alexametrics
24.4 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Ini Sepuluh Penyair Muda Indonesia yang Lolos Mastera 2017

JAKARTA – Bengkel Puisi Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) 2017 disambut antusias penyair. Panitia menerima kiriman 1.400 puisi dari 700 penyair dari berbagai daerah di Indonesia. Dari ratusan penyair tersebut kemudian oleh kurator diperas hingga menyisakan sepuluh orang.

Ribuan puisi karya ratusan penyair itu dikurasi oleh  Mahwi Air Tawar, F. Moses, dan Abd. Rohim. Mereka memutuskan sepuluh penyair yang lolos untuk mengikuti program Bengkel Penulisan Mastera 2017 di Bogor pada 7–13 Agustus 2017.

Sepuluh penyair itu adalah Ahmad Ginanjar, Cianjur, Jawa Barat; Julaiha Sembiring, Medan, Sumatera Utara; Indrian Koto, Padang, Sumatera Barat; Ricky Syah R., Aceh; Dimas Radjalewa, Maumere, Nusa Tenggara Timur; dan Muhammad de Putra, Riau. Empat penyair lainnya adalah Matroni Muserang, Sumenep, Jawa Timur; Iqbal H. Saputra, Bangka Belitung; Gaudiffridus Usnaat, Papua; dan Sarah Monica, Jakarta.

Bengkel Puisi Mastera tak hanya diikuti penyair Indonesia, tapi juga dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand. Penyair terpilih tak hanya akan didampingi instruktur dari Indonesia.

Mereka juga akan berinteraksi dan bertukar wawasan serta wacana dengan peserta dan instruktur dari empat negara tersebut. Instruktur dari Indonesia terdiri atas Agus R. Sarjono, Acep Zamzam Noor, Cecep Syamsul Hari, dan Joko Pinurbo.

Baca Juga :  Anggaran Legalisasi Budaya Capai Rp 536 Juta

Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Mahwi Air Tawar mengungkapkan, menentukan sepuluh penyair itu bukan pekerjaan mudah. Kurator tak hanya membaca 1.400 puisi itu. Kurator juga diam-diam mencari dan menggali informasi tentang kesepuluh penyair terpilih.

Penelusuran itu, misalnya, terkait peran si penyair di daerah asal, dalam komunitas dan gerakan literasi, dan dalam dunia kesenian. ”Mungkin akan lebih mudah jika tugas kurator hanya mencari puisi yang paling bagus, pernah dimuat di media massa atau dibukukan. Namun, sebagaimana dikatakan sastrawan Rendra, percuma membaca buku dan menulis jika tak berperan aktif dalam kehidupan,” ungkap Abd. Rohim dalam keterangan tertulisnya Senin (17/7).

Karena itu, nama-nama maupun karya kesepuluh penyair terpilih tidak semua terkenal dan memiliki karya istimewa. Salah seorang penyair terpilih Gaudiffridus Usnaat dari Papua. Dia bukanlah penyair yang puisi-puisinya kerap dimuat di media massa, baik cetak maupun online, apalagi diterbitkan dalam bentuk buku.

Namun, perannya dalam mengembangkan minat baca dan melakukan gerakan literasi di pedalaman Papua adalah suatu upaya yang patut diapreasiasi. Dia tinggal di sebuah daerah yang untuk sekadar mendapatkan sinyal handphone dalam rangka mengirimkan puisi-puisinya saja harus berjalan kaki selama 1,5 jam.

Baca Juga :  Ini Para Juara Lomba Fotografi Sumenep Batik on The Sea 2018

”Puisi-puisinya itu ia kirimkan kepada temannya di Surabaya yang membantu mengetik ulang dan mengirimkan kepada panitia Bengkel Puisi Mastera 2017,” tutur Mahwi.

Moses menambahkan, kurator punya alasan lain dalam menentukan sepuluh penyair dari 700 orang lainnya. Dia menegaskan, kurator tidak hanya memilih puisi. ”Kurator juga menentukan sikap atau sosok generasi penyair saat ini dalam segala medan sayapnya bagi suatu masyarakat, khususnya komunitas,” jelasnya.

Setelah mengikuti Bengkel Puisi Mastera, kesepuluh penyair terpilih diharapkan dapat berbagi proses dan pemahaman baik di komunitas maupun lembaga-lembaga formal. Mahwi menekankan, mereka tak kalah penting mau menyerap pengetahuan yang tak semata-mata bersumber dari buku, tapi juga dari pergumulan dan pergaulan dalam kehidupan sosial. Semua itu nanti bisa menjadi bahan untuk menulis puisi, cerpen, maupun novel.

”Kepada para penyair terpilih, kami ucapkan selamat. Sampai jumpa dalam pelaksanaan program Bengkel Penulisan Mastera 2017,” tandas Mahwi.

- Advertisement -

JAKARTA – Bengkel Puisi Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) 2017 disambut antusias penyair. Panitia menerima kiriman 1.400 puisi dari 700 penyair dari berbagai daerah di Indonesia. Dari ratusan penyair tersebut kemudian oleh kurator diperas hingga menyisakan sepuluh orang.

Ribuan puisi karya ratusan penyair itu dikurasi oleh  Mahwi Air Tawar, F. Moses, dan Abd. Rohim. Mereka memutuskan sepuluh penyair yang lolos untuk mengikuti program Bengkel Penulisan Mastera 2017 di Bogor pada 7–13 Agustus 2017.

Sepuluh penyair itu adalah Ahmad Ginanjar, Cianjur, Jawa Barat; Julaiha Sembiring, Medan, Sumatera Utara; Indrian Koto, Padang, Sumatera Barat; Ricky Syah R., Aceh; Dimas Radjalewa, Maumere, Nusa Tenggara Timur; dan Muhammad de Putra, Riau. Empat penyair lainnya adalah Matroni Muserang, Sumenep, Jawa Timur; Iqbal H. Saputra, Bangka Belitung; Gaudiffridus Usnaat, Papua; dan Sarah Monica, Jakarta.


Bengkel Puisi Mastera tak hanya diikuti penyair Indonesia, tapi juga dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand. Penyair terpilih tak hanya akan didampingi instruktur dari Indonesia.

Mereka juga akan berinteraksi dan bertukar wawasan serta wacana dengan peserta dan instruktur dari empat negara tersebut. Instruktur dari Indonesia terdiri atas Agus R. Sarjono, Acep Zamzam Noor, Cecep Syamsul Hari, dan Joko Pinurbo.

Baca Juga :  Ketika Seni Humanisme Santri Didaur Ulang

Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Mahwi Air Tawar mengungkapkan, menentukan sepuluh penyair itu bukan pekerjaan mudah. Kurator tak hanya membaca 1.400 puisi itu. Kurator juga diam-diam mencari dan menggali informasi tentang kesepuluh penyair terpilih.

Penelusuran itu, misalnya, terkait peran si penyair di daerah asal, dalam komunitas dan gerakan literasi, dan dalam dunia kesenian. ”Mungkin akan lebih mudah jika tugas kurator hanya mencari puisi yang paling bagus, pernah dimuat di media massa atau dibukukan. Namun, sebagaimana dikatakan sastrawan Rendra, percuma membaca buku dan menulis jika tak berperan aktif dalam kehidupan,” ungkap Abd. Rohim dalam keterangan tertulisnya Senin (17/7).

Karena itu, nama-nama maupun karya kesepuluh penyair terpilih tidak semua terkenal dan memiliki karya istimewa. Salah seorang penyair terpilih Gaudiffridus Usnaat dari Papua. Dia bukanlah penyair yang puisi-puisinya kerap dimuat di media massa, baik cetak maupun online, apalagi diterbitkan dalam bentuk buku.

Namun, perannya dalam mengembangkan minat baca dan melakukan gerakan literasi di pedalaman Papua adalah suatu upaya yang patut diapreasiasi. Dia tinggal di sebuah daerah yang untuk sekadar mendapatkan sinyal handphone dalam rangka mengirimkan puisi-puisinya saja harus berjalan kaki selama 1,5 jam.

Baca Juga :  Wartawan JPRM Raih Anugerah Sastera Rancagè 2021

”Puisi-puisinya itu ia kirimkan kepada temannya di Surabaya yang membantu mengetik ulang dan mengirimkan kepada panitia Bengkel Puisi Mastera 2017,” tutur Mahwi.

Moses menambahkan, kurator punya alasan lain dalam menentukan sepuluh penyair dari 700 orang lainnya. Dia menegaskan, kurator tidak hanya memilih puisi. ”Kurator juga menentukan sikap atau sosok generasi penyair saat ini dalam segala medan sayapnya bagi suatu masyarakat, khususnya komunitas,” jelasnya.

Setelah mengikuti Bengkel Puisi Mastera, kesepuluh penyair terpilih diharapkan dapat berbagi proses dan pemahaman baik di komunitas maupun lembaga-lembaga formal. Mahwi menekankan, mereka tak kalah penting mau menyerap pengetahuan yang tak semata-mata bersumber dari buku, tapi juga dari pergumulan dan pergaulan dalam kehidupan sosial. Semua itu nanti bisa menjadi bahan untuk menulis puisi, cerpen, maupun novel.

”Kepada para penyair terpilih, kami ucapkan selamat. Sampai jumpa dalam pelaksanaan program Bengkel Penulisan Mastera 2017,” tandas Mahwi.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/