asal tulis itu dianggap benar, kemudian ditiru. Ini bisa jadi kesalahan berjemaah.
Yang tidak kalah penting masalah teknis. Misalkan penggunaan alat pelantang atau tidak. Kalau pembacaan puisi oleh peserta tidak menggunakan pelantang, pastikan lokasi tidak ramai dan bising. Namun, apabila menggunakan pelantang, harus benar-benar diatur agar terdengar jelas. Pastikan tidak ada gangguan selama lomba berlangsung. Termasuk gangguan suara hadirin yang melebihi vokal peserta yang sedang tampil. (*)
*)Wartawan Jawa Pos Radar Madura
Advertisement
Advertisement
Radar MaduraIkuti
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement

