alexametrics
25.3 C
Madura
Friday, September 30, 2022

Kemerdekaan: Antara Tragedi dan Komedi

Oleh MATRONI MUSERANG*

ESAI ini sudah saya sampaikan pada orasi kemerdekaan yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) PPKn STKIP PGRI Sumenep pada 17 Agustus 2022. Bagi manusia yang memahami sejarah berdirinya Indonesia, sebuah bangsa yang didirikan dari perjuangan darah, tenaga dan moral, kemudian merdeka, orang akan paham makna Pancasila sebagai dasar negara, filsafat negara, dan sebagai ideologi bangsa yang sudah final, yang tidak bisa diubah-ubah atau diutak-atik oleh ideologi baru.

Kemerdekaan yang ke-77 tahun ini, selalu sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Yaitu semarak lomba, gerak jalan, dan sederet keramaian lain yang dianggap meramaikan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Perayaan kemerdekaan diisi oleh pertunjukan dan perlombaan.

Semarak kemerdekaan yang diisi pertunjukan dan perlombaan tanpa mempertimbangkan spirit nilai substansial dari kemerdekaan itu akan menghilangkan bahkan ”membunuh” nilai-nilai kesejarahan dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Bahwa di dalam kemerdekaan itu ada perjuangan, pertumpahan nyawa dan raga, bahkan jiwa akan sirna oleh keramaian lomba tanpa refleksi kesejarahan.

Refleksi kesejarahan dalam momen kemerdekaan Indonesia sebuah keniscayaan. Sebab, tanpa ada upaya ke arah refleksivitas kesejarahan kemerdekaan Indonesia akan sia-sia dirayakan tanpa makna apa-apa bagi generasinya. Generasi kita hanya akan tahu bahwa kemerdekaan hanya berisi lomba, liburan sekolah, dan upacara kemerdekaan. Selebihnya tidak ada.

Kemerdekaan itu sebuah harapan besar bagi Indonesia, bukan ratapan apalagi komedian. Harapan itu merupakan sebuah spirit nilai-nilai yang terkandung di kedalaman kemerdekaan. Oleh karenanya, perayaan kemerdekaan itu penting ada sisi refleksivitas kesejarahan sebagai bagian dari proses kemerdekaan yang tidak mudah didapatkan dari penjajah.

Apa hubungan lomba makan kerupuk, lomba lari karung, lomba seragam baju terhadap kemerdekaan? Tentu hanya hiburan. Kalau di cari alasannya, kebersamaan dan kekompakan. Lalu kebersamaan dan kekompakan dalam hal apa dan untuk siapa?

Baca Juga :  Pemkab Sampang Semarakkan Hari Jadi

Pancasila sebagai payung besar bagi nilai-nilai universal yang tersimpan di kedalaman Pancasila sama sekali tidak akan terkuak bila kemerdekaan dimaknai sebagai sebuah komedian sesaat, lalu what’s next? Padahal perayaan kemerdekaan yang ke-77 itu gambaran kita nanti. Kalau kita refleksikan ternyata kita masih terjajah. Terjajah oleh teknologi, terjajah oleh gaya hidup, terjajah oleh keroposnya mental pemimpin. Pikiran kita terjajah, identitas sosial pun terjajah. Tiadanya panutan moral, karakter, dan pola pikir. Apalagi muncul pancasila bersyariah. Padahal, Pancasila tanpa embel-embil syariah lebih bersyariah. Ada-ada saja.

Lalu mengapa generasi ini yang memiliki ”integritas” memadai justru muda tergoyahkan? Padahal kita dijajah 350 tahun, secara logika tidak mungkin kemerdekaan itu bisa kita gapai. Tapi, dengan spirit religiusitas dan nasionalitas yang dimiliki Soekarno, pelan-pelan kemerdekaan bisa kita raih. Kemerdekaan ini tidak diambil secara gratis. Dibutuhkan spirit strategi dan metode dari Soekarno agar Indonesia harus merdeka. Pada pukul 10.00 WIB 10 Ramadan dengan perintah KH Hasyim Asy’ari, maka kemerdekaan itu diumumkan.

Lalu pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bersepakat bahwa fondasi dan ideologinya adalah Pancasila. Oleh karena itu, penting kemudian membaca Pancasila tidak lepas dari nilai-nilai universal dari sebuah kemerdekaan yang sebenarnya mengandung nilai perjuangan yang tidak mudah didapatkan. Lalu, seremonial pertunjukan dan perlombaan itu harus direfleksikan sebagai jawaban bagi kemerdekaan. Jika tidak ada hubungan yang substansial dengan kemerdekaan, lebih baik dana pertunjukan dan perlombaan diberikan kepada fakir yang dimiskinkan sistem pemerintahan yang korup.

Pancasila sudah saatnya dikembalikan pada kekuatan pikiran dan jiwa manusia Indonesia untuk terus menjaga dan mengawal kemerdekaan yang sesungguhnya. Sebab, kemerdekaan itu hak segala bangsa. Jika ada warga Indonesia secara materi masih jauh dari layak, jangan katakan Indonesia merdeka. Pancasila sudah saatnya menjadi kekuatan mental dan pikiran Indonesia. Itulah momen yang harus dilakukan di tengah semarak pertunjukan dan perlombaan, sehingga Pancasila melahirkan integrasi bangsa, sosial, keilmuan, budaya, dan integrasi pelestarian lingkungan.

Baca Juga :  Ini Motivasi Ghafiruddin Tekuni Kerajinan Odheng Madura

Dari itulah, penting bagi manusia yang dimerdekakan dari hasil jerih kemerdekaan ini untuk terus belajar dan membaca untuk menghadirkan pendidikan pancasila dan kewarganegaraan yang berkualitas. Dari pendidikan yang berkualitas itulah pembangunan mental-mental kebangsaan itu hidup di kedalaman jiwa bangsa dan negara. Maka, dari sini pulalah keseimbangan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) akan tercapai. Tidak ada lagi pebisnis ilegal, perusahaan ilegal, dan koruptor. Sebab kalau tidak, kemerdekaan itu akan melahirkan manusia-manusia yang memiliki daya pandang pendek, literasinya pun akan buruk, asal viral, asal jiplak, itulah problem kepancasilaan yang serius sebenarnya. Lalu apa implikasi bila manusia seperti itu?

Harus dimulai dari literasi yang baik. Anak-anak diberi simulasi di ruang kelas agar kenal dengan pahlawan Indonesia. Di tingkat PAUD, TK, dan SD/MI kita beri foto satu per satu pahlawan. Lalu, dijelaskan satu per satu. Anehnya, gurunya pun tidak paham sejarah pahlawan Indonesia, karena tingkat literasi di kalangan guru sangat amat minim. Apakah masih akan dikatakan pelajar Indonesia bila literasinya masih buruk?

Semoga nilai-nilai universal Pancasila menyertai kita dalam menjalankan kehidupan, agar kita lebih tangguh, lebih inklusif-transformatif-kritis, dan lebih mencerdaskan. (*)

*)Dosen filsafat Prodi PPKn STKIP PGRI Sumenep

Oleh MATRONI MUSERANG*

ESAI ini sudah saya sampaikan pada orasi kemerdekaan yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) PPKn STKIP PGRI Sumenep pada 17 Agustus 2022. Bagi manusia yang memahami sejarah berdirinya Indonesia, sebuah bangsa yang didirikan dari perjuangan darah, tenaga dan moral, kemudian merdeka, orang akan paham makna Pancasila sebagai dasar negara, filsafat negara, dan sebagai ideologi bangsa yang sudah final, yang tidak bisa diubah-ubah atau diutak-atik oleh ideologi baru.

Kemerdekaan yang ke-77 tahun ini, selalu sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Yaitu semarak lomba, gerak jalan, dan sederet keramaian lain yang dianggap meramaikan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Perayaan kemerdekaan diisi oleh pertunjukan dan perlombaan.


Semarak kemerdekaan yang diisi pertunjukan dan perlombaan tanpa mempertimbangkan spirit nilai substansial dari kemerdekaan itu akan menghilangkan bahkan ”membunuh” nilai-nilai kesejarahan dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Bahwa di dalam kemerdekaan itu ada perjuangan, pertumpahan nyawa dan raga, bahkan jiwa akan sirna oleh keramaian lomba tanpa refleksi kesejarahan.

Refleksi kesejarahan dalam momen kemerdekaan Indonesia sebuah keniscayaan. Sebab, tanpa ada upaya ke arah refleksivitas kesejarahan kemerdekaan Indonesia akan sia-sia dirayakan tanpa makna apa-apa bagi generasinya. Generasi kita hanya akan tahu bahwa kemerdekaan hanya berisi lomba, liburan sekolah, dan upacara kemerdekaan. Selebihnya tidak ada.

Kemerdekaan itu sebuah harapan besar bagi Indonesia, bukan ratapan apalagi komedian. Harapan itu merupakan sebuah spirit nilai-nilai yang terkandung di kedalaman kemerdekaan. Oleh karenanya, perayaan kemerdekaan itu penting ada sisi refleksivitas kesejarahan sebagai bagian dari proses kemerdekaan yang tidak mudah didapatkan dari penjajah.

Apa hubungan lomba makan kerupuk, lomba lari karung, lomba seragam baju terhadap kemerdekaan? Tentu hanya hiburan. Kalau di cari alasannya, kebersamaan dan kekompakan. Lalu kebersamaan dan kekompakan dalam hal apa dan untuk siapa?

Baca Juga :  Kampung Literasi Mulai Berbenah
- Advertisement -

Pancasila sebagai payung besar bagi nilai-nilai universal yang tersimpan di kedalaman Pancasila sama sekali tidak akan terkuak bila kemerdekaan dimaknai sebagai sebuah komedian sesaat, lalu what’s next? Padahal perayaan kemerdekaan yang ke-77 itu gambaran kita nanti. Kalau kita refleksikan ternyata kita masih terjajah. Terjajah oleh teknologi, terjajah oleh gaya hidup, terjajah oleh keroposnya mental pemimpin. Pikiran kita terjajah, identitas sosial pun terjajah. Tiadanya panutan moral, karakter, dan pola pikir. Apalagi muncul pancasila bersyariah. Padahal, Pancasila tanpa embel-embil syariah lebih bersyariah. Ada-ada saja.

Lalu mengapa generasi ini yang memiliki ”integritas” memadai justru muda tergoyahkan? Padahal kita dijajah 350 tahun, secara logika tidak mungkin kemerdekaan itu bisa kita gapai. Tapi, dengan spirit religiusitas dan nasionalitas yang dimiliki Soekarno, pelan-pelan kemerdekaan bisa kita raih. Kemerdekaan ini tidak diambil secara gratis. Dibutuhkan spirit strategi dan metode dari Soekarno agar Indonesia harus merdeka. Pada pukul 10.00 WIB 10 Ramadan dengan perintah KH Hasyim Asy’ari, maka kemerdekaan itu diumumkan.

Lalu pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bersepakat bahwa fondasi dan ideologinya adalah Pancasila. Oleh karena itu, penting kemudian membaca Pancasila tidak lepas dari nilai-nilai universal dari sebuah kemerdekaan yang sebenarnya mengandung nilai perjuangan yang tidak mudah didapatkan. Lalu, seremonial pertunjukan dan perlombaan itu harus direfleksikan sebagai jawaban bagi kemerdekaan. Jika tidak ada hubungan yang substansial dengan kemerdekaan, lebih baik dana pertunjukan dan perlombaan diberikan kepada fakir yang dimiskinkan sistem pemerintahan yang korup.

Pancasila sudah saatnya dikembalikan pada kekuatan pikiran dan jiwa manusia Indonesia untuk terus menjaga dan mengawal kemerdekaan yang sesungguhnya. Sebab, kemerdekaan itu hak segala bangsa. Jika ada warga Indonesia secara materi masih jauh dari layak, jangan katakan Indonesia merdeka. Pancasila sudah saatnya menjadi kekuatan mental dan pikiran Indonesia. Itulah momen yang harus dilakukan di tengah semarak pertunjukan dan perlombaan, sehingga Pancasila melahirkan integrasi bangsa, sosial, keilmuan, budaya, dan integrasi pelestarian lingkungan.

Baca Juga :  Merayakan Hari Santri, Menjaga Keutuhan NKRI

Dari itulah, penting bagi manusia yang dimerdekakan dari hasil jerih kemerdekaan ini untuk terus belajar dan membaca untuk menghadirkan pendidikan pancasila dan kewarganegaraan yang berkualitas. Dari pendidikan yang berkualitas itulah pembangunan mental-mental kebangsaan itu hidup di kedalaman jiwa bangsa dan negara. Maka, dari sini pulalah keseimbangan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) akan tercapai. Tidak ada lagi pebisnis ilegal, perusahaan ilegal, dan koruptor. Sebab kalau tidak, kemerdekaan itu akan melahirkan manusia-manusia yang memiliki daya pandang pendek, literasinya pun akan buruk, asal viral, asal jiplak, itulah problem kepancasilaan yang serius sebenarnya. Lalu apa implikasi bila manusia seperti itu?

Harus dimulai dari literasi yang baik. Anak-anak diberi simulasi di ruang kelas agar kenal dengan pahlawan Indonesia. Di tingkat PAUD, TK, dan SD/MI kita beri foto satu per satu pahlawan. Lalu, dijelaskan satu per satu. Anehnya, gurunya pun tidak paham sejarah pahlawan Indonesia, karena tingkat literasi di kalangan guru sangat amat minim. Apakah masih akan dikatakan pelajar Indonesia bila literasinya masih buruk?

Semoga nilai-nilai universal Pancasila menyertai kita dalam menjalankan kehidupan, agar kita lebih tangguh, lebih inklusif-transformatif-kritis, dan lebih mencerdaskan. (*)

*)Dosen filsafat Prodi PPKn STKIP PGRI Sumenep

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/