Senin, 06 Dec 2021
Radar Madura
Home / Sastra & Budaya
icon featured
Sastra & Budaya

Memaknai Molodan yang Gempita di Pelbagai Penjuru Madura

Ekspresi Cinta kepada Kanjeng Nabi

17 Oktober 2021, 20: 06: 00 WIB | editor : Abdul Basri

Memaknai Molodan yang Gempita di Pelbagai Penjuru Madura

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di rumah keluarga Kusyairi-Rukayyah di Dusun Kolo Timur, Desa Apaan, Kecamatan Pangarengan, Sampang, Jumat, 7 Desember 2018. Undangan disuguhi air galonan. (ISTIMEWA)

Share this      

LAQAD jaa’akum rasụlum min anfusikum ’azizun ’alaihi maa ’anittum ḥariitsun ’alaikum bil-mu’miniina ra’ufur rahiim. Fa in tawallau fa qul ḥasbiyallaahu laa ilaaha illaa huw, ’alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul-’arsyil-’adziim”. ”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: ’Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan Sang Pemilik ’Arsy yang agung’.”

Lantunan ayat Al-Qur’an surah At Taubah:128-129 ini niscaya kerap terdengar di telinga ketika memasuki bumi Madura (juga di berbagai daerah di belahan bumi Nusantara) pada bulan Rabiulawal. Setiap memasuki bulan Rabiulawal, ada nuansa berbeda yang bisa kita rasakan ketika memasuki alam Pulau Garam. Di pelbagai sudut, masyarakat Madura menyambut dan merayakan kelahiran sang pembawa risalah kebenaran, Rasulullah Muhammad SAW. Masyarakat Madura menyebutnya tradisi molodan.

Bentuk molodan beragam di setiap kampung. Pada intinya, kaum muslimin meriung bersama-sama di sebuah tempat. Lalu, lantunan ayat Al-Qur’an yang disusul pembacaan salawat akan berkumandang sahut-menyahut dari pengeras suara masjid, langgar, hingga rumah-rumah penduduk di sepanjang bulan Rabiulawal (sering disebut dengan bulan Maulid). Di penghujung acara, ulama atau keyae yang hadir akan menyampaikan ceramah agama. Topiknya tunggal: syukur kepada Tuhan perlu dilangitkan terus-menerus atas kehadiran manusia istimewa yang diutus menyampaikan ajaran agama terakhir ini. Selanjutnya, ajakan untuk istiqamah mempelajari laku hidup Rasulullah menjadi pemuncak nasihat. Muaranya sederhana: mencari keridaan Allah SWT melalui asa syafaat Rasulullah SAW.

Baca juga: Ketika Seni Humanisme Santri Didaur Ulang

Di dalam molodan ini pula, sang sahibulbait akan menyediakan suguhan kepada hadirin yang datang. Ada yang dimakan bersama-sama, ada yang dibawa pulang. Oleh-oleh yang dibawa pulang adalah ”berkat”, demikian masyarakat Madura menyebutnya. Merujuk penamaannya, sejatinya ”berkat” itu tidak semata bentuk sedekah kepada tamu. Di dalamnya ada sepucuk doa untuk mendapatkan keberkahan dari-Nya atas niat baik yang diselenggarakan. Bahkan, ada pesan yang pernah disampaikan kakek dan kiai saya dahulu yang masih saya ingat, ”Mon molodan, pabagus berkadda. Kaenga’e, se emolodi reya banne sambarang manossa”. Intinya, kalau pas molodan, suguhannya usahakan yang terbaik yang kita mampu, sebab yang sedang dirayakan adalah bukan manusia sembarangan. Ada rasa untuk membahagiakan yang dicinta, seseorang yang juga kita harapkan syafaatnya di hari akhir kelak.

Yang menarik, bab ”berkat” dan segala pembiayaan perayaan molodan di Madura bukanlah monopoli manusia yang diberi kelebihan harta. Jika tak mampu mengundang jamaah ke rumahnya, masyarakat gotong royong menyelenggarakannya di langgar, musala, dan masjid setempat. Jikapun tidak dirayakan bersama-sama, bentuk syukur atas kelahiran nabi ini bisa juga diekspresikan dengan ater-ater, memberikan masakan buah karya tangan sendiri yang diantarkan ke tetangga dan kerabat terdekat.

Saking antusiasnya perayaan molodan di Madura, di beberapa desa di Madura bahkan sampai harus mendata agar penyelenggaraan molodan tidak bentrok satu sama lain. Salah seorang kiai yang karib pernah berseloroh, kalendernya tak ada yang kosong di bulan Maulid. Undangan ceramah maulid ke berbagai penjuru kampung hadir sepanjang bulan mulia ini.

Tradisi merayakan kelahiran nabi yang gempita di kampung ini juga dirasakan manusia Madura yang merantau ke luar Madura. Hasil kajian Djakfar (2012) menyebutkan bahwa, selain tellasan Idul Fitri dan Idul Adha, perantau Madura juga melakukan tradisi ”toron”, mudik pulang kampung pada bulan Maulid. Para perantau ini pulang untuk kemudian bersama-sama keluarga besarnya mengadakan molodan di rumah asal, tempat ia lahir dan dibesarkan.

Apa yang menjadi dasar kebahagiaan manusia Madura merayakan molodan setiap tahun? Sebagaimana diketahui, lebih dari 8000 kilometer rentang jarak antara tanah Arab dan Nusantara. Berdasarkan sensus Badan Pusat Statistik 2014, jumlah penduduk muslim di Madura 3,7 juta jiwa atau setara dengan 99,4 persen dari total penduduk. Tatkala diberikan nikmat mencecap karunia kubro ini berupa iman Islam dari sang pembawa risalah, wajar muncul perasaan utang rasa, utang budi, dan seterusnya kepada Sang Nabi. Molodan, sekali lagi adalah salah satu bentuk ekspresi kebersyukuran dan terima kasih atas nikmat besar dari-Nya, diberikan kesempatan merasakan ajaran luhur yang diyakini sebagai agama terakhir.

Menurut sejarah, Sayyidina Muhammad ibn Abdullah, dilahirkan di tengah keluarga Bani Hasyim pada Senin pagi 12 Rabiulawal (ada beberapa kitab menyebutkan tanggal 9) pada permulaan tahun Gajah. Merujuk kitab Sirah Nabawiyah karangan Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri, hari itu bertepatan dengan 20 atau 22 April 571 Masehi berdasarkan penelitian ulama Al Manshurfuri dan pakar astronomi Mahmud Basya.

Terentang jarak sekitar 15 abad dari kelahiran manusia agung itu hingga abad ke-21 saat ini, namun ajaran Islam ini masih sangat relevan hingga saat ini, likulli makan wa likulli zaman. Memang benar, Rasulullah tidak pernah memberikan contoh untuk merayakan kelahirannya. Namun sebagai pengikut Beliau yang mulia, apa salahnya kita mensyukuri dan terus mengingat seluruh jasa kebaikan yang ditanamkan.

Di balik tradisi molodan, tersembul beberapa nilai hikmah. Pertama, nilai moral religius. Ekspresi atas lahirnya Sang Nabi merupakan bentuk cinta, kebahagiaan juga penghormatan terhadap junjungan. Innallaha wa malaikatahu yusholluna alan nabi ya ayyuhalladzina amanu shollu alaihi wasallimu taslima (QS Al Ahzab: 56). Allah SWT dan malaikat saja memberi penghormatan kepada Nabi, apatah manusia biasa seperti kita sekalian. Di sana juga menyeruak selirik doa agar ikhtiar kecil berupa molodan ini dapat mengantarkan pada datangnya cinta yang serupa dari Rasulullah kelak. Di dalamnya juga hadir tawasau bil haqq, saling mengingatkan tentang ajakan untuk tidak sekadar mencintai sosoknya, namun juga mengamalkan seluruh ajaran Islam yang diajarkan.

Kedua, nilai sosial. Molodan mengingatkan kita untuk memupuk nilai kebersamaan antar tetangga dan kerabat. Di sana juga terdapat unsur saling berbagi melalui sedekah atas rezeki yang diterima. Tidak hanya rezeki materi semata, puncaknya adalah rezeki Iman Islam yang hidup dalam sanubari. Fabiayyi alai robbikuma tukazziban.

Waba’du, pada akhirnya, mari kita semua dengan rendah hati untuk senantiasa mengharap keridaan-Nya dan syafaat Rasul-Nya. Allahumma sholli ala sayyidina muhammad, wa ala alihi wa shohbihi wa sallim. 

*)Pembelajar, tinggal di Jurusan Akuntansi FEB Universitas Trunojoyo Madura

(mr/*/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia