Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jutaan pengguna media sosial tersebut pada akhirnya mengerucut pada pertanyaan, apakah renik-renik aktivitas mereka bisa dipelajari dan diteliti sebagaimana etnografi yang mempelajari kehidupan suatu komunitas di dunia yang riil? Mengingat bahwa mereka bercorak anonim dan boleh jadi bersifat kontras dengan laku keseharian. Dengan kata lain, bisa muncul semacam ”kepribadian ganda”: di media sosial amat banal dan kasar, tetapi pada kehidupan riil bertolak belakang. Di sinilah relevansi dan urgensi mempelajari netnografi sebagai suatu metode studi.
Metode netnografi merupakan siasat untuk mempelajari budaya pengguna internet, menukik pada pengguna media sosial. Akronim dari Internet dan Etnografi, netnografi berikhtiar menguak budaya dari sudut pandang orang yang diteliti dengan prinsip investigasi, keterlibatan dengan orang yang diteliti, dan imersi (hlm: 2). Hingga hari ini, perangkat riset atas pengguna media sosial masih terbilang minim tetapi berprospek. Selain kian bertambah jumlah pengguna media sosial, juga menghasilkan apa yang disebut big data (data raksasa). Hendak diapakan big data, fungsinya, serta esensi darinya itulah, yang dibincang dalam studi netnografi.
Kehadiran media sosial adalah ruang baru sekaligus kehidupan luas dalam berpendapat atas suatu isu hingga pemunculan isu itu sendiri yang disebut viral. Netnografi menguji kekuatan warganet (netizen) pada asumsi seberapa jauh warganet peduli dan ambil peran. Hal seperti ini boleh jadi nyaris sama dengan kehidupan riil dalam tema kegiatan rapat dan diskusi. Namun, dalam jejaring virtual, meluaskan pada semua lapisan untuk berpartisipasi dan lebih jujur serta berani berekspresi –meski sering kebablasan. Ada perbedaan mencolok yang harus diakui bahwa atributif virtual acap kali mengabaikan norma-norma kesantunan berujar/bernarasi; membedai lanskap jumpa riil.
Dr. Eriyanto selaku penulis buku memaparkan sebuah studi kasus netnografi bertema pelecehan seksual. Mengangkat dugaan pelecehan seksual yang dilakukan seorang pesohor kepada penggemarnya di tempat hiburan. Dalam kasus ini, penggemar sebagai korban selang beberapa waktu agak lama, baru ”melaporkan” kejadian nahasnya kepada netizen melalui platform Twitter. Sontak, warganet riuh, gaduh, dan lantas viral. Namun, menariknya, warganet terbelah. Tidak sekonyong-konyong langsung mengamini dan mengecam pesohor, tetapi justru banyak yang meragukan utas cerita tersebut dan berbalik menyalahkan korban.
Netnografi akhirnya memusatkan pada basis reflektif suara warganet yang terbelah. Walaupun tidak bisa disangkal, hanya di media sosial aneka kekerasan seksual di mana korban mulai bisa berani speak up dan berpamrih viral. Sorongan buku, prinsip yang kudu dipegang dalam aras interaksi media sosial, memang diperlukan empati dan dukungan kepada korban terlebih dahulu; mengesampingkan perihal validitas cerita. Selain itu, warganet juga terbelah dalam urusan kontestasi perpolitikan secara tajam hingga mencuatkan polarisasi. Meski begitu, tetap terdapat banyak hal positif ketika suara netizen amat solid terhadap kebijakan publik yang dirasa telah melenceng jauh sehingga memaksa kebijakan tersebut akhirnya dievaluasi.
Buku selain dilengkapi studi kasus guna memudahkan memahami dan tutorial penggunaan NVivo –perangkat lunak yang membantu dalam penelitian netnografi, boleh jadi bakal tebersit pertanyaan menggelitik: apakah perilaku netizen Indonesia di media sosial adalah sememangnya representasi watak kita yang sesungguhnya sebagaimana hasil riset Microsoft tahun 2021 yang telah memicu polemik? (*)
MUHAMMAD ITSBATUN NAJIH
Bergiat di Muria Pustaka, Kudus
Advertisement
Advertisement
Radar MaduraIkuti
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement

