alexametrics
21 C
Madura
Saturday, July 2, 2022

Merayakan Hari Santri, Menjaga Keutuhan NKRI

PAMEKASAN – Banyak cara dilakukan untuk merayakan Hari Santri Nasional. Salah satunya, menggelar lomba baca puisi berbahasa Madura. Itulah yang disajikan Lesbumi NU di Pendapa Budaya, Jalan Jokotole, Pamekasan.

Jam baru bergeser ke pukul 09.00 Sabtu (21/10). Puluhan santri dari berbagai pondok pesantren (PP) di Pamekasan berkumpul di Pendapa Budaya, Jalan Jokotole. Di Pendapa Wakil Bupati Pamekasan ini, santri ingin menunjukkan kebolehan dalam membaca puisi berbahasa Madura.

Sejumlah pesantren besar di Kota Gerbang Salam mendelegasikan santrinya dalam acara langka ini. Seperti LPI Al-Hamidy, PP Matsaratul Huda Panempan, PP Al-Fudhola, PP Bustanul Ulum Sumber Anom, PP Miftahul Ulum Kebun Baru, PP Miftahul Ulum Panyepen, dan lainnya. Mereka datang dengan semangat santri dan bekal doa para kiai.

Karena mereka santri, tentu gaya berpakaiannya khas. Santri putri memakai baju panjang dan jilbab rapi. Sedang santri putra relatif beragam. Ada yang berseragam sekolah, ada pula yang berpenampilan layaknya kiai. Mereka memakai sarung, berbaju koko, peci, dan lengkap dengan serban.

”Kami mengadakan lomba baca puisi atau syair berbahasa Madura dalam rangka merayakan Hari Santri Nasional,” kata Ketua Lesbumi NU Pamekasan Wazirul Jihad selaku penanggung jawab acara tersebut.

Baca Juga :  Membaca Sangkol

Pihaknya ingin mengajak santri memahami sejarah perjalanan bangsa. Bahwa santri berperan besar dalam memperjuangkan, merebut, dan mempertahankan kemerdekaan. Ada banyak santri dan kiai yang wafat di medan perang.

Pasca kemerdekaan, goncangan politik terus terjadi di Indonesia. Ada kekuatan asing yang ingin merongrong kemerdekaan. Karena itulah, ulama bersatu-padu menyuarakan semangat nasionalisme.

Para kiai yang dipimpin KH Hasyim Asy’ari menyerukan agar seluruh umat Islam berjuang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Spirit itu pula yang tertuang dalam resolusi jihad yang dideklarasikan pada 22 Oktober 1945. ”Semangat resolusi jihad itulah yang hari ini diperingati sebagai Hari Santri,” jelasnya.

Lomba baca puisi mendatangkan juri dari Jawa Pos Radar Madura Imam S. Arizal. Juri lainnya yakni Royyan Julian dari Civitas Kotheka dan Muhammad Holis dari Komunitas Malate Pote. Sebelum acara dimulai, para juri terlebih dahulu memberikan kriteria-kriteria penilaian.

Karena lomba puisi ini berbahasa Madura, tentu ada kekhasan tersendiri. Ada beberapa peserta yang masih banyak kesulitan dalam vokal. Mereka terlihat masih gugup melafalkan sajak-sajak dengan bahasa daerah sendiri.

Di samping gugup melafalkan, ada pula yang salah baca. Mereka juga kesulitan dalam berekspresi. Akhirnya yang ditampilkan serupa pembacaan teks tanpa penghayatan yang kuat. ”Ini baca puisi beneran. Jadi dibaca saja tanpa perlu berekspresi,” ungkap Holis, salah satu dewan juri sembari tersenyum tipis.

Baca Juga :  HPN, 14 Wartawan Baca Puisi di Balai Pemuda Surabaya

Setelah seluruh peserta tampil, dewan juri diperkenankan merekapitulasi nilai. Di sela-sela itu, Wazirul Jihad membacakan syair berjudul Dhari Madura dha’ Indonesia. Tepuk tangan pun riuh saat alumni UIN Sunan Ampel Surabaya ini berapi-api membaca teks itu.

”Rupanya sulit juga membaca puisi berbahasa Madura. Saya bahkan harus mengulang-ulang untuk bisa membacanya,” jelas Wazirul Jihad.

Wazir sengaja mengadakan lomba baca puisi berbahasa Madura agar santri tidak lupa akan bahasa nenek moyang. Sebab saat ini bahasa Madura mulai ditinggalkan. Terlebih, alat komunikasi utama masyarakat, terutama di media sosial, sudah menggunakan bahasa Indonesia.

Melalui lomba ini dia ingin menegaskan bahwa bahasa Madura adalah kekayaan. Tidaklah lengkap Indonesia tanpa bahasa Madura. Sebab bahasa Madura inilah yang melengkapi karakter bangsa.

”Jika kita tetap melestarikan bahasa Madura, otomatis kekayaan Indonesia akan terpelihara,” paparnya. ”Dengan cara berbahasa Madura, kita perkuat karakter bangsa. Dan dengan semangat santri, kita jaga kekuturan NKRI,” tukasnya.

PAMEKASAN – Banyak cara dilakukan untuk merayakan Hari Santri Nasional. Salah satunya, menggelar lomba baca puisi berbahasa Madura. Itulah yang disajikan Lesbumi NU di Pendapa Budaya, Jalan Jokotole, Pamekasan.

Jam baru bergeser ke pukul 09.00 Sabtu (21/10). Puluhan santri dari berbagai pondok pesantren (PP) di Pamekasan berkumpul di Pendapa Budaya, Jalan Jokotole. Di Pendapa Wakil Bupati Pamekasan ini, santri ingin menunjukkan kebolehan dalam membaca puisi berbahasa Madura.

Sejumlah pesantren besar di Kota Gerbang Salam mendelegasikan santrinya dalam acara langka ini. Seperti LPI Al-Hamidy, PP Matsaratul Huda Panempan, PP Al-Fudhola, PP Bustanul Ulum Sumber Anom, PP Miftahul Ulum Kebun Baru, PP Miftahul Ulum Panyepen, dan lainnya. Mereka datang dengan semangat santri dan bekal doa para kiai.


Karena mereka santri, tentu gaya berpakaiannya khas. Santri putri memakai baju panjang dan jilbab rapi. Sedang santri putra relatif beragam. Ada yang berseragam sekolah, ada pula yang berpenampilan layaknya kiai. Mereka memakai sarung, berbaju koko, peci, dan lengkap dengan serban.

”Kami mengadakan lomba baca puisi atau syair berbahasa Madura dalam rangka merayakan Hari Santri Nasional,” kata Ketua Lesbumi NU Pamekasan Wazirul Jihad selaku penanggung jawab acara tersebut.

Baca Juga :  Cari Generasi Penulis, KML Gelar Baca Puisi Na'-Kana' Bhângkalan

Pihaknya ingin mengajak santri memahami sejarah perjalanan bangsa. Bahwa santri berperan besar dalam memperjuangkan, merebut, dan mempertahankan kemerdekaan. Ada banyak santri dan kiai yang wafat di medan perang.

Pasca kemerdekaan, goncangan politik terus terjadi di Indonesia. Ada kekuatan asing yang ingin merongrong kemerdekaan. Karena itulah, ulama bersatu-padu menyuarakan semangat nasionalisme.

Para kiai yang dipimpin KH Hasyim Asy’ari menyerukan agar seluruh umat Islam berjuang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Spirit itu pula yang tertuang dalam resolusi jihad yang dideklarasikan pada 22 Oktober 1945. ”Semangat resolusi jihad itulah yang hari ini diperingati sebagai Hari Santri,” jelasnya.

Lomba baca puisi mendatangkan juri dari Jawa Pos Radar Madura Imam S. Arizal. Juri lainnya yakni Royyan Julian dari Civitas Kotheka dan Muhammad Holis dari Komunitas Malate Pote. Sebelum acara dimulai, para juri terlebih dahulu memberikan kriteria-kriteria penilaian.

Karena lomba puisi ini berbahasa Madura, tentu ada kekhasan tersendiri. Ada beberapa peserta yang masih banyak kesulitan dalam vokal. Mereka terlihat masih gugup melafalkan sajak-sajak dengan bahasa daerah sendiri.

Di samping gugup melafalkan, ada pula yang salah baca. Mereka juga kesulitan dalam berekspresi. Akhirnya yang ditampilkan serupa pembacaan teks tanpa penghayatan yang kuat. ”Ini baca puisi beneran. Jadi dibaca saja tanpa perlu berekspresi,” ungkap Holis, salah satu dewan juri sembari tersenyum tipis.

Baca Juga :  Pemkab Pamekasan Tak Punya Penerjemah Naskah Kuno

Setelah seluruh peserta tampil, dewan juri diperkenankan merekapitulasi nilai. Di sela-sela itu, Wazirul Jihad membacakan syair berjudul Dhari Madura dha’ Indonesia. Tepuk tangan pun riuh saat alumni UIN Sunan Ampel Surabaya ini berapi-api membaca teks itu.

”Rupanya sulit juga membaca puisi berbahasa Madura. Saya bahkan harus mengulang-ulang untuk bisa membacanya,” jelas Wazirul Jihad.

Wazir sengaja mengadakan lomba baca puisi berbahasa Madura agar santri tidak lupa akan bahasa nenek moyang. Sebab saat ini bahasa Madura mulai ditinggalkan. Terlebih, alat komunikasi utama masyarakat, terutama di media sosial, sudah menggunakan bahasa Indonesia.

Melalui lomba ini dia ingin menegaskan bahwa bahasa Madura adalah kekayaan. Tidaklah lengkap Indonesia tanpa bahasa Madura. Sebab bahasa Madura inilah yang melengkapi karakter bangsa.

”Jika kita tetap melestarikan bahasa Madura, otomatis kekayaan Indonesia akan terpelihara,” paparnya. ”Dengan cara berbahasa Madura, kita perkuat karakter bangsa. Dan dengan semangat santri, kita jaga kekuturan NKRI,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/