alexametrics
20.7 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Keberagamaan Indonesia Terkoyak dalam Lukisan Sabung Ayam

SUMENEP – Lukisan Taufik Rahman, pemenang World Contemporary Artist (WCA) 2017 menggambarkan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Melalui lukisan Sabung Ayam-nya ingin menggambarkan bahwa kondisi bangsa saat ini sedang terkoyak.

Karyanya yang terpilih sebagai The Best Art of The Year ini menggambarkan keberagaman suku di Indonesia. Sayang keberagaman tersebut justru melahirkan perpecahan. Hal tersebut digambarkan dengan bulu ayam sebagai filosofi keberagaman.

”Tapi saya membebaskan semua orang untuk memaknai karya saya. Mereka tidak harus mengikuti apa yang saya ungkapkan untuk menjelaskan lukisan saya,” terangnya ketika ditemui di Jalan Seludang, Kelurahan Pajagalan, Kecamatan Kota Sumenep, Kamis siang (20/7).

Berkat lukisan tersebut, Taufik mendapat full sponsor untuk menggelar pameran di Hongkong tahun depan. Selain itu, dia dan lukisannya akan menjadi cover depan majalah seni internasional Art Magazine WCA International Award.

Baca Juga :  Komunitas La Ngetnik Tidak Mau Kaku dengan Satu Genre Musik

Tahun ini adalah tahun pertama dia mengikuti festival seni lukis tingkat internasional. Tahun ini pula dia langsung berhasil menjadi pemenang. Dia berada di atas Macky Bongabong (Filipina) dan Yasuyuki Ueda (Jepang). Event itu digelar World Contemporary Artist (WCA).

Selama menggeluti dunia seni lukis, Taufik telah mengikuti puluhan kejuaraan dan festival tingkat regional dan nasional. Tidak sekalipun menyabet juara. Hanya beberapa kali karyanya masuk sepuluh besar.

”Saya juga tidak menyangka akan menang, karena musuhnya dari seluruh dunia,” jelasnya. Namun, lukisan bertema Sabung Ayam miliknya berhasil menjadi The Best Art of The Year. Mengalahkan ribuan karya seni lain.

- Advertisement -

SUMENEP – Lukisan Taufik Rahman, pemenang World Contemporary Artist (WCA) 2017 menggambarkan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Melalui lukisan Sabung Ayam-nya ingin menggambarkan bahwa kondisi bangsa saat ini sedang terkoyak.

Karyanya yang terpilih sebagai The Best Art of The Year ini menggambarkan keberagaman suku di Indonesia. Sayang keberagaman tersebut justru melahirkan perpecahan. Hal tersebut digambarkan dengan bulu ayam sebagai filosofi keberagaman.

”Tapi saya membebaskan semua orang untuk memaknai karya saya. Mereka tidak harus mengikuti apa yang saya ungkapkan untuk menjelaskan lukisan saya,” terangnya ketika ditemui di Jalan Seludang, Kelurahan Pajagalan, Kecamatan Kota Sumenep, Kamis siang (20/7).


Berkat lukisan tersebut, Taufik mendapat full sponsor untuk menggelar pameran di Hongkong tahun depan. Selain itu, dia dan lukisannya akan menjadi cover depan majalah seni internasional Art Magazine WCA International Award.

Baca Juga :  Senopati Nusantara Diminta Permudah Izin Kepemilikan Keris

Tahun ini adalah tahun pertama dia mengikuti festival seni lukis tingkat internasional. Tahun ini pula dia langsung berhasil menjadi pemenang. Dia berada di atas Macky Bongabong (Filipina) dan Yasuyuki Ueda (Jepang). Event itu digelar World Contemporary Artist (WCA).

Selama menggeluti dunia seni lukis, Taufik telah mengikuti puluhan kejuaraan dan festival tingkat regional dan nasional. Tidak sekalipun menyabet juara. Hanya beberapa kali karyanya masuk sepuluh besar.

”Saya juga tidak menyangka akan menang, karena musuhnya dari seluruh dunia,” jelasnya. Namun, lukisan bertema Sabung Ayam miliknya berhasil menjadi The Best Art of The Year. Mengalahkan ribuan karya seni lain.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/