Senin, 06 Dec 2021
Radar Madura
Home / Sastra & Budaya
icon featured
Sastra & Budaya

Arsip dan Kehidupan

Oleh HIDAYAT RAHARJA

21 November 2021, 22: 11: 49 WIB | editor : Abdul Basri

Arsip dan Kehidupan

JEJAK MASA LALU: Arsiparis Ahli Muda Disarpus Sampang Fathor Rosi menunjukkan koleksi foto benda bersejarah yang berhasil dihimpun di Wisata Arsip Masyarakat 13 September 2019. (RadarMadura.id)

Share this      

ARSIP sering kali dipandang sebagai benda yang tersimpan dalam sebuah ruangan dokumen atau museum yang dibuka sesekali waktu untuk mengingatnya. Sebuah dokumen yang menyimpan informasi masa lalu dan kadang sulit dijangkau oleh masyarakat umum sehingga kurang berfungsi secara optimal. Jika arsip tersebut merupakan dokumen rahasia, maka harus rapi dan dirawat dengan baik supaya tidak sampai terjangkau oleh orang lain yang tidak memiliki hak untuk mengakses. Namun jika arsip tersebut merupakan dokumen yang menyimpan informasi bagi orang banyak, sepatutnya dokumen tersebut dibuka untuk sumber informasi dan pengetahuan bagi masyarakat luas.

Betapa besar peran arsip dalam memberikan informasi dan memengaruhi kebijakan dan kearifan dalam hidup bermasyarakat. Tidak sedikit dari generasi kita saat ini yang terputus hubungan dengan informasi masa sebelumnya, karena memang tidak ada arsip yang bisa dibaca atau dipelajari. Menengok peninggalan di masa silam, secara historis bangsa kita telah lama mengenal pengarsipan, mulai yang dituliskan di batu, daun lontar, dinding candi, dan terpahat pada ornamen bangunan  permukiman.

Masih banyak arsip di sekitar kehidupan kita yang tercecer, karena kita tidak paham manfaat dan peran arsip sehingga diabaikan. Andaikan setiap desa melakukan pengarsipan terhadap asal-usul dan kekayaan sosial budaya yang tumbuh di dalamnya, tentu kekayaan arsip tersebut akan selalu mengingatkan kita tentang perubahan-perubahan yang berlangsung secara periodik dan memengaruhi kehidupan bersama.

Baca juga: Memaknai Molodan yang Gempita di Pelbagai Penjuru Madura

Satu dekade terakhir mulai muncul kesadaran dari kaum muda untuk menelusuri asal-usul mereka. Mereka mulai mempertanyakan asal-usul dan mau ke mana? Sebuah pertanyaan yang menyadarkan mereka untuk mencari identitas, mengumpulkan arsip untuk menentukan identitas. Beberapa anak muda di Kalisat–Jember mempertanyakan asal-usul. Mereka melakukan dokumentasi arsip dengan mendatangi penduduk setempat untuk mengumpulkan dokumen foto, furnitur, peralatan rumah tangga, dan semacamnya. Benda-benda tersebut dipamerkan di halaman rumah masing-masing penduduk. Sebuah dokumentasi yang melibatkan masyarakat secara langsung. Kegiatan tersebut diberi tajuk ”Sudut Kalisat” sebuah display terhadap arsip budaya masa lalu, sehingga anak-anak muda bisa melihat dan belajar terhadap masa lalunya. Sementara para orang tua menyampaikan pengalaman dan berbagai kisah dengan berbagai arsip yang dimilikinya.

Suatu ketika  ”Teater Uji Coba” melakukan pentas di Gedung Kesenian Sampang saat memperingati kelahiran Komunitas Stinggil. Sebuah pertunjukan yang merepresentasikan budaya pesisir. Pertunjukan yang didasarkan pada riset tentang kehidupan pesisir. Sang Aktor (Syamsul Arifin) memainkan omplong (kaleng) bekas sebagai subjek yang memerankan banyak hal. Kaleng bekas dengan seutas tali benang yang berjuntai di tengah-tengah penutup kaleng. Dua kaleng dihubungkan dengan seutas benang sehingga kaleng bekas berfungsi sebagai pesawat telepon. Di saat yang lain benang pada kaleng ditarik, sehingga menimbulkan bunyi seperti suara salak anjing. Namun ketika ujung tali ditegakkan dan pangkal tali dikaitkan ke lipatan jempol kaki dan telunjuk, kaleng menjadi bakiak dengan suara langkah yang unik.

Perkembangan media untuk menyimpan arsip atau dokumen terus berkembang dari media batu, lontar, kayu, kertas, sampai ke berbagai perangkat audiovisual telah memperluas ruang dokumentasi atau pengarsipan. Maka, sangat perlu diapresiasi ketika Dinas Arsip dan Perpustakaan Sampang mengundang siswa SMA untuk melakukan kunjungan atau wisata arsip, mendapat respons yang sangat menarik. Sosialisasi mengenai cara melakukan dokumentasi atau pengarsipan dan pemanfaatan arsip, merupakan sebuah edukasi yang akan mampu menyelamatkan aneka arsip yang berserakan di luar gedung. Pengenalan arsip yang akan membawa kesadaran siswa terhadap kekayaan budaya yang penting dan perlu diselamatkan.

Pemahaman siswa terhadap arsip sangat menguntungkan bagi penyelamatan arsip yang ada di sekitar kita. Mereka yang tertarik untuk mendokumentasikan arsip kehidupannya, sangat membantu menyelamatkan kekayaan budaya yang ada. Ini vital, dan sangat berharga bagi masa depan kehidupan kita. Kekayaan budaya yang telah diarsipkan leluhur kita, menunjukkan kita sebagai bangsa besar. Bangsa ini pernah menjadi pusat peradaban dunia dengan berbagai arsitektur bangunan yang unik serta bangunan perahu dan kapal kayu yang kita miliki. Arsip masa lalu yang tinggal menjadi kebanggaan, karena ternyata kekayaan tersebut tidak mampu ditindaklanjuti dalam kehidupan masa kini.

Penyadaran mengenai pentingnya arsip dan pengarsipan atas kekayaan budaya saat ini terus berlangsung di berbagai daerah. Mereka mencoba menelusuri kembali kejayaan dan kekayaan rempah di Nusantara. Mereka mencoba mencari jalur kebudayaan manusia Oceania dan keterhubungan antara bangsa yang ada saat ini. Penemuan kerangka manusia yang berusia ribuan tahun di daerah Tamberru–Sampang semakin menguatkan tentang asal-usul manusia di Madura dengan aneka kebudayaannya yang meyebar dari pesisiran dan juga berkembang di pedalaman.

Ketika ruang arsip dibuka, maka arsip akan menjadi aktif. Semua dokumen berbicara, memberikan informasi yang akan menambah wawasan para penikmatnya serta akan menimbulkan dialog antara masa lalu, saat ini, dan masa depan. Tentu ini sangat berharga ketika kegiatan edukasi ini dirancang secara progresif dan menempatkan setiap pengunjung bisa berperan sebagai subjek yang mempertanyakan terhadap keberadaan arsip.

Upaya yang dilakukan Dewan Kesenian Jawa Timur dengan lomba penulisan manuskrip puisi bertema kearifan budaya lokal mampu memunculkan karya bermuatan kearifan lokal yang selama ini tidak banyak dikenal. Manuskrip ”Wisata Desa Bilapora Dalam Sajak” karya Raedu Basha sebagai pemenang unggulan, akhirnya menjadi dokumen (Buku) yang menyebar ke berbagai daerah. Dokumen yang berhasil membuka arsip Desa Bilapora yang selama ini tidak banyak dikenal. Betapa pentingnya edukasi dan pengenalan arsip sehingga kekayaan pengetahuan yang kita miliki bisa memberikan manfaat bagi kehidupan. 

*)Guru dan diberi tugas mengelola SMAN 4 Sampang

(mr/*/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia