alexametrics
21.1 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Tora Jawab Kerinduan Sastra Madura

SUMENEP – Penerbitan buku Tora; Satengkes Carpan Madura oleh Jawa Pos Radar Madura (JPRM) disambut baik oleh publik. Buku ini akan diluncurkan di aula STKIP PGRI Sumenep besok (21/3). Dukungan berdatangan dari para pencinta sastra dan budaya Madura.

Budayawan Ibnu Hajar mengatakan, upaya pendokumentasian sastra Madura sangat sulit. Untuk menerbitkan buku antologi seperti Tora ini yang lolos kurasi redaksi JPRM tidak mudah. ”Bisa saja orang-orang menerbitkan. Untuk Madura baru sekarang yang dilakukan oleh Radar Madura,” ucapnya Senin (19/3).

Pria berkacamata itu menambahkan, pendokumentasian sastra berbahasa daerah di Indonesia pernah dilakukan Yayasan Obor Indonesia bekerja sama dengan The Ford Foundation. Yayasan itu menerbitkan buku bahasa daerah berjudul Wulan Sedhuwuring Geni; Antologi Cerpen dan Puisi Daerah pada 1999 dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang.

”Dari Madura yang lolos kurasi itu cerpen karya almarhum Arach Djamali. Beliau ini tokoh sastra bahasa Madura. Puisinya yang terkenal Dhara Campor Mardha. Juga puisi saya yang berjudul Bulan Tasellem ka Sagara,” jelasnya.

Baca Juga :  Pengembangan Batik Kurang Maksimal

Ibnu menjelaskan, penerbitan buku Tora ini menjawab kerinduan masyarakat terhadap karya sastra berbahasa Madura. Sebab, selama ini sulit untuk buku referensi berbahasa Madura. Termasuk jenis kamus. Kalaupun ada, sangat terbatas.

Pria kelahiran Sumenep, 7 Juli 1971 ini, menyatakan, kamus yang lengkap adalah bahasa Madura-Belanda. ”Itu diterbitkan oleh Belanda,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Ibnu, banyak bahasa Madura diadopsi dari bahasa Belanda. Misalnya, orang Madura menyebut ”celana” sebagai ”pantalon”. Sedangkan ”pantalon” merupakan bahasa Belanda. Orang Madura pinggiran menyebut jam tangan sebagai ”arloji”. Sedangkan dalam bahasa Belanda itu alroza.

”Buku Tora muncul menyadarkan kita, betapa kaya bahasa Madura. Mulai dari metafor, majas, tema, dan semacamnya,” bebernya.

Baca Juga :  Mungkinkah, Budaya (Sejarah) Sebatas Masa Lalu?

Dia mengajak, kehadiran buku yang ditulis 21 pemuda Madura itu disambut serius. Serius dalam artian tidak hanya dibedah. Tapi, penerbitan sanja’ dan careta pandha’ (carpan) di JPRM harus konsisten. Menurut dia, media cetak terbesar di Madura ini sudah menjawab publik tentang penerapan sehari menggunakan bahasa Madura di sekolah.

”Sudah keluar perbup-nya itu di Sumenep. Persoalannya sekarang, bagaimana nilai kontrolnya? Juga bagaimana gurunya? Ini tidak hanya ditopang dalam dunia pendidikan, tapi di lingkungan keluarga,” tegas penulis buku Tak Ada Cinta Buat Penyair itu.

Ibnu mengungkapkan, anak masa kini sudah diajari berbahasa Indonesia sejak kecil. Panggilan eppa’, emma’, kae, nyae, dan lainnya kian terkikis. Panggilan-panggilan itu berubah menjadi papi, mami, dan sebagainya. ”Buku Tora ini luar biasa. Tora ini tonggak betapa pentingnya bahasa Madura,” tandasnya.

 

SUMENEP – Penerbitan buku Tora; Satengkes Carpan Madura oleh Jawa Pos Radar Madura (JPRM) disambut baik oleh publik. Buku ini akan diluncurkan di aula STKIP PGRI Sumenep besok (21/3). Dukungan berdatangan dari para pencinta sastra dan budaya Madura.

Budayawan Ibnu Hajar mengatakan, upaya pendokumentasian sastra Madura sangat sulit. Untuk menerbitkan buku antologi seperti Tora ini yang lolos kurasi redaksi JPRM tidak mudah. ”Bisa saja orang-orang menerbitkan. Untuk Madura baru sekarang yang dilakukan oleh Radar Madura,” ucapnya Senin (19/3).

Pria berkacamata itu menambahkan, pendokumentasian sastra berbahasa daerah di Indonesia pernah dilakukan Yayasan Obor Indonesia bekerja sama dengan The Ford Foundation. Yayasan itu menerbitkan buku bahasa daerah berjudul Wulan Sedhuwuring Geni; Antologi Cerpen dan Puisi Daerah pada 1999 dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang.


”Dari Madura yang lolos kurasi itu cerpen karya almarhum Arach Djamali. Beliau ini tokoh sastra bahasa Madura. Puisinya yang terkenal Dhara Campor Mardha. Juga puisi saya yang berjudul Bulan Tasellem ka Sagara,” jelasnya.

Baca Juga :  Pengembangan Batik Kurang Maksimal

Ibnu menjelaskan, penerbitan buku Tora ini menjawab kerinduan masyarakat terhadap karya sastra berbahasa Madura. Sebab, selama ini sulit untuk buku referensi berbahasa Madura. Termasuk jenis kamus. Kalaupun ada, sangat terbatas.

Pria kelahiran Sumenep, 7 Juli 1971 ini, menyatakan, kamus yang lengkap adalah bahasa Madura-Belanda. ”Itu diterbitkan oleh Belanda,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Ibnu, banyak bahasa Madura diadopsi dari bahasa Belanda. Misalnya, orang Madura menyebut ”celana” sebagai ”pantalon”. Sedangkan ”pantalon” merupakan bahasa Belanda. Orang Madura pinggiran menyebut jam tangan sebagai ”arloji”. Sedangkan dalam bahasa Belanda itu alroza.

”Buku Tora muncul menyadarkan kita, betapa kaya bahasa Madura. Mulai dari metafor, majas, tema, dan semacamnya,” bebernya.

Baca Juga :  Disbudpar Bangkalan Kenalkan Cerita Rakyat sejak Dini

Dia mengajak, kehadiran buku yang ditulis 21 pemuda Madura itu disambut serius. Serius dalam artian tidak hanya dibedah. Tapi, penerbitan sanja’ dan careta pandha’ (carpan) di JPRM harus konsisten. Menurut dia, media cetak terbesar di Madura ini sudah menjawab publik tentang penerapan sehari menggunakan bahasa Madura di sekolah.

”Sudah keluar perbup-nya itu di Sumenep. Persoalannya sekarang, bagaimana nilai kontrolnya? Juga bagaimana gurunya? Ini tidak hanya ditopang dalam dunia pendidikan, tapi di lingkungan keluarga,” tegas penulis buku Tak Ada Cinta Buat Penyair itu.

Ibnu mengungkapkan, anak masa kini sudah diajari berbahasa Indonesia sejak kecil. Panggilan eppa’, emma’, kae, nyae, dan lainnya kian terkikis. Panggilan-panggilan itu berubah menjadi papi, mami, dan sebagainya. ”Buku Tora ini luar biasa. Tora ini tonggak betapa pentingnya bahasa Madura,” tandasnya.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Tanah Warga Diklaim Percaton

Realisasi PBB Hanya 41 Persen

Tambak Udang Tak Boleh Ganggu Pariwisata

Artikel Terbaru

/